Ibumu, Ibumu, Ibumu

ibu, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

Ibu, Ibu, Ibu,

One Day One Hadith

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Jahimah As-Salamy bahwasannya ayahnya, Jahimah pernah meminta izin untuk ikut berperang maka Nabi menanyakan keberadaan ibunya dan beliau bersabda:

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” [HR An-Nasa’i]

Catatan Alvers

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh. Lewati rintang untuk aku, anakmu. Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah. Seperti udara
kasih yang engkau berikan. Tak mampu ku membalas Ibu. Ibu…” Itulah lirik lagu yang begitu menyentuh dengan judul ibu yang dipopulerkan oleh Iwan Fals.

Dalam ajaran Islam, berbakti kepada ayah dan ibu bukan hanya sebagai bentuk balas jasa namun berbakti kepada mereka merupakan satu pekerti yang telah ditetapkan kewajibannya.  Allah SWT berfirman:   

وَقَضى رَبُّكَ أَلّا تَعبُدوا إِلّا إِيّاهُ وَبِالوالِدَينِ إِحسانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [QS Al-Isra: 23]

Sehingga kewajiban ini juga tetap berlaku meskipun kedua orangtua adalah orang yang musyrik, menyekutukan Allah SWT. Sang anak tetap diwajibkan berbuat baik kepada keduanya, meskipun sang anak tidak boleh menuruti perintah orangtua yang mengajaknya syirik. Allah SWT berfirman:   

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” [QS Al-Ankabut: 8]

Asma binti Abu bakar RA, berkata: “Ibuku menemuiku saat itu dia masih musyrik pada zaman Rasul SAW lalu aku meminta pendapat beliau.” Aku bertanya: “Ibuku membenci (agama Islam), apakah aku harus menjalin hubungan dengan ibuku?” Beliau menjawab:

نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

“Ya, sambunglah silaturahim dengan ibumu.” [HR Bukhari]

Perilaku berbakti telah dicontohkan sejak dari zaman dahulu oleh para Nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Yahya AS:

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

“Dan Dia (Yahya) sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.” [ QS Maryam : 14]

Nabi Nuh AS sangat sayang kepada orangtuanya sehingga beliau mendoakan mereka:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu, bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” [QS Nuh: 28]

Kewajiban berbakti kepada kedua orangtua itu berlaku terlebih kepada ibu.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang dan bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”

Lalu beliau menjawab:

أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

“Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, kemudian bapakmu, kemudian orang yang terdekat denganmu dan seterusnya.” [HR Muslim]

Hadis tersebut menunjukkan bahwa berbakti kepada ibu merupakan ¾ kebaktian. [Tafsir Al-Qurtubi] Menurut para ulama hal ini disebabkan karena ibu lebih banyak jerih payahnya, lebih menyayangi, lebih banyak melayani, lebih banyak menerima kesulitan ketika hamil, melahirkan, menyusui, mendidik, merawat ketika sakit dan seterusnya. Al-Harits Al-Muhasibi menukil ijmak ulama mengenai keberadaan ibu yang lebih diutamakan dalam kebaktian daripada ayah. [Fathul Bari]

Berbakti kepada ibu dicontohkan oleh Nabi Isa AS dimana ucapannya diabadikan oleh Allah SWT:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“Dan (Allah menjadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka.” [QS Maryam: 32]

Berbakti kepada ibu juga dicontohkan oleh para sahabat nabi. Di antaranya adalah Abu Hurairah, beliau yang meriwayatkan hadis, “Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, kemudian bapakmu” di atas. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Abu Hurairah RA keluar dan masuk rumah untuk mengunjungi ibunya setelah mengucap salam ia mendoakan ibunya:

رَحِمَكِ اللهُ كَمَا رَبَّيْتَنِي صَغِيْرًا

“Semoga Allah menyayangimu sebagaimana Engkau mendidikku sewaktu aku kecil.”

Lalu ibunya mendoakan balik:

رَحِمَكَ اللهُ كَمَا بَرَرْتَنِي كَبِيْرًا

“Semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau berbakti kepadaku sewaktu Engkau dewasa.” [Adabul Mufrad]

Ada juga sahabat Nabi yang lain. Di suatu malam, sang ibu meminta air minum lalu Ibnu Mas’ud RA bergegas mengambilkannya tapi ketika ia hendak memberikan air minum tersebut ternyata ia menemukan sang ibu dalam keadaan tertidur. Lalu Ia pun menunggu ibunya terbangun hingga pagi tiba (ia tidak membangunkan sang ibu, namun menunggu hingga sang ibu terbangun dengan sendirinya). [Ibnul Jawzi, Birrul Walidain]

Demikianlah, Islam memposisikan ibu pada posisi yang mulia bahkan surga berada di bawah telapak kakinya sebagaimana hadis utama di atas.

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa berbakti kepada kedua orangtua utamanya ibu. Semoga ibu kita semua diberi kesehatan, panjang umur dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Salam Satu Hadis

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK