Yang Lolos dari Eliminasi itu

Yang Lolos dari Eliminasi itu

Hati Ahmad bergetar sedih begitu akan ditinggal orang tuanya di depan asrama Billah 2. Meski sedih, ia tak meneteskan air mata sedikit pun. “Malah orang tua saya yang menangis saat meninggalkan saya,” kata Ahmad kepada Mediatech An-Nur II sehabis dijenguk orang tuanya yang menghadiri pertemuan wali santri baru di aula Yakowi, Ahad (14/07) sore lalu.

Di rumah, menurut Ahmad, jauh berbeda dengan di pesantren. Lingkungan pesantren yang berada di atas tanah yang bergelombang berbeda dengan daratan di rumahnya yang datar. Teman-temannya pun awalnya tak ada yang ia kenali. Apalagi di pesantren dilarang membawa barang elektronik. Perbedaan terakhir inilah yang membuat remaja 12 tahun ini tidak kerasan di pondok.

Seperti Ahmad, santri lain pun juga banyak yang tidak kerasan. Yusril pun mengakuinya di masa-masa awal mondok. Ia mondok sebenarnya bukan karena keinginannya sendiri. Orang tuanya jauh-jauh dari Bali mengantarkannya ke Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo untuk mondok. Karena melihat perjuangan orang tuanya itu, akhirnya Yusril mau mondok.

Menurut pengamatan Mediatech An-Nur II beberapa santri putra baru, yang berjumlah 900-an, masih belum kerasan. Di antaranya juga masih ada yang menangis. Menurut Ustaz Romi, kepala kamar Ibnu Aqil I, tidak kerasan adalah hal yang lumrah. Sebab, masa awal mondok adalah masa eliminasi. Sebab di masa ini merupakan penentu bagi santri baru akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya atau tidak.

Dengan keadaan seperti itu, pihak pesantren sangat paham dan sadar akan dampaknya. Oleh karena itu, kepala kamar yang menangani santri baru telah memiliki bekal untuk mengatasinya. Buktinya, banyak di antara santri yang tidak kerasan itu lanjut mondok sampai bertahun-tahun setelahnya.Salah satunya adalah Bisma Ridho, santri kelas 6 Diniyah yang mengaku sempat tidak kerasan saat baru pertama masuk pondok.

Seminggu pertama ia masih kerasan, sebab masih ada kakak kelasnya yang membimbing. Namun, semenjak kakak pembimbing itu telah menyelesaikan tugasnya di minggu kedua, santri asal Malang ini mulai tidak kerasan. Penyebabnya klasik: tidak mau ditinggal orang tua. Sore itu, sehabis dijenguk orang tuanya, ia tiba-tiba menangis. Merasa berat ditinggal ibunya. “Saya iri melihat teman saya yang disambang setiap hari,” kata remaja yang biasa dipanggil Bisma itu.

Selain itu, menurut kepala kamarnya saat itu, Ustaz Misbahuddin Asror, Bisma tidak kerasan sebab sering dijahili teman sekamarnya, semenjak ditinggal kakak pembimbing. Tidak tinggal diam,Ustaz Asror mencoba berbagai cara agar Bisma tetap mau melanjutkan mondoknya. Seperti saat waktu senggang, Ustaz Asror mengajaknya jalan-jalan berkeliling pondok untuk mengalihkan perhatiannya dari ingatan di rumah.

Hal tersebut dibenarkan oleh Bisma. Kepala kamarnya itu, menurutnya, sering mengajaknya jalan-jalan menyegarkan pikiran dengan melihati taman-taman yang tersebar di seluruh pojok pesantren. Ia juga memiliki cara sendiri untuk mengalihkan perhatiannya. Yakni dengan mengikuti berbagai macam organisasi dan introspeksi diri. “Aku sudah besar,” katanya saat itu. Remaja 17 tahun itu beriktikad bahwa orang tuanya memondokkan dirinya tak lain agar ia menjadi lebih baik.Maka, sejak saat itulah Bisma kerasan di pesantren dan terus mondok hingga tak terasa telah lima tahun lamanya.

Ustaz Asror mengatakan, mondok sampai tuntas itu penting. Dan saat menjalaninya dibutuhkan perjuangan yang tak mudah. Tujuannya adalah agar ilmu yang didapat di pesantren tidak setengah-setengah. Jika baru mondok langsung boyong, ilmu yang didapat masih belum sempurna. Otomatis, akan menimbulkan pemahaman salah yang bisa menyesatkan pada yang lain. “Ngaji itu harus sampai Khatam,” kata pria yang menjabat ketua Pergerakan Bahasa Asing (GERBANG) An-Nur II itu.

Tak perlu jauh-jauh, ustaz Asror mencontohkan pengasuh An-Nur II, AlmaghfurlahKH. M. Badruddin Anwar, dalam menuntut ilmu. Sebelum menjadi pengasuh pesantren di Malang itu, beliau sempat mondok di beberapa tempat: Pondok Pesantren Sidogiri, Ploso, Lirboro dan lainnya. Tentunya dengan susah payah beliau menjalaninya. Menurut cerita Kiai Badruddin kepada Ustaz Asror, beliau saat mondok di Lirboyo sering menimba air bersama KH. Idris Marzuki, salah satu pengasuh Lirboyo yang saat itu masih menimba ilmu.

Sementara itu, Bu Erni Suningsih, salah satu wali santri kelas 1 Diniyah, merasa tenang dengan sikap anaknya yang baru mondok  tidak kerasan. Sebab ia telah berpengalaman dalam menangani anak pertamanya yang lebih dulu tidak kerasan. Dalam penanganannya, ibu asal Sidoarjo ini terus memberi pengertian dan terus mendoakan anaknya agar tetap terus mondok.

Meski tidak pernah mondok, Bu Erni sadar betulmembuat anak terus mondok adalah hal yang sangat penting. Menurutnya, dengan mondok anaknya dapat tiga pelajaran sekaligus. Yakni pelajaran umum dari sekolah, pelajaran agama dari ngaji dan pelajaran bersosial dengan tinggal sekamar dengan santri lain yang berbeda latar belakang. “Ini semua merupakan bekal nanti sebagai andalan untuk menolong kami (Bu Erni dan suaminya) di dunia dan di akhirat,” kata Bu Erni.

Bu Erni sangat setuju jika mencari ilmu itu butuh yang namanya susah payah. Karena di zaman milenial ini semua serba praktis. Ia tidak ingin anaknya terbawa pengaruh seperti itu. Maka, mondok itu adalah jalan terbaik. Masalah tidak kerasan itu kembali ke mental masing-masing. “Kalau sudah siap mental, bagaimanapun lingkungannya pasti akan merasa betah,” ungkap ibu empat anak ini.

(Mediatech An-Nur II/Mumianam/Adam)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: