Sejarah Tahun Kabisat: 366 Hari Setahun

Sejarah Tahun Kabisat: 366 Hari Setahun

Banyak orang mengetahui satu tahun ada 365 hari. Satu tahun merupakan waktu satu putaran revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Nyatanya tidak seperti itu. Umumnya, Bumi mengelilingi Matahari membutuhkan waktu 365,24219 hari atau 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik. Waktu ini disebut dengan tahun tropis, tahun matahari, tahun astronomi, atau tahun ekuinoks. Artinya Bumi memiliki waktu tambahan seperempat hari atau enam jam untuk mengelilingi Matahari satu putaran.

Untuk menyempurnakan enam jam sisa waktu itu terdapat penambahan sehari setiap empat tahun sekali. Enam jam dalam empat tahun sama dengan 24 jam atau satu hari penuh. Satu hari tersebut ditambahkan ke dalam bulan Februari sehingga menjadi 29 hari seperti tahun 2024. Hal ini juga mempengaruhi jumlah hari menjadi 366 hari setiap empat tahun yang disebut tahun kabisat. Tanggal 29 Februari itu juga disebut hari kabisat.

Sosigenes Alexandria, Perancang Kalender Julian

Tahun kabisat merupakan metode penggenapan hari pada suatu tahun yang berdasar pada penemuan seorang astronom bernama Sosigenes Alexandria atas perintah Julius Caesar. Ia lah yang mencetuskan waktu revolusi Bumi membutuhkan waktu 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik atau 365,24219 hari. Penghitungan tersebut menjadi acuan pada masa sekarang yang disebut tahun tropis. Tidak langsung menjadi acuan, penghitungan Sosigenes tetap membutuhkan proses hingga menjadi rujukan.

Awalnya, kalender yang digunakan masyarakat di dunia bermacam-macam. Dari web timeanddate.com, ada kalender Persia, Julian, Maya, Gregorian, Yahudi, dan Koptik. Namun semua kalender tersebut memiliki kesalahan dalam perkiraannya. Kesalahan kalender tersebut karena adanya perbedaan waktu dengan kalender tropis atau rujukan kepada penghitungan Sosigenes. Contohnya kalender Julian memiliki perbedaan 11 menit per tahun sehingga akan ada kesalahan setiap 128 tahun.

Meski begitu, sistem penghitungan waktu tahunan yang masyarakat gunakan pada zaman dahulu mengacu pada penghitungan Sosigenes Alexandria, yaitu 365,25 hari. Tetapi hitungan tersebut berpengaruh pada musim yang datang lebih lambat. Untuk mengatasinya, Kaisar Julian Caesar menambahkan satu hari setiap empat tahun sekali. Penanggalan inilah yang disebut kalender Julian.

Namun, ada yang menemukan kalender Julian terjadi kesalahan hitungan sebanyak 10 hari dari tanggal matahari pada tahun 1570-an. Penanggalan ini pun tidak tepat dengan datangnya musim setiap tahun. Termasuk hari Paskah terus menjauh dari tanggal yang seharusnya. Harusnya hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah tanggal 21 Maret. Jika terjadi kesalahan pada kalender, maka penentuan hari seperti ini akan semakin menjauh juga.

Transisi Kalender Julian ke Gregorian

Kemudian, pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII bersama ahli fisika Aloysius Lilius dan ahli astronomi Christopher Clavius membuat sistem penanggalan yang baru dengan merevisi kalender Julian. Kalender buatan mereka disebut kalender Gregorian.

Dari website timeanddate.com, kalender Gregorian memiliki rata-rata panjang tahun 365,2425 hari dengan perkiraan kesalahan 27 detik per tahun. Rata-rata itu sangat mendekati penemuan Sosigenes Alexandria. Kalender Gregorian pun menjadi dasar pembuatan kalender Masehi saat ini. Alasannya mungkin karena kalender Gregorian memiliki kemungkinan salah yang paling sedikit dan pencetusannya masih baru.

Setelah itu, Paus Gregorius XIII mengubah algoritma penambahan hari setiap empat tahun sekali menjadi penambahan satu hari pada tahun yang angkanya habis terbagi empat dan 400. Selain itu, tahun tersebut akan termasuk kabisat. Jadi tahun 1700 pada kalender Julian termasuk kabisat, sedangkan pada kalender Gregorian tidak termasuk. Paus Gregorius XIII juga mengganti tahun baru yang semula 25 Maret menjadi 1 Januari.

Lebih jelasnya, ada algoritma untuk mengetahui suatu tahun termasuk kabisat atau tidak. Berikut adalah algoritmanya:

  1. Jika angka tahun habis terbagi 400, maka pasti tahun itu kabisat.
  2. Jika angka tahun tidak habis terbagi 400 tapi habis terbagi 100, maka bukan tahun kabisat.
  3. Jika angka tahun tidak habis terbagi 400 dan 100, tapi habis terbagi 4, maka tahun kabisat.
  4. Jika angka tahun tidak habis terbagi 400, 100, maupun 4, maka pasti bukan tahun kabisat.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Sumber:

https://timeanddate.com/astronomy/tropical-year.html

https://www.timeanddate.com/date/leapyear.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_kabisat

https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorius

https://kumparan.com/berita-hari-ini/tahun-kabisat-pengertian-sejarah-dan-faktor-penyebabnya-1zuuX5fdQUK/3

https://www.gramedia.com/literasi/perbedaan-kalender-masehi-dan-hijriah/

https://www.nu.or.id/tokoh/al-biruni-ilmuwan-muslim-penghitung-pertama-keliling-bumi-dfGdV

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK