Sejarah Tahlil 40 Hari Sebelum Kewafatan Sang Purnama

“Kalau ada yang meninggal itu apa ditahlili setiap hari?”

39 hari menjelang kewafatan KH. M. Badruddin Anwar, beliau memanggil KH. Fadhol Ahmad Damhuji ke ndalem (kediaman) barat. Sesampainya di sana Kiai Dam, sapaan KH. Damhuji, menemui Kiai Bad yang sedang duduk di ruang tamu.

Kemudian Kiai Bad meminta Kiai Dam mengumumkan bahwa Kiai Anwar hari ini telah berumur 118 tahun. Kiai Dam pun mengiyakan. Namun, saat berada di depan masjid beliau menoleh ke kanan-kiri, pertanda masih ragu. Dari dalam dalem terdengar suara, ”Sudah, umumkan saja.” Mendengar suara Kiai bad itu, Kiai Dam pun yakin dan mengumumkannya melalui penegeras suara masjid.

innalillahi wa inna ilaihi roji’un… innalillahi wa inna ilaihi roji’un… innalillahi wa inna ilaihi roji’un… dari dawuh Kiai Badruddin, hari ini Kiai Anwar wafat umur 118 tahun.” Kiai Dam mengumumkan. Mengenai 118 tahun ini, bukan tahun kewafatan Kiai Anwar, akan tetapi pada hari itu Kiai Anwar telah berumur 118 tahun, jika dihitung mulai tahun kelahirannya sampai tahun 2017.

Setelah keluar masjid Kiai Dam kembali dipanggil. “Lho, sampean tahlil! Abah pun tilar, sampean tahlili!” (Anda bacakan tahlil! Ayah kan sudah meninggal, anda bacakan tahlil!) kata Kiai Bad.

Setelah itu, para santri yang berada di sekitar masjid diajak turut membaca tahlil. Kiai Dam pun membaca tahlil bersama para santri hingga bacaan tahlil (La ilaha illa Allah)-nya mencapai hitungan 1500 kali.

Sore harinya, seorang santri diutus memanggil Kiai Dam untuk menghadap Kiai Bad. Selang berapa keduanya itu bertemu di halaman koprasi Al-Anwar (Saat itu masih menjadi kamar). “Kalau orang meninggal itu apa ditahlili setiap  hari?” tanya Kiai Bad memulai percakapan. “Enggeh Yai”, jawab Kiai Dam. “Ya sudah, abah dibacakan tahlil empat puluh Hari.” “Mulai kapan Yai?” “Mulai sekarang.”

Hingga tiga hari menjelang wafat, saat dipanggil ke kediamannya, Kiai Dam tidak mersakan bahwa Kiai bad akan berpulang. Dan saat itu juga Kiai Dam bilang akan mengadakan tasyakuran ketika tahlil di hari ke empat puluh. “Masya Allah, ketika akan pelaksanaan tahlil ke empat puluh, Kiai Bad wafat. Akhirnya makanan sebanyak lima ratus bungkus untuk tasuakuran itu dijadikan sebagai penanda berakhirnya tahlil Kiai Anwar dan dibukanya tahlil bagi Kiai Bad,” tutur Kiai Dam.

Kiai Dam tidak tahu apa tujuan diadakannya tahlil. “Saya tidak tahu kenapa ada tahlil. Yang penting saya melakukan perintah Kiai Bad. Mungkin Tahlil ini adalah bentuk birrul walidain beliau yang terakhir kepada abahnya, di masa hidup beliau. Allah karim,” imbuh beliau.

(Miqdad/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: