Dari Tanah Haram Kembali Ke Tanah Air
Setelah kurang lebih tiga belas hari melaksanakan ibadah umrah, akhirnya jemaah Ziarah Rasul Ke-17 ini kembali ke Tanah Air pada Minggu malam, 4 Desember 2022. Para santri Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menyambut kedatangan mereka dengan berkumpul di area masjid An-Nur II.
Sejak bakda salat Isya, para santri telah berdatangan dari asrama masing-masing menuju masjid. Di teras masjid, telah terpasang banner, karpet biru yang terbentang dan mimbar, juga karpet merah di pelataran masjid untuk para santri. Setiap santri yang datang, duduk di pelataran masjid. Bahkan ada santri yang duduk di samping jalan menuju masjid karena tempat yang tidak cukup.
Sambil menunggu jemaah tiba, tiga santri naik panggung dan melantunkan Qoshidah Burdah. Hingga pada pukul 22.40 WIB, bis merah besar yang berisi jemaah Ziarah Rasul Ke-17 tiba dan memasuki gerbang pondok pesantren.
Mengetahui hal itu, para santri yang berada di pinggir jalan langsung berdiri mendekat dan membentuk jalan menuju masjid. Tiga santri pembaca Qoshidah Burdah juga mengalihkan senandungnya menjadi Thala’a Al-Badru.
Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., sebagai ketua rombongan memimpin para jemaah menuju masjid. Seketika para hadirin yang berada di area masjid pun berdiri menyambut beliau. Para jemaah pun menuju teras masjid yang telah siap sebagai tempat penyambutan.
Tak lama, MC (Master of Ceremony) berdiri di mimbar dan membuka acara. Pembacaan surah Al-Fatihah pun menjadi pembuka acara pada malam itu. Kemudian acara berlanjut ke penyampaian sambutan. Kiai Fathul Bari menyampaikan sambutan tersebut.
Haji dan Umrah Perlu SehatHaji dan Umrah Perlu Sehat
Dengan suara lirih, Kiai Fathul Bari mengawali sambutan dengan rasa syukur karena penyambutan para santri. Beliau juga mengatakan, “Mudah-mudahan kalian bisa disambut dan berangkat ke Tanah Suci.” Selain itu, beliau menyampaikan bahwa para jemaah telah menyampaikan salam dari keluarga dan para santri kepada Rasulullah SAW.
Kemudian beliau menyampaikan ibadah haji dan umrah itu membutuhkan sehat. Dalam hal ini sehat itu penting. Maka dari itu beliau menyampaikan, “Puncaknya ibadah dalam Islam itu ibadah haji dan umrah.” Hal ini menjadi bukti bahwa agama Islam mementingkan kesehatan. Selain membutuhkan kesehatan, dua ibadah ini juga membutuhkan tubuh yang kuat.
Kiai Fathul menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan hal tersebut yang artinya, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dalam keduanya ada kebaikan masing-masing.” Hal ini karena saat haji dan umrah pasti akan kelelahan. Kalau tidak kuat, maka akan sulit melaksanakan kegiatan haji.
Kemudian beliau menyampaikan hubungan kendaraan dengan dunia. Beliau menjelaskan bahwa, “Kendaraan di Mekah-Madinah itu bagus-bagus, tapi jelek-jelek.” Maksudnya, mobil-mobil di sana butuh perawatan, seperti kotor dan penyok. Bahkan ada yang setelah tabrakan tapi masih digunakan. Hal tersebut mengingatkan bahwa kendaraan itu harusnya digunakan sesuai fungsinya, yaitu menyampaikan (mengantar) dari tempat satu ke tempat yang lain.
Begitu juga dengan dunia. “Dunia bukan untuk dimiliki tapi bagaimana dunia ini bisa menyampaikan setiap kita yang berada di dunia bisa diridai oleh Allah SWT,” ungkap Kiai Fathul Bari. Di akhir sambutan, beliau menyampaikan terima kasih dan mendoakan untuk jemaah semoga umrah ini menjadi berkah dan Allah mengganti rezeki untuk umrah tersebut.
Setelah sambutan tersampaikan, acara pun menuju sesi terakhir yakni pembacaan doa. Dalam hal ini, Drs. H. Khoiruddin, Ak., Msi., dan H. Didik Nur Ahsani membacakan doa secara bergantian. Setelah itu, para jemaah saling berpamitan satu sama lain sebelum meninggalkan tempat. Sekiranya selesai, jemaah pun bisa kembali bertemu keluarga mereka.
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)