23 September, 2018
  • 23 September, 2018
wisudawan terbaik

Wisudawan Terbaik

By on 11 Mei, 2018 0 186 Views

Duduk Paling Belakang, Maju Paling Depan

 

Sebuah kejutan bagi Zudan Hanifi ketika namanya dipanggil sebagai wisudawan terbaik. Di atas panggung itu, ia menerima dua penghargaan : satu diberikan Dr. KH. Fathul Bari, dan satu lagi datang dari pondok putri yang diserahkan oleh Ibu Nyai Hj Lathifah.

 

Namun, ia masih bertanya-bertanya, “Saya masih bingung, kenapa harus saya?”, ujarnya dengan keheranan. Selama ini, Zudan menyadari bahwa dirinya tidak berbeda dengan santri lainnya. Ia tidak lebih rajin dan tidak lebih pintar. “Saya cuman mahasiswa STIKK yang duduk paling belakang” katanya usai acara Wisuda dan Iktitamu Ad-Darsi Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning An-Nur II (STIKK An-Nur II), Kamis (10/05) di gedung Ya Kowi.

 

Zudan, santri asal desa Kawangrejo, Kromengan, Malang itu mondok sejak SMP. Dan dari awal mondoknya, ia memang dikenal sebagai santri yang cerdas. Semasa SMP saja ia tercatat enam kali mendapat rangking satu. Tetapi, ketika ia masuk di kelas SMA, tak sekalipun gelar rangking satu kembali ia peroleh. “Bahkan sampai STIKK, dan ini rangking satu yang pertama”, ujarnya.

 

Berdasarkan keterangan dari salah satu dosen STIKK, Ust. Fathur Rohman, kriteria menjadi wisudawan diambil dari beberapa aspek. Selain nilai ujian, presensi mahasiswa di kelas juga menjadi pertimbangan. Begitu pula keaktifan mahasiswa di kelas. “Zudan terpilih karena memang dia yang sudah memenuhi seluruh aspek itu”, jelas beliau. “Harapannya jelas, semoga ilmunya dapat diamalkan, tidak berhenti di nilai rapor saja” tambahnya.

 

Memperoleh nilai tertinggi, santri kelahiran Malang, 16 September 1997 itu punya trik tersendiri. Dalam menjawab pertanyaan yang semuanya berbahasa Arab, Zudan juga menggunakan bahasa Arab. “Saya jawab semua soal dengan bahasa Arab, sebisa saya” akunya dengan tawa.

 

Memang, Zudan yang sudah 8 tahun mondok itu berhasil memperoleh nilai terbaik di tahun terakhirnya. Namun, bukan berarti ia menguasai semua pelajarannya. Ia mengaku kesulitan ketika harus mempelajari kitab Al-Fiyah Ibu Malik. “Kalau ngaji Al-Fiyah, rasanya sulit ya, bikin pusing, terlebih bab jamak taksir, wazan yang dihafalkan banyak”, ujarnya. Beruntung, ia punya wali kelas yang selalu siap mengajarinya, Ust. Jazim Ahmadi. “Biasanya saya musyawarah sama teman-teman yang lain, kalau masih tidak faham, larinya ke Pak. Jazim” katanya yang saat itu ditemani Iqbal, temannya sejak SMP.

 

Rencananya, Zudan ingin melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi. Tapi, ia tak ingin menjadi santri yang lupa pada kulitnya. Terlebih dahulu ia akan mengabdikan dirinya menjadi kepala kamar. Seperti yang dikatakan KH Fathul di akhir acara, “Santri setelah lulus dari STIKK, terlebih dahulu mengabdi menjadi kepala kamar, satu tahun saja cukup”.

 

Pewarta : Izzul Haq

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: