Wisuda SMP An-Nur: Pendidikan Agama Adalah Fondasi Utama

Sebanyak 883 siswa/i SMP An-Nur diwisuda bersama di aula Yakowi, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Ahad, 07 Juli 2019. Pada wisuda angkatan ke-27 ini, ratusansiswa/i yang tersebar di 26 kelas dinyatakan lulus. “Jumlah wisudawan-wisudawati kali ini meningkat dibanding tahun sebelumnya,” kata Bpk. Yahya, salah satu panitia wisuda.

Diperkirakan, sekitar 2500 hadirin datang ke acara itu. Perasaan senang dan haru bercampur di dalamnya. Tak jarang ada sebagian wisudawan dan wali wisudawan yang meneteskan air mata saat acara berlangsung. Terlebih saat paduan suara SMP An-Nur menyanyikan lagu “Man Ana” yang bernada sedih seusai sesi penyematan.

Sementara itu, perasaan senang dirasakan oleh Kisyfatul Maula Al-Mafluchah sebagai siswi teladan. Sedangkan untuk siswa teladan diraih oleh Farid Hammami Yahya. “Alhamdulillah, saya senang sekaligus bahagia sekali. Mungkin ini adalah hasil dari belajar saya dan kesungguhan memperhatikan guru saat pelajaran berlangsung,” kesan siswa asal Semarang itu.

Agama Sebagai Fondasi Utama di Era Industri 4.0

Pengasuh An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., dalam orasi ilmiahnya menyampaikan pentingnya orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya. “Sebelumnya, saya akan menyampaikan cerita terlebuh dahulu,” tutur beliau.

Dikisahkan, ada seorang direktur perusahaan ternama yang kaya raya. Ia hanya memiliki seorang anak. Sebagaimana kebanyakan orang, ia menginginkan si anak mengenyam pendidikan terbaik. Orang kaya itu pun menyekolahkan anaknya di luar negeri.

Setelah lulus kuliah di Amerika, akhirnya si anak kembali ke negara asalnya. Bersukacitalah orang tuanya dengan membanggakan anaknya kepada para tetangga dan kerabatnya. Namun, tiga bulan setelahnya, si anak menderita sakit. Lama berselang, penyakitnya bertambah parah. Hingga akhirnya dokter berkata bahwa harapan hidup si anak sangat tipis.

Saat ayahnya menjenguk di rumah sakit, si anak berkata dengan terbata-bata, “Papa, mana ijazahku.” Setelah ijazah berada di tangan, ia pun memberikannya kepada ayahnya dan berkata, “Wahai papa, ini yang engkau bangga-banggakan. Kenapa papa tidak menyuruhku untuk mengenal Allah. Bagaimana aku menjawab pertanyaan malaikat? Bagaimana aku saat berhadapan dengan Allah? Bagaimana?”

Akhirnya si anak menghembuskan nafas terakhir. Ayahnya pun menangis meratapi anak tunggalnya meninggal. Ia menyesal telah sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa urusan akhirat yang lebih penting. “Beruntung ­jenengan(Anda) memondokkan anak jenengan di pesantren,” ujar Kiai Fathul.

Beliau menyimpulkan dari kisah itu, bahwa semaju-majunya era industri 4.0, tetap fondasi utama adalah pendidikan agama. Mengutip pernyataan Hasan Al-Basri, Kiai Fathul memberi nasihat, “Kedepankan urusan dunia daripada urusan akhirat. Aku melihat banyak orang mengurus akhirat diberi kemudahan dunia. Dan aku tak pernah melihat orang yang mengurus dunia mendapat kemudahan di akhirat.”

Bahayanya teknologi

Di era revolusi industri ini, teknologi semakin canggih. Bahkan, untuk menghubungi orang yang tempatnya jauh pun cukup menggunakan telepon. Namun, penggunaan teknologi tanpa mengedepankan ilmu agama akan berujung fatal. Seperti halnya smartphone yang sering disalah gunakan untuk berbuat kejahatan.

Oleh karena itu, kepala sekolah SMP An-Nur, Bpk. Nur Kholis M.Pd, berpesan agar tidak terpengaruh gangguan sosial terlebih oleh smartphone dan internet. “Jaga nama baik pesantren dan sekolah SMP An-Nur,” pesannya di akhir sambutan.

Selaras dengan itu, Kiai Zainuddin dalam sambutannya mengibaratkan smartphone sebagai pisau. Jika pemakainya baik seperti tukang jagal, maka pisau tersebut akan sangat bermanfaat. Sebaliknya, jika digunakan oleh penjahat, maka akan sangat berbahaya.

Di akhir sambutannya, Kiai Zainuddin meminta para wisudawan untuk tak pernah berhenti belajar. Karena orang yang terus belajar tidak akan tertinggal oleh zaman. “ma ziltutholiban(selamanyasaya pelajar),” ujar beliau mengajak para wisudawan untuk memosisikan diri sebagai orang yang senantiasa haus akan ilmu.

(Mediatech An-Nur II/Mumianam)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: