Pasar Waqiah Ramadan: Kenikmatan Mencari Ilmu

Pasar Waqiah Ramadan: Kenikmatan Mencari Ilmu

Pasar Waqiah Malam Ke-7 Ramadan

Pada pengajian Pasar Waqiah kali ini Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., menerangkan kisah seorang pemuda asal kota Madinah yang memiliki tekad kuat untuk mencari ilmu terutama mencari hadis Nabi Muhammad saw.

Dia bernama Katsir bin Qais. Ia rela menempuh perjalanan jauh dari kota asalnya ke kota Damaskus hanya untuk menemui seorang sahabat Nabi. Bukan tanpa alasan yang umum ia pergi jauh untuk mencari hadis Nabi ke sahabat Nabi yang bernama Abu Darda’. Perjalanan Katsir lebih dari 1.000 km, dia bertemu dengan Abu Darda’ di suatu masjid yang terletak di Damaskus.

Setelah menyampaikan tujuannya untuk mencari hadis Nabi, Abu Darda’ pun menyampaikan hadis yang ia peroleh dari Nabi Muhammad saw.

Hadis-Hadis Nabi dari Abu Darda’

Abu Darda’ menyampaikan hadis pertama sebagai berikut:

من سلك طريقاً يطلب فيه علماً سلك الله به طريقاً من طرق الجنة، وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضاً بما يصنع

Artinya, “Barang siapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah mempermudah baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu.”

Dari hadis pertama ini kita dapat menemukan satu keutamaan penuntut ilmu yaitu Allah memudahkan jalannya ke surga dan Malaikat akan rida dengan hal itu. Kemudian Abu Darda’ menyampaikan hadis kedua yang menyebutkan keutamaan lain dari mencari ilmu. Hadis tersebut yaitu,

وإن العالم ليستغفر له من في السموات ومن في الأرض، حتى الحيتان في جوف الماء

Artinya, “Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air.”

Ampunan untuk Para Pencari Ilmu

Keutamaan yang kedua yaitu semua yang ada di bumi memintakan ampun untuk seorang penuntut ilmu. Dalam hadis tersebut, Nabi mencontohkan hewan dengan ikan. Mengapa demikian? Karena ikan saja yang tidak bisa berbicara dengan suara membacakan istigfar untuk penuntut ilmu apalagi hewan yang bisa berbicara seperti halnya ayam.

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Artinya: “Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang.”

Jika orang yang berilmu dengan ahli ibadah itu sama-sama baik tetapi ketika dibandingkan orang yang berilmu ibaratnya purnama di atas semua bintang-bintang. Sesudah hadis di atas, Abu Darda’ menyampaikan hadis yang terakhir. Hadis tersebut sebagai berikut:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ

Artinya, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu.”

Nabi Muhammad tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu. Ada kisah sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw., yang mana masjid-masjid mulai sepi. Abu Hurairah yang mengetahui hal itu pergi ke pasar. Ketika di pasar ia berteriak bahwa di masjid ada pembagian warisan Nabi Muhammad saw. Seketika di pasar langsung sepi karena orang-orang takut tidak kebagian warisan Nabi.

Sesampainya di sana orang-orang langsung bertanya-tanya di mana ada pembagian warisan Nabi. Kemudian Abu Hurairah bertanya balik, “Memangnya ada apa di masjid?” Kemudian orang-orang  menjawab, “Di dalam masjid hanya ada pengajian.” Abu Hurairah berkata, “Ya, itu adalah warisan Nabi.” Itu semua merupakan hasil pencarian Katsir ke kota Damaskus.

Macam-Macam Penuntut Ilmu

 Nabi Muhammad saw., membagi para penuntut ilmu menjadi tiga yaitu:

  1. Tanah yang subur sesudah menerima air hujan, ini perumpamaan orang yang ilmunya bermanfaat.
  2. Tanah yang dapat menampung air (genangan-genangan air hujan), merupakan perumpamaan orang yang menyampaikan ilmunya kepada orang lain.
  3. Tanah yang tidak subur dan tidak dapat menampung air, perumpamaan orang yang mendapatkan ilmu tapi dirinya tidak dapat menerimanya.

Status Orang Mencari Ilmu

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Dalam hadis tersebut Nabi menganggap para penuntut ilmu itu sama saja orang yang berjihad di jalan Allah Swt.

Nabi juga bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari hadis di atas nabi mengatakan bahwa orang yang paham agama maka Allah berkehendak, rida kepadanya.

Kisah Ulama Besar Kota Damaskus

Kisah dari Syekh Muhammad Hisyam Al-Burhani.

Suatu hari ada tukang gali kubur yang dapat pesanan satu kuburan dari seorang ibu-ibu. Ketika pemakaman, ia berada di dalam liang lahat untuk menerima jenazah. Ketika hendak menaruh jenazah ia pingsan di dalam liang lahat.

Setelah sadar ia ditanya orang-orang kenapa bisa pingsan. “Saya pingsan karena takjub dengan apa yang saya lihat. Saya melihat pemandangan taman yang sangat indah yang belum pernah ada,” jawabnya. Semua orang tidak percaya dengannya.

Beberapa bulan kemudian ia mendapat pesanan lagi. Ketika pemakaman ia melihat pemandangan yang sama tapi kali ini ia tidak sampai pingsan. Tiba-tiba ia teringat kejadian bulan lalu bahwa yang memesan saat ini merupakan ibu-ibu yang sama dengan yang dulu. Menyadari hal itu ia mengejar ibu-ibu tersebut dan bertanya siapa yang meninggal pada bulan lalu dan hari ini.

Kemudian ibu itu menjawab, “Bulan lalu, yang meninggal adalah anak saya.” Tukang gali kubur kembali bertanya “Apa profesi anak ibu?” “Anak saya pencari ilmu,” jawab Sang Ibu. Kemudian ia bertanya lagi, “Terus siapa barusan yang dikubur?” “Itu anak saya juga, kakak dari yang meninggal bulan lalu. Profesinya tukang kayu dia yang menafkahi adiknya untuk mencari ilmu,” jawaban Sang Ibu lagi.

Mengetahui hal itu si tukang gali kubur langsung pensiun dan pergi ke Masjid Jami At-Taubah untuk mengaji. Meskipun ia sudah berumur 50 tahun dia tetap gigih ingin mengaji. Oleh karena kegigihannya, akhirnya ia menjadi ulama besar di Damaskus bernama Syekh Abdurrahman Al-Haffar.

Ilmu yang Hakiki

Ilmu yang hakiki merupakan ilmu yang berasal dari Nabi Muhammad saw., karena beliaulah yang menerima langsung wahyu dari Allah Swt. Jika kalian orang berilmu tidak perlu panggilan kiai, ustaz, dan sebagainya. Jika orang yang berilmu pasti kalian orang alim.

(ABU RAIHAN EFENDI/MEDIATECH ANNUR II)

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK