Mereka ini melepas rindunya kepada Rasullullah di sana.” Gus Khoiruddin, A.K., M.Si. memberikan sambutan kepada para santri yang menyambut kedatangan jemaah Ziarah Rasul pada Selasa (29/3/2022) di depan masjid Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata).
Sejak pukul 10.00 WIB, senandung selawat dan tabuhan rebana tim hadrah telah menyemarakkan suasana masjid. Lantunan selawat menyambut para santri dan keluarga jemaah yang mulai berkumpul. Segala hal telah dipersiapkan guna menyambut kedatangan rombongan jemaah Ziaroh Rasul Ke-15.
Sekitar setengah jam, tim hadrah menampilkan kebolehannya, rombongan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bus besar yang mengangkut rombongan jemaah umrah Ziarah Rasul memasuki gerbang An-Nur II. Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag, sebagai ketua rombongan, turun dari bus terlebih dahulu memimpin rombongan menuju masjid.
Sampai di masjid beliau berkesempatan menyampaikan sambutan. mulanya, beliau menyampaikan belas kasih terhadap para santri yang menyambut jemaah umrah di bawah terik matahari. Melihat hal itu, beliau teringat dengan pemandangan yang sama sat berumrah: para jemaah pun rela berpanas-panasan mulai saat sedang tawaf, sa’i, hingga atre ke area makam Rasulullah.
Berbicara tentang makam rasulullah, dalam sambutannya, Gus khoiruddin menyampaikan para jemaah telah melepas rindu pada rasulullah. Beliau juga mengatakan bahwa dengan datang ke Raudlah, para peziarah akan mustajab doanya. “Sebab mereka ditempeli malaikat yang mengamini doa mereka,” tutur beliau.
Mengunjungi makam Nabi Muhammad saat ibadah umrah adalah obat rindu sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. Begitulah yang telah dilakukan rombongan umrah Ziarah Rasul. Salah satunya Bapak Sandy. Jemaah asal Turen, Malang itu mengaku terkejut sekaligus bersykur karena dapat masuk ke area makam Rasulullah.
Di masa pandemi seperti ini, tidak sembarang orang diperbolehkan masuk Raudlah. Beruntungnya jemaah Ziarah Rasul diperbolehkan oleh pihak kemanan. Hal ini lah yang membuat Bapak Sandy tak mau menyiakan waktunya di sana dengan terus memanjatkan doa dan membaca zikir. “Meski di sana sangat panas, tapi hati saya adem,” ungkap Bapak Sandy.
(Firman Ghani/RiKi Nur/ Mediatech An-Nur II)