18 September, 2018
  • 18 September, 2018

Sholat Malam

By on 17 Maret, 2012 0 64 Views

 

Munajat Sang Budak

 

     Syahdan. Ada seseorang yang membeli budak. Si budak mengajukan permohonan, “Wahai Tuan! Saya minta Anda memenuhi tiga persyaratan: Pertama, bila telah tiba waktu sholat, Anda tidak boleh menghalangi saya untuk melaksanakan sholat. Kedua, saya hanya akan melayani Anda di siang hari saja, sementara di malam hari Anda tidak boleh minta dilayani. Ketiga, saya mohon disediakan satu tempat khusus yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun.” Sang majikan menyangupi semua persyaratan yang diajukan.

 

“Silahkan kau lihat-lihat dulu kamar-kamar ini”. Ia-pun berkeliling kamar-kamar majikannya hingga ia berhenti di sebuah kamar yang sudah reot. Ia menjatuhkan pilihan pada kamar reot itu. Sang majikan bertanya keheranan: “mengapa kau memilih kamar yang sudah hampir roboh ini?”

“Tuanku, tidakkah Anda tahu bahwa kamar reot-pun bila jadikan sarana mendekat kepada Allah akan menjadi kamar yang makmur, indah, serta penuh dengan taman dan kebun-kebun.”

 

Bila malam tiba, si budak mulai menempati kamar tersebut. Suatu malam, sang majikan mengadakan perkumpulan untuk minum-minum dan hiburan. Menjelang tengah malam, teman-temannya bubar satu persatu. Si tuan berkeliling rumahnya hingga pandangannya tertuju pada kamar si budak. Ajaib, di sana ia melihat sebuah pelita cahaya yang tergantung di langit dan tembus ke kamar tersebut.

 

Sementara si budak sedang khusyu’ bersujud dan bermunajat kepada Allah swt, “Tuhanku, Engkau mewajibkan diriku melayani majikan-ku di siang hari. Andai saja tidak demikian, pasti siang malam aku hanya akan mengabdi kepadamu. Ampunilah hambamu ini wahai Tuhanku!”.

 

Si majikan terus memperhatikan budaknya sampai fajar menyingsing. Lampu pelita itu diangkat ke atas langit dan atap kamar itupun kembali menyatu. Ia menceritakan semua kejadian itu pada istrinya. Malam berikutnya, si majikan dan istrinya memperhatikan kamar budak. Pelita cahaya kembali tergantung di atap dan si budak sedang sujud bermunajat hingga fajar terbit. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, “Kau merdeka karena Allah swt. Agar kau bisa melayani sepenuhnya terhadap orang yang kau meminta maaf padanya”. Mereka juga menceritakan karomah-karomah yang mereka lihat dari dirinya.

Saat mendengar penuturan majikannya, si budak berkata seraya mengangkat kedua tangannya, “Tuhanku, Aku telah memohon kepadamu untuk tidak membuka rahasia-ku dan menampakkan derajat-ku kepada siapapun. Karena telah kau buka rahasia-ku, cabutlah nyawaku”. Ia-pun pingsan, Kemudian meninggal dunia. Semoga Allah me-rahmati-nya.

 

Diterjemahkan dari kitab An-Nawadir oleh Helmi, S.S.

Pesantren Wisata An Nur II Al Murtadlo

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: