Wondershow: dari Upacara Pedang Pora hingga Medley Lagu Daerah

Wondershow, Wondershow: dari Upacara Pedang Pora hingga Medley Lagu Daerah, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Malam hari itu cuaca terlihat sangat cerah, secerah wajah santri putri Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) yang hendak merayakan hari spesialnya. Mereka, para santri putri, telah menyiapkan segalanya demi menyambut datangnya hari itu, Hari Santri Nasional. Persiapan mereka untuk merayakan HSN tidak tanggung-tanggung. Semua usaha baik tenaga maupun pikiran telah mereka kerahkan untuk menyukseskan acara.

Sepasang Pengantin Anyar

Pembacaan Surah Al-Fatihah dengan metode Bi Al-Qolam oleh ribuan santri putri merupakan segmen pertama pada acara malam itu. Al-Fatihah usai tiba-tiba lampu sorot, yang tadinya menerangi lapangan, mati. Tak lama setelah itu terdengar suara deru motor dan disusul oleh mobil pengantin yang menuju ke lapangan. Sontak penonton yang berada di jalan kendaraan itu lewat menepi. Mobil pengantin tersebut menuju lapangan tempat upacara HSN di gelar, dan berhenti di dekat tiang bendera.

Tak lama setelah itu, seorang pria berpakaian rapi berwarna putih keluar dari mobil tersebut. Pria itu langsung menuju sisi kanan mobil lalu membuka pintunya. Dituntun lah keluar secara perlahan seorang gadis yang berpakaian sama putih dari mobil pengantin itu. Mereka berdua adalah sepasang pengantin baru, Kiai Husni Mubarok dan Ning Nafisah.

Setelah sang mempelai wanita keluar dari mobil, terdengar sebuah derap kompak pasukan pedang pora dari sisi kanan lapangan. Pasukan berpedang itu langsung berbaris rapi di belakang pengantin. Upacara pedang pora pun dimulai. Sepasang pengantin tersebut berjalan beberapa langkah ke depan.

Lalu, Ning Aisyah Badruddin, komandan dari pasukan pedang pora, memberi perintah pasukannya untuk membubarkan barisan dan membentuk formasi melingkari pengantin tersebut. Setelah formasi tersebut benar-benar sempurna melingkari pengantin, serentak mereka menghunuskan pedang ke atas. Tak lama setelah itu sebuah janji suci sepasang pengantin dibacakan oleh seorang santri putri. Ketika pembacaan janji dimulai atmosfer acara tiba-tiba berubah menjadi sangat sakral nan romantis.

Sebuah jalan dibuat untuk pengantin tersebut menuju wali mempelai pria. Dengan perlahan, pengantin tersebut berjalan di antara pasukan yang sedang menghunuskan pedang ke atas bak gapura itu. Setelah melakukan foto dan kegiatan lain pengantin tersebut kembali diarak menuju mobil sebelum akhirnya beranjak dari lapangan tersebut.

Mobil pengantin telah meninggalkan area lapangan, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag, memberikan sambutannya untuk acara HSN kali ini. Dalam sambutannya beliau mengapresiasi upacara tersebut. Melalui upacara kali ini, tutur pengasuh pesantren An-Nur II itu, kita dapat mengetahui bahwa santri bukan hanya disibukkan dengan mengaji saja, tapi juga sibuk berkreasi dan berinovasi.

Di akhir sambutannya beliau mengucapkan selamat kepada Kiai Husni Mubarok, “Semoga keluarga mereka dijadikan sebagai keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.” Sambutan dari pengasuh usai, lampu sorot kembali mati dan dari dalam kegelapan itu terdengar suara seseorang menyenandungkan puisi romantis yang dibalut dengan iringan lagu Payung Teduh-Akad.

Parade Budaya dalam Kompilasi Lagu Daerah

Grup paduan suara melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu Mars An-Nur dan Hari Santri. Tak lama setelah paduan suara selesai, beberapa pasukan Paskibra unjuk gigi dengan menampilkan display baris-berbaris dengan tegas dan anggun. SMKN 3 Malang juga turut diundang dalam menampilkan koreografi berbaris itu.

Untuk yang ke sekian kalinya, lampu sorot tiba-tiba mati. Kali ini lampu itu mati setelah penampilan dari PASKIBRA usai. Namun tak lama setelah itu satu-persatu cahaya kecil berwarna kuning muncul disusul oleh ribuan cahaya kuning lainnya yang terlihat indah dalam kegelapan malam. Sebuah musik cover Surat Cinta Starla yang berjudul “Senandung Santri” dari ribuan santri terdengar indah dan merdu di tengah-tengah kegelapan.

Akhirnya, puncak acara pada malam hari itu tiba. Penampilan yang mereka suguhkan kali ini adalah kompilasi (Medley) lagu daerah yang dibalut dengan musik EDM (Electronic Dance Music). Pada penampilan kompilasi kali ini, mereka mengerahkan puluhan santri putri

berpakaian adat untuk menjadi penari inti dan ribuan santri lainnya sebagai penari sambilan. Di dalam kompilasinya, mereka juga memasukkan lagu Gerbang Biru karangan Ustaz Radea yang acap kali disenandungkan di saat acara besar pesantren. Lagu daerah terakhir pada kompilasi tersebut adalah Sayonara dan Gelang Sipaku Gelang.

Setelah lagu kompilasi usai, mereka mempersembahkan lagu terakhir yang berjudul “Menuju Puncak” yang mereka tari dan nyanyikan bersama 3650 santri putri. Dalam penampilannya, mereka juga melibatkan anggota ekstrakurikuler Perisai Diri dan beberapa Anak MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang bermain layaknya anak desa untuk menambahkan kesan tradisional.

Berakhirnya lagu “Menuju Puncak” merupakan akhir dari acara pada malam hari itu. Walau demikian, para santri belum diperkenankan untuk kembali ke asrama mereka masing-masing karena ada sesi foto bersama dengan pengasuh dan tamu undangan. Tamu yang diundang saat itu antara lain adalah para donatur dan beberapa jajaran pengurus pondok, keluarga mempelai putri dari Pondok Pesantren Roudlotul Musthofa Lekok, Pasuruan.

Banyak sekali tamu undangan dan pengasuh yang terkesima melihat penampilan tersebut. Salah satunya adalah Ustaz Faizuddin, kepala Madrasah Diniyah An-Nur II. Saking kagumnya beliau sampai Berdiri sambil tepuk tangan saat melihat penampilan tersebut. Ustaz Faiz juga mengatakan bahwa, “Daya tarik dari penampilan HSN itu menurut saya terletak pada penampilan yang melibatkan ribuan peserta di dalamnya.”

Konsep yang Matang di balik Suksesnya Acara

Acara tersebut tidak akan menjadi acara yang sangat menarik tanpa persiapan yang matang. Ustazah Fatma, Ketua Perayaan Hari Besar Islam pesantren, mengaku telah melakukan rapat sebanyak empat kali untuk menyusun konsep acara HSN tersebut, dua kali di antaranya bersama kru dari SMP An-Nur. Sampai Hari itu tiba, diperkirakan mereka telah melakukan latihan bersama sebanyak tiga belas kali.

Peringatan HSN kali ini memiliki perbedaan dengan tahun sebelumnya. Tutur Ustazah Fatma ada lima hal yang membedakkannya dengan perayaan sebelumnya. Pertama, peringatan HSN kali ini sengaja tidak dilaksanakan dengan upacara bendera, melainkan diganti dengan upacara pedang pora. Kedua, penataan panggung. Ketiga, jumlah penari inti yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Keempat, adanya penampilan dari ekstrakurikuler Perisai Diri dan Paduan Suara. Kelima, adanya penampilan dari yayasan luar pesantren.

Bintang Maharani, anggota Perisa Diri, mengaku dirinya sangat gugup pada saat berada di atas panggung. Tapi di sisi lain ia juga merasa senang karena dapat ikut andil menjadi tim inti yang notabenenya menjadi pusat perhatian para penonton. Ia berharap ekstrakurikuler yang ia ikuti saat ini dapat ditampilkan kembali pada perayaan HSN tahun depan.

Selain Maharani, Intan Yuanita Putri, salah seorang dari tim inti yang berperan sebagai sinden, merasakan hal serupa. Dari ribuan santri ia sangat bersyukur karena terpilih menjadi salah satu dari tim ini. “Semoga tahun depan penampilannya bisa lebih spektakuler lagi,” harap Intan.

#KILASANNUR

(Ryan Winawan/ Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: