Jejak Perjalanan Kiai Badruddin Menempuh Pendidikan

Dari balik tembok pesantren tua, R. KH. Muhammad Badruddin Anwar mencari ilmu ke berbagai tempat. Tidak banyak yang tahu kisah perjalanan beliau mencari ilmu. Berikut adalah kisah singkat Kiai Badruddin dalam menempuh pendidikan. KH. Muhammad Badruddin Anwar adalah putra sulung dari pasangan KH. Anwar Nur dengan Ny. Hj. Aisyah. Beliau lahir tepat pada 2 April 1942 di Kota Malang.

Awal perjalanan beliau mencari ilmu di MI NU Bululawang yang terletak di Jalan Suropati, Kec. Bululawang, Kab. Malang. Perkiraan Kiai Bad masuk ke jenjang MI/SD pada tahun 1948, karena pada tahun 1950 Mbah Ushul (sahabat Kiai Bad) itu duduk di kelas dua sedangkan Kiai Bad menginjak kelas tiga MI/SD. Kiai Bad kecil suka kegiatan melatih kepemimpinan dan ketangkasan. Setiap jam istirahat di sekolah beliau selalu bermain sepakbola dan juga mengikuti kegiatan pramuka.

Selain belajar di MI NU Bululawang, beliau juga ngaji privat bersama Kiai Anwar setelah Kiai Anwar mengajar kitab kuning kepada para santri. Kiai Bad bersama saudara-saudaranya sudah menunggu di ndalem. Dalam mengajar, Kiai Anwar menekankan pada Al-Quran dan perihal ibadah. Ketika sudah menguasai keduanya baru Kiai Anwar mengajarkan kitab kuning untuk bekal mondok. Pada saat itu Kiai Bad suka berbaur dengan santri-santri, sampai tidak pernah absen di setiap kegiatan.

Awal Berangkat ke Sidogiri

Enam tahun berlalu, Kiai Bad berangkat mondok ke Pesantren Sidogiri masuk sekitar tahun 1955 menurut KH. Muzakki Birul Alim, teman seangkatan beliau. Kiai Bad masuk ke kelas tiga atau empat Madrasah Ibtidaiah. Beliau lulus di tahun 1959 dan melanjutkan ke jenjang Tsanawiyah. Pada masa itu masyaikh yang masih mengajar adalah KH. Cholil Nawawi sekaligus pengasuh utama, KH. Abdul Adzim, dan KH. Hasani.

Pada awal mondok, beliau tidak betah sampai mengajak Mbah Ushul sahabat karibnya untuk menemaninya. Mbah Ushul yang masih santri An-Nur meminta izin ke Kiai Anwar. Kiai Anwar pun mengizinkan Mbah Ushul untuk menemani Kiai Bad mondok di Sidogiri. Di Sidogiri, kamar Kiai Bad di C11 yang berada di kompleks C lantai dua yang sekarang menjadi asrama santri penghafal hadis. Teman sekamar beliau tidak lebih dari dua belas santri. Salah satunya adalah adik beliau, KH. Qusyari Anwar. Meskipun sekamar, Kiai Qusyairi tetap menjadi adik kelas Kiai Bad.

Selain Kiai Qusyairi, ada KH. Ahmad Bafadhol Damhuji yang juga mondok di Sidogiri. Beliau menjadi adik kelas Kiai Badruddin. Asrama Kiai Damhuji pada saat itu di daerah B, yang sekarang menjadi asrama bahasa asing. Selain itu, beliau merupakan salah satu saksi perjuangan Kiai Badruddin selama mondok di Sidogiri.

Bangunan C11 itulah menjadi saksi bisu sejarah Kiai Bad. Di dalam bangunan itu Kiai Bad pernah menangis, belajar, dan melakoni berbagai tirakatan. Kiai Bad terkenal sebagai santri yang aktif, cerdas, dan keramat, sampai-sampai beliau mendapat julukan Macane Sidogiri.

Kiai Badruddin mondok di Sidogiri selama dua kali. Kali pertama mondok mulai kelas tiga atau empat Madrasah Ibtidaiah sampai lulus di jenjang Tsanawiyah dan melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Di sana beliau tidak mengambil kelas tapi hanya mengikuti pengajian umum dan musyawarah. Perkiraan Kiai Bad mondok di Pondok Al-Falah sekitar tiga sampai empat tahun.

Kali Kedua Menempuh Pendidikan di Sidogiri

Sesudah itu, Kiai Bad kembali Ke Sidogiri selama satu sampai dua tahun lebih. Pada kali kedua ini kiai Bad menjadi guru kelas 2 Tsanawiyah A. Beliau mengajar kitab Bulugh Al-Maram. Meskipun sudah menjadi guru, beliau tetap menghuni asrama Daerah C, asrama yang beliau huni ketika masih menjadi santri.

Sekitar tahun 1966-1967, Kiai Bad mempunyai keinginan boyong dan mengakhiri perjalanan mondoknya di Pesantren Sidogiri. Beliau menyampaikan keinginannya kepada Kiai Anwar Nur. Beliau pun menuruti permintaan putra sulungnya. Ketika Kiai Bad telah mengemas barang-barangnya, ternyata pengasuh Sidogiri yang pada saat itu ialah KH. Sa’doellah Nawawie menyuruh Kiai Bad untuk tidak pulang dahulu sampai beliau memanggilnya. Mengetahui hal itu, Kiai Anwar pun pulang terlebih dahulu.

Kiai Badruddin tetap mematuhi perintah kiainya, berhari-hari beliau menunggu panggilan dari Kiai Sa’doellah tapi tak kunjung mendapat panggilan. Satu bulan lebih berlalu panggilan tersebut tak kunjung tiba. Kiai Bad pun berinisiatif untuk sowan karena takut Kiai Sa’doellah lupa. Saat di hadapan Kiai Sa’doellah, Kiai Bad bertanya, “Yai, kapan saya pulang?” Kiai Sa’doellah menjawab, “Lo, kan nunggu saya panggil, kenapa belum saya panggil sudah datang? Ya tunggu, Kembali lagi.”

Akhirnya Kiai Bad kembali ke kamarnya menunggu panggilan dari Kiai Sa’doellah lagi. Sekitar satu bulan berlalu, Kiai Bad kembali sowan sebab takut Kiai Sa’doellah lupa.  Tetapi beliau tetap menerima jawaban yang sama. Maka dari itu Kiai Bad pun berpikir bahwa dia harus mondok lagi untuk tirakatan.

Setelah menunggu izin selama enam bulan, akhirnya Kiai Sa’doellah memanggil beliau dan berkata, “O yawes, wes wayah e mulih (O ya sudah, sudah waktunya pulang).” Atas izin itu Kiai Badruddin pulang ke Bululawang. Pada tahun 1968 beliau mendirikan MTS An-Nur. Sebelas tahun kemudian tepat pada tahun 1979, Kiai Badruddin mendirikan Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo.

(ABU RAIHAN E./MEDIATECH ANNUR II) 

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK