Kajian Tafsir: Hijrahnya Abdul Uzzah
“(41) Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (42) (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (Q.S. An-Nahl: 41-42)
***
Pada tahun 13 kenabian Nabi Muhammad saw., atau tahun 622 Masehi, Nabi dan sebagian umatnya berhijrah menuju kota Madinah. Mereka berhijrah karena kaum kafir menyakiti dan mencela mereka lebih dari yang sebelumnya. Hijrah juga merupakan perintah dari Allah Swt., yang bertujuan untuk menyebarkan Islam di Madinah.
Dalam hijrah terdapat banyak sekali pahala, karena hijrah ini bukan sekedar berpindah tempat dari Makkah ke Madinah, tapi mereka pindah setelah mendapat celaan dari kaum-kaum kafir. Untuk keluar dari Makkah juga tidaklah mudah, mereka harus meninggalkan harta benda mereka dan keluarga tercinta mereka.
Ketika di perjalanan menuju Madinah, mereka menghadapi jalanan yang terjal. Mereka bertahan dari teriknya sinar matahari, rasa haus, dan lapar. Belum sampai di Madinah mereka mendengar kabar, bahwa di Madinah saat ini sedang ada wabah penyakit demam yang bahkan bisa menyebabkan kematian. Wabah ini pula dapat membuat orang yang hamil keguguran, bahkan membuat seseorang menjadi mandul. Namun Nabi tetap masuk ke Madinah, meski beberapa sahabat terjangkit wabah tersebut tabib berhasil mengobati mereka, tentunya juga dengan bantuan doa dari Nabi.
Kisah Abdul Uzzah
Abdul Uzzah Al-Mazani, ia adalah seorang yatim yang miskin dan berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Pamannya merawatnya sejak kecil dan ketika ia beranjak dewasa ia tidak lagi menjadi orang yang miskin. Tatkala ia ingin berhijrah, pamannya marah-marah. Jika ia benar-benar ingin hijrah, ia tidak boleh membawa apapun, bahkan sehelai kain dari harta yang ia hasilkan dengan uang pamannya.
Abdul Uzzah menyanggupinya dan saat ia pergi untuk menemui ibunya, ibunya memberi sehelai kain yang ia potong menjadi dua seperti saat memakai kain ihram. Kemudian ia pergi ke rumah Nabi untuk memberitahukan hal yang ia alami. Pada saat itu pula, Nabi mengganti namanya menjadi Abdullah Dzul Hijadain, yang berarti Abdullah pemilik dua kain. Nabi mengganti namanya karena Abdul Uzzah berarti budaknya berhala, padahal ia sudah masuk ke agama Islam. Maka dari itu Nabi mengganti namanya menjadi Abdullah.
(Farkhan Wildana S./Mediatech)