Sarung, Peci, dan <em>Outfit </em>Santri

Sarung dan Peci

Di tengah ramainya thrifting atau yang kerap disebut dengan dalboan, outfit santri hadir sebagai salah satu alternatif dengan banyak penggemar.

Hari Santri sudah berlalu. Namun, riuh rendah perayaannya masih saja terasa. Apalagi bagi orang-orang yang berada di kawasan pesantren. Baik santri, alumni, ustaz, kiai, bahkan masyarakat sekitar. Tak jarang pula, ada beberapa instansi keagamaan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan santri atau pesantren tapi ikut merayakan Hari Santri.

Banyaknya orang yang merayakan Hari Santri adalah bukti. Sebuah bukti kuat bahwa santri bukanlah ras yang perlu dicari dan dilestarikan keberadaannya. Di kota, ada. Di desa, ada. Di mana-mana ada, istilah mudahnya.

Akibatnya, tentu banyak juga yang mulai memahami budaya pesantren. Baik itu dari kesehariannya dari bangun hingga tidur kembali. Kurikulum pelajarannya semacam kitab kuning, sorongan, atau bandongan. Juga istilah-istilah pesantren yang dulu hanya dikenal oleh golongan tertentu, seperti kiai, LBM, gasab, mayoran, dan sebagainya.

Pun tak ketinggalan dengan sarung, kopiah, surban, dan item-item fesyen lain yang identik dengan santri. Tak hanya santri, ustaz, dan kiai lagi yang lazim mengenakannya. Masyarakat umum juga ikut memakainya. Bahkan, beberapa instansi negara ada yang menjadikan sarung dan peci sebagai salah satu seragam resminya.

Apalagi dengan adanya instruksi dari Kemenag saat peringatan Hari Santri kemarin. Melalui laman resminya, kemenag.go.id, menghimbau bagi semua peserta upacara wajib untuk beratribut sarung dan peci. Peserta upacara laki-laki mengenankan sarung, atasan putih, dan berpeci hitam. Sedangkan untuk perempuan bisa menyesuaikan kebijakan instansi masing-masing.

Disadari atau tidak, sarung dan peci hitam memang sedari dulu menjadi pakaian wajib santri. Hampir seluruh pesantren yang tersebar di nusantara menjadikan dua item fesyen ini sebagai pakaian wajib bagi santri-santrinya. Sehingga, kebijakan ini membuat sarung dan peci menjadi pakaian khas santri.

Apalagi dengan adanya alumni pondok yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Mereka sudah merasa terbiasa dan nyaman mengenakan sarung dan peci. Sehingga, kebiasaan itu terbawa hingga ke rumahnya. Membawa budaya yang baru bagi lingkungannya. Tak jarang, beberapa kerabat dan tetangganya juga ikut-ikutan memakai sarung dan peci dalam kesehariannya.

Sarung dan peci juga memiliki kaitan dengan sejarah. Saat itu pemerintah Hindia-Belanda sedang gencar-gencarnya menggunakan jas, celana, dan sepatu. Salah satu tujuannya agar penjajahan ini bisa diterima oleh masyarakat luas. Akan tetapi, para kiai dan pahlawan pada saat itu menyadari niat Belanda. Mereka balas melawannya dengan mewajibkan santri-santri dan masyarakat memakai sarung dan peci.

KH. Abdul Wahab Khasbullah juga demikian. Saat beliau diundang ke istana yang mewajibkannya memakai jas dan dasi, beliau datang dengan atas berupa jas tapi dengan bawahan tetap berupa sarung. Beliau ingin menunjukkan bahwa sarung dan peci merupakan warisan budaya dan juga identitas nasionalisme. Beliau juga ingin menunjukkan bahwa sarung adalah salah satu bukti perjuangan santri dalam melawan penjajahan Belanda.

Begitu panjang sejarah tetang sarung dan peci dalam budaya santri. Hingga kini sarung dan peci menjadi salah satu identitas nasional. Tidak bagi kalangan santri saja. Namun juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.

(Nabil Abdullah Alghifari/STIKK D2)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II