Ngaji Tafsir: Proses Penciptaan Dunia dan Hikmahnya

Proses Penciptaan Dunia dan Hikmahnya

“(7) Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Hud: 7)

***

Yah, dunia itu tidak muncul dengan tiba-tiba saja. Apalagi dengan ketertiban dan kerapian yang sesempurna itu, tidak mungkin tidak ada yang mengaturnya. Sungguh, Allah SWT telah mengatur segalanya dengan baik. Kemudian apa saja efeknya nanti kepada manusia, sudah ada perhitungan di balik itu semua. Allah-lah tuhan sebenarnya yang memiliki kekuasan penciptaan.

Mungkin bagi para pemilik pertanyaan seperti, “Bagaimana alur penciptaan bumi dan langit?” Atau “Hari apa saja Allah menciptakan bumi dan langit?” Atau malahan memilki pertanyaan seperti ini, “Siapa yang membuat dunia ini?” Seumpama memang punya persoalan seperti itu, tulisan ini mungkin bisa menjadi kunci jawabannya.

Proses Penciptaan Dunia

Ayat itu sudah menjelaskan dengan jelas, Allah SWT adalah alasan bumi dan langit ada. Ini menunjukkan dua hal. Satu, bahwa Allah memang benar-benar ada. Meski Allah tidak menunjukkan wujud-Nya, bukan berarti Allah tidak ada. Dua, Allah adalah tuhan yang sesungguhnya, terciptanya dunia ini buktinya. Sebab tidak mungkin makhluk menciptakan dunia dengan teraturnya.

Penciptaan dunia ini prosesnya memakan beberapa hari. Beberapa ulama mengatakan jika lama hari Allah menciptakan semesta dengan hari-hari biasa yang manusia rasakan berbeda. Lamanya berbeda. Bukan mulai matahari terbit sampai terbenam. Akan tetapi satu harinya itu tenggatnya lebih lama lagi, sangat malahan.

Namun, mayoritasnya mengatakan bahwa harinya masih sama dengan hari yang manusia jalani. Tapi kan, saat itu masih belum ada matahari, bagaimana bisa tahu kalau waktunya sama dengan hari yang biasa. Yah, berarti, dengan memakai perkiraan saja. Kira-kira waktu seperti itu, sama dengan terbitnya dan terbenamnya matahari.

Dalam hadis ada perincian mengenai alur penciptaan dunia. Hari ini, apa yang muncul. apa yang mengisi dunia hari itu. Hari Sabtu, Allah mulai menciptakan tanah. Ahad, membuat gunung-gunung. Selama bumi tidak ada gunungnya, bumi selalu berguncang hebat. Lalu, ketika gunung-gunung itu terselesaikan, tenanglah bumi.

Seninnya, hutan-hutan mulai menghiasi bumi. Kejelekan, atau beberapa perkara yang tidak mengenakkan bermunculan di hari Selasa. Besoknya, cahaya tercipta. Makanya dalam Islam, hari yang baik dalam memulai belajar adalah hari Rabu. Sebab ilmu juga merupakan cahaya. Hari Rabu, hari terjelmanya cahaya.

Hari Kamisnya, beberapa hewan mulai menginjakkan kaki di dunia. Terakhir, hari Jumat. Jumat, telah menjadi pengetahuan umum, jika Nabi Adam terlahir pada hari itu. Benar sekali, hari Jumat adalah terciptanya manusia. Hari Jumat, dalam bahasa Arab artinya terkumpul. Hari itu, terkumpul sudah pengisi dunia.

Pelajaran di Balik Terciptanya Dunia

Di sini ada yang aneh. Allah SWT itu bukankah Tuhan yang memilki kekuasaan yang kuat? Bukankah Allah seharusnya mampu menciptakan dunia ini dalam sekejap? Kenapa harus pakai berhari-hari segala? Alasannya adalah untuk mencontohkan manusia bagaimana bersikap yang benar itu. Yaitu tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan segala urusan.

Mengajarkan kalau sifat instan itu tidak ada. Seumpama menginkan sesuatu perlu yang namanya sebuah usaha, proses. Bahkan mi instan saja masih butuh untuk direbus. Lalu setelah matang, buka dulu bumbunya. Campurkan mienya dengan bumbu, dan barulah mi instan bisa tersedia. Tidak seinstan itu kan?


Allah SWT membangun bumi dan langit beserta segala isinya. Kemudian di tangan manusia, isi dan manfaat-manfaat yang ada di bumi mereka olah menjadi apapun. Tujuannya dari terbentuknya itu semua adalah untuk ujian seluruh insan. Untuk menentukan siapa yang memiliki amal terbaik.

Allah SWT terbukti dalam ayat tujuh Surah Hud ini, lebih mementingkan kualitas dari kuantitas. Makanya tertuliskan di situ, siapa yang memiliki amal terbaik bukan amal yang terbanyak. Ini merupakan sebuah pesan, seharusnya manusia itu lebih memedulikan bagaimana beribadah dengan taraf tinggi. Bukannya ibadah semrawut, walau banyak.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex