annur2.net – Hijriah memasuki tahun baru. Tahun ajaran pendidikan juga memasuki masa baru. Kamis, 11 Juli An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) melantik pengurus baru. Acara berlangsung di masjid utama An-Nur II, dengan tiga ribu santri yang menyaksikan pelantikan tersebut.
Pelantikan ini untuk semua pengurus baik kepala kamar maupun non kepala kamar. Penyemat langsung dari keluarga ndalem Pondok An-Nur II. Hari itu menjadi momen penerimaan tongkat estafet generasi, menandakan perpindahan tanggung jawab dari pengurus lama kepada yang baru. Pastinya, Pengasuh Pondok An-Nur II memberikan pesan dan nasihat kepada mereka sebagai bekal menjalankan amanah dari Pondok Pesantren.
“Jadilah kalian itu pembantu, karena pembantu itu adalah predikat yang lebih mulia daripada raja,” itulah ucapan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Bukan pembantu yang berarti pekerjaan yang mengurus rumah tangga, Kiai Fathul Bari menisbatkan kata “pembantu” ini dengan ungkapan, “سيد القوم خادمهم (Pemimpin suatu kaum adalah pembantu mereka)”.
Selain itu, pengurus juga termasuk pemimpin yang mengabdi untuk keluarga pengasuh dalam membantu mengurus pondok pesantren. Beliau berpesan, “Jadilah kalian itu pemimpin yang ada huruf N-nya di belakang, dan N itu singkatan daripada ngabdi (mengabdi).” Pasalnya jika menjadi pemimpin tanpa pengabdian, maka huruf N tersebut akan hilang dan hanya menjadi seorang pemimpi.
Sifat Rasul sebagai Bekal Pengurus Baru
Setelah itu, Kiai Fathul berharap, “Kalian adalah orang-orang yang terdidik dengan ilmu agama. Maka Insyaallah, para pengurus ini, di samping pengurus, Insyaallah di hadapan Allah dicatat sebagai para ulama.” Ulama adalah pewaris para nabi. Oleh karena itu, Kiai Fathul berharap, selaku pewaris, maka haruslah mengamalkan apa yang para nabi miliki, yaitu sifat-sifat nabi dan rasul.
Sifat yang pertama adalah shiddiq atau jujur. Berlandaskan kisah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani pada masa kecilnya, yang mana ibu beliau menyuruh Syekh Abdul Qodir untuk selalu jujur ketika akan berangkat ke Mekah. Singkat cerita, dengan kejujurannya, Syekh Abdul Qodir membuat sekelompok perampok bertaubat. Kemudian, Kiai Fathul mengatakan bahwa orang-orang bisa menjadi baik dengan pemimpin yang berbekal kejujuran.
Lalu, sifat kedua adalah amanah. “Apa yang tadi sudah dibacakan, mulai dari baiat ataupun posisi dan jabatan, itu harus ditunaikan dengan penuh amanah. Jangan pernah berkhianat,” ucap Kiai Fathul. Harapannya, kekalahan saat Perang Uhud karena melanggar perintah tidak terjadi kepada para pengurus.
Ketiga, tablig. Maksudnya menyampaikan apapun yang ia tahu kepada orang lain. Kiai Fathul Bari menerangkan hubungan sifat tablig dengan para pengurus. Beliau menyampaikan, “Maka tatkala ada anak buah melakukan kesalahan, jangan jemu-jemu untuk memberikan nasihat.” Sebanyak apapun nasihat untuk seseorang yang berbuat salah pasti ada satu nasihat yang menjadi perantara Allah membuka hatinya dan mendapat hidayah.
Sifat terakhir yaitu fathanah, pintar atau cerdas. “Seorang pengurus itu harus pintar, dan pintar itu kalau seseorang itu terus meng-upgrade ilmunya,” ungkap beliau. Beliau menambahkan kutipan kalimat dari Said bin Jubari yang mengatakan, “Seseorang dianggap sebagai orang alim selama ia mau belajar. Ketika ia tidak mau lagi belajar, ia menganggap ilmunya cukup, maka ia menjadi orang paling bodoh.”
Acara ini menunjukkan bahwa para pengurus tahun ajaran telah siap mengemban amanah dan tanggung jawab mereka kepada Pondok An-Nur II. Semoga pengabdian mereka bisa menjadi berkah dan menjadi bekal terjun ke lingkungan masyarakat.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
