Mahasantri Diploma 2 tahun ajaran 2021/2022 Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) An-Nur II resmi dinyatakan lulus. Acara Wisuda STIKK dan Ikhtitam Fathil Mu’in yang telah lama dinanti diadakan di Aula Yaqowi pada Minggu pagi, 12 Juni 2022. Pada acara kali ini, wali mahasantri diperkenankan menghadiri acara kelulusan putra-putranya.
Sembari menunggu para wisudawan dan wali, tim banjari melantunkan selawat untuk mengisi suasana. Setelah beberapa waktu, dua MC mengenakan pakaian berwarna peach membuka acara dengan pembacaan surah Al-Fatihah.
Terlihat mereka berdiri di atas panggung yang dihias dengan rangkain istana dari gabus yang diwarnai dengan perpaduan kuning, emas dan putih. Hiasan tersebut tampak megah memenuhi background panggung.
Sesudah dibuka, acara dilanjutkan dengan lalaran seratus nazam Al-Fiyah Ibn Malik oleh kru paduan suara STIKK dan dipimpin seorang dirigen.
Usai pembacaan nazam, kirab wisudawan dilaksanakan. Dipimpin oleh lima Paskibra yang membawa dua pedang dan tiga bendera resmi. Diikuti oleh Kiai Khoiruddin, Ak., M.Si., para dosen STIKK dan wisudawan. Kemudian mereka menempati tempat yang telah disediakan. Para wisudawan duduk di kursi sebelah kiri.
Setelah itu, kru paduan suara kembali memasuki ruangan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars An-Nur, dan Ya Lal Waton. Sebelum bernyanyi, para hadirin dipersilakan berdiri. Selang beberapa waktu setelah lagu dinyanyikann, hadirinpun dipersilakan duduk kembali.
Acara dilanjutkan pembacaan ayat Al-Qur’an bit taghonni oleh sebelas qori STIKK. Kadang bersamaan, kadang bergantian, mereka membuat hati hadirin menjadi tenang.
Kemudian, acara berlanjut ke prosesi wisuda. Para wisudawan dipanggil satu per satu dan disematkan oleh Kiai Husni Mubarok dan Ustad Badrussalam, salah satu dosen STIKK. Wisudawan kini berjumlah 52 mahasantri.
Kemudian dilanjutkan ke sesi pemberian penghargaan bagi wisudawan terbaik . Setelah prosesi selesai, dilanjutkan pembacaan Janji Wisuda dipimpin oleh salah satu wisudawan dan diikuti oleh wisudawan yang lain.
Tak lupa, penyerahan penghargaan kepada mahasantri berprestasi dari Diplomat 1 dan 2 kelas A dan B.
Pentingnya Keilmuan Untuk Kehidupan
Menuju acara selanjutnya, sambutan yang pertama disampaikan oleh Muhammad Syaiful Anwar, atas nama perwakilan wisudawan. Dia berkata, “Ingatlah, engkau lulus saat ini karena jerih payah orang tuamu.” Supaya mereka tetap berbakti kepada orang tuan dan mengharapkan rida dari orang tua juga guru.
Sebelum melanjutkan sambutan, wisudawan STIKK menampilkan demonstrasi Al-Fiyah Ibn Malik dan kitab Fath al-Mu’in. Setiap kategori, dua mahasantri dipaggil ke atas panggung dan diberi pertanyaan oleh dosen yang berbeda di setiap kategori. Dari demonstrasi tersebut cukup memukau dengan terlihatnya kemampuan mahasantri STIKK yang telah menempuh selama tiga tahun.
Setelah itu, sambutan kedua disampaikan oleh Kiai Mustofa sebagai perwakilan dari wali wisudawan. Beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada pengasuh dan dosen STIKK. Selain itu beliau juga berpesan kepada wisudawan, “Walaupun kalian sudah SARJANA (Sarungan Jalan Ke Mana-Mana), walau sudah menguasai banyak bidang, jangan lupa, manusia tidak ada habisnya dalam menuntut ilmu.”
Berlanjut ke sambutan ketiga. Kali ini, Kiai Zainuddin Badruddin diberi waktu untuk menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan yang diambil dari syair Abu Ishaq Al-Ilbiri, “Jika mereka yang kaya dapat bersenang-senang, maka betapa banyak kalian dapat membedah keperawanan ilmu.” Maksudnya, dengan ilmu, sesuatu yang diinginkan pasti datang.
Di akhir sambutan, beliau menyampaikan sebuah pantun, “Pergi belanja ke pasar Bululawang, tidak lupa beli kedondong. Jangan suka jajan sembarangan, kalau cepat-cepat ingin nikah, mengabdi dulu dong.” Mendengar itu, para hadirin sontak tertawa.
Kesibukan Santri di Masyarakat
Selanjutnya, menuju penyampaian mauidloh hasanah oleh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa santri tidak boleh kebingunan dan pasti punya kesibukan, apa pun itu. “Kalau tidak sibuk, sibukkan dengan wiridan. Kalau tidak sibuk mencari uang, sibukkan Waqiah-an,” ucap beliau.
Selain itu, santri bisa beradaptasi menjadi apa saja di masyarakat sebagaiman dhomir na dalam bahasa arab. Santri bisa menjadi orang yang berderajat tinggi, menengah maupun ke bawah.
“Santri kalau punya ilmu, jangan diumpetin, tapi sebarkan,” ucap beliau. Hal itu dimaksudkan agar ilmunya bermanfaat. “Ilmu didapatkan dari belajar, kemanfaatan dari usaha, dan barokah dari khidmat,” tambah beliau.
Setelah penyampaian usai, acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Kiai Khoiruddin dan Kiai Samsul Arifin. Dilanjutkan foto bersama.
Kemudian seluruh wisudawan ke depan Aula Yaqowi untuk pelepasan balon. Setiap wisudawan membentuk lingkaran dan diberi satu balon berwarna biru atau putih. Di tengah terdapat satu ikat balon.
Saat waktunya tiba, mereka melepaskan balon-balon tersebut ke langit dan menjadi bukti kelulusan mahasantri STIKK.
(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech)
