Ziarah Rasul Haram? Benarkah? 

HUKUM ZIARAH RASUL

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasul saw., bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak diperbolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Rasul saw., (Madinah) dan Masjidil Aqsha.” [HR. Bukhari]

Catatan Alvers

Ziarah rasul kita ketahui sebagai satu anjuran sejak dahulu bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. Imam Nawawi (1223 M/631 H-1277 M/676 H), seorang ulama besar dengan banyak sekali karya ilmiahnya yang terkenal seperti Arba’in An-Nawawi, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, Minhajuth Thalibin, Al-Majmu Syarah Al-Muhaddzab, dan lain-lain. berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ زِيَارَةَ قَبْرِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَهَمِّ الْقُرُبَاتِ وَأَنْجَحِ الْمَسَاعِي

“Dan ketahuilah, bahwa ziarah ke makam Rasul SAW termasuk amalan pendekatan diri (qurbah) yang paling utama dan usaha yang paling berhasil.”  [Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab]

Namun akhir-akhir ini banyak beredar larangan mengadakan ziarah rasul baik berupa web maupun YouTube. Pengharaman ziarah rasul ini ternyata berasal dari satu sumber yang dikatakan oleh Syekh Hasyim Asy’ari dalam Risalah-nya: “Pasal Menjelaskan Penduduk Jawa Berpegang kepada Madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah dan Awal Kemunculan Bidah dan Meluasnya di Jawa serta Macam-macam Ahli Bid’ah di Zaman ini… Hal ini terjadi sejak tahun 1330. Di antara mereka adalah kelompok yang … mengharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunahan, yaitu bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah SAW … Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Fatawa-nya: “Jika seseorang bepergian dengan berkeyakinan bahwasanya mengunjungi makam Nabi saw., sebagai sebuah bentuk ketaatan maka perbuatan tersebut hukumnya haram dengan disepakati oleh umat Muslim.” [Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah]

Usut punya usut ternyata pengharaman ziarah rasul itu disebabkan karena mereka salah paham terhadap hadis utama di atas yang berbunyi: ‘Tidak diperbolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Rasul saw., (Madinah) dan Masjidil Aqsha.” [HR. Bukhari] Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa Ulama Ahli Tahqiq berkata: Perkataan “Kecuali pada tiga masjid” itu terdapat (Lafaz yang menjadi bagian dari susunan) “Mustasna minhu” yang dibuang. Jika lafaz tersebut dikira-kirakan dengan lafaz yang umum (fi ayyi amrin kana) maka arti hadis tersebut adalah:

لَا تُشَدّ اَلرِّحَال (إِلَى مَكَانٍ فِي أَيِّ أَمْرٍ كَانَ) إِلَّا إِلَى اَلثَّلَاثَةِ

“Tidak diperbolehkan melakukan perjalanan – ke tempat manapun dengan tujuan apapaun – kecuali ke tiga masjid.”

Dan pemaknaan ini tentunya tidak dimungkinkan karena akan menimbulkan larangan mengadakan perjalanan ke satu tempat untuk berdagang, silaturahmi, belajar dan lain sebagainya. Maka tidak ada pilihan lain kecuali pilihan kedua yaitu mengira-ngirakan lafaz yang paling sesuai dengan konteksnya sehingga hadis tersebut bermakna:

لَا تُشَدّ اَلرِّحَال (إِلَى مَسْجِدٍ لِلصَّلَاةِ فِيهِ) إِلَّا إِلَى اَلثَّلَاثَةِ

“Tidak diperbolehkan melakukan perjalanan – ke satu masjid dengan tujuan melakukan salat di sana – kecuali ke tiga masjid.” [Fathul Bari]

Pilihan ke dua di atas selaras dengan redaksi hadis lain yang serupa yaitu hadis dari Abu Said Al-Khudri suatu ketika ia mendengarkan perkataan orang salat di Thur (Gunung Thursina) Maka ia, Abu Said Al-Khudri berkata: Nabi saw., bersabda:

لَا يَنْبَغِي لِلْمَطِيِّ أَنْ تُشَدَّ رِحَالُهُ إِلَى مَسْجِدٍ يُبْتَغَى فِيهِ الصَّلَاةُ غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَمَسْجِدِي هَذَا

“Tidak seyogyanya pengendara melakukan perjalanan ke suatu masjid untuk melaksanakan salat di sana, selain Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan masjidku (Nabawi).” [HR. Ahmad]

Maka dengan demikian boleh hukumnya kita pergi ke mana saja karena hadis di atas  lebih menjelaskan kepada keistimewaan tiga masjid tersebut yang tidak dimiliki oleh masjid selainnya sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ مِائَةُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَصَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَلْفُ صَلَاةٍ وَفِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَمْسُمِائَةِ صَلَاةٍ

“Satu kali salat di Masjidil haram (bernilai lebih baik dari) seratus ribu salat,

Satu kali salat di masjidku (Nabawi) (bernilai lebih baik dari) seribu kali salat

Dan satu kali salat di Baitil Maqdis (Masjidil Aqsha, bernilai lebih baik dari) lima ratus kali salat.” [HR. Baihaqi]

Jadi dipahami dari hadis itu bahwa percuma saja jika kita jauh-jauh pergi ke satu masjid, misalnya Masjid Istiqlal di Jakarta atau masjid biru di turki untuk melakukan salat di sana padahal pahalanya sama saja dengan salat di masjid terdekat dengan rumah kita. Berbeda halnya kita datang ke sana untuk satu keperluan rihlah lalu kita salat di sana.

Selaras dengan hal ini, Imam An-Nawawi berkata: “Di dalam hadis ini terdapat dalil akan keutamaan tiga masjid (tersebut) serta keutamaan bepergian jauh dalam rangka ibadah di sana karena maknanya menurut jumhur ulama (mayoritas ulama) adalah:

لَا فَضِيلَةَ فِي شَدِّ الرِّحَالِ إِلَى مَسْجِدِ غَيْرِهَا

“Tidak ada keutamaan dalam bepergian jauh ke selain masjid yang tiga tersebut.” [Syarh Shahih Muslim]

Imam Nawawi menolak pendapat dengan tegas pendapat yang berseberangan dengan pengertian tersebut. Imam Nawawi berkata:

وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ اَلْجُوَيْنِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا: يَحْرُمُ شَدُّ الرِّحَالِ إِلَى غَيْرِهَا وَهُوَ غَلَطٌ

“Syekh Abu Muhammad Al-Juwaini dari sahabat kami berkata: Haram hukumnya bepergian ke selain tiga masjid tadi, dan pendapat tersebut adalah satu kesalahan.” [Syarh Shahih Muslim]

Dan dalam lanjutan keterangan Al-Asqalani di atas, Ulama Ahli Tahkik menyimpulkan dengan berkata:

فَيَبْطُلُ بِذَلِكَ قَوْل مَنْ مَنَعَ شَدَّ اَلرِّحَال إِلَى زِيَارَةِ اَلْقَبْرِ اَلشَّرِيفِ وَغَيْره مِنْ قُبُورِ اَلصَّالِحِينَ

“Dengan demikian menjadi tertolak pendapat ulama yang (menggunakan hadis utama di atas untuk) melarang mengadakan perjalanan untuk ziarah kubur yang Mulia (Nabi SAW) dan kuburan para shalihin lainnya.” [Fathul Bari]

Jika Anda ber-ziarah Rasul maka jangan lupa adab-adabnya. Imam Nawawi berkata:

وَيَنْوِيَ الزَّائِرَ مَعَ الزِّيَارَةِ التَّقَرُّبَ وَشَدَّ الرَّحْلِ إلَيْهِ وَالصَّلَاةَ فِيْهِ

“Hendaknya orang yang melakukan ziarah Rasul berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah, melakukan perjalanan menuju beliau, dan salat di masjid beliau.

Ketika di perjalanan, hendaklah ia memperbanyak selawat dan salam kepada Nabi saw.”

“Ketika ia melihat pepohonan Madinah, tanah haramnya, dan tanda-tandanya, hendaklah ia menambah selawat dan salam kepada Nabi saw., serta memohon kepada Allah Ta’ala agar ziarah ini bermanfaat baginya dan agar Allah menerimanya.” [Al-Majmu Syarah Al-Muhaddzab]

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk ber-ziarah Rasul dengan niat dan usaha serta  

Salam Satu Hadis

Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

Ballighu Anni Walau Ayah” Silakan share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi saw., menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariah kita semua.

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II