Wisuda dan Ikhtitam Al-Miftah Tahun Pelajaran 2023
Cuaca pagi itu cerah, secerah wajah ratusan santri berpakaian serba putih yang beriringan membelah jalan menuju Aula Yaqowi. Beberapa ada yang memakai selempang hitam dengan bordiran berwarna perak bertuliskan nama mereka. Dengan langkah mantap mereka berjalan menuju Aula Yaqowi guna menghadiri Wisuda dan Ikhtitam Al-Miftah Tahun Pelajaran 2023.
Senin, 13 Maret 2023 Pondok Pesantren Wisata An-nur II “Al-Murtadlo” mewisuda 129 santri program Al-Miftah. Peserta wisuda kali ini merupakan gabungan dari kelas 1 SMP dan 1 SMA. Layaknya prosesi wisuda yang umum terselenggara, penitia juga mengundang wali santri agar bisa melihat prestasi putranya.
Sebelum memasuki aula para wisudawan berkumpul di depan gedung terlebih dahulu untuk mendapatkan bimbingan terakhir terkait acara. Ust. Lukman menginstruksikan para santri agar merapikan barisan. Banyak wali santri meluangkan waktu untuk sekedar mengambil gambar atau vidio sebelum memasuki gedung.
Tak lama kemudian Ust. Ari Rosiaji dan Ust. Nur Saichu Fauzi-selaku MC-naik ke atas panggung memimpin jalannya acara. Mengawali acara dengan pembukaan, MC membacakan acara selanjutnya yakni kirab wisuda.
Saat senandung selawat mulai terdengar, para wisudawan memasuki aula berpasangsan. Ketika memasuki aula para wisudawan akan berhadapan dengan panggung besar serta vidiotron bertuliskan “Wisuda dan Ikhtitam Al-Miftah Tahun Pelajaran 2023”. Di depan panggung telah tersusun rapi puluhan sofa untuk masayikh, dan asatidzi serta ratusan kursi untuk wisudawan beserta wali santri tatkala mereka memasuki gedung.
Suara riuh dari wali santri yang sudah masuk gedung lebih dulu terdengar memenuhi ruangan saat wisudawan memasuki ruangan. Beberapa ada yang bertepuk tangan melihat anaknya memasuki ruangan. Ada juga yang menjadi jurnalis pribadi dadakan putra mereka.
Acara berlanjut pada pembacaan qiraah oleh Fadli Rozaki kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars An-Nur. Setelah itu rangkaian acara mencapai inti dan prosesi wisuda dimulai.
Prosesi Wisuda
Ust. Misbahuddin Asror selaku perwakilan Madin dan Ust. Antonio selaku Ketua Al-Miftah An-Nur II menaiki panggung untuk penyematan sesi pertama. MC memanggil wisudawan satu persatu ke atas panggung. Penyematan kedua berlangsung setelahnya. Ust. Farkhi dan Ust. Mukhlas naik ke atas panggung untuk penyematan.
Setelah wisudawan terakhir naik ke atas panggung, senandung harapan dari wisudawan merangkai acara setelahnya. Empat santri memimpin teman-temannya yang lain untuk bernyanyi. Dengan suara yang merdu mereka berhasil membius para hadirin.
Tak lama berselang MC mempersilakan Ust. Antonio untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya ia menyampaikan peran doa dan restu orang tua dalam pendidikan anak. “Belum genap satu tahun sudah bisa wisuda Al-Miftah. Ini berkat doa dan restu orang tua,” ungkapnya.
Kini giliran Ust. Misbahuddin Asror memberikan sambutan. Ia menyampaikan kelebihan wisudawan tahun ini, “secara kuantitas lebih baik dari tahun kemarin.” Ia juga menyebutkan beberapa prestasi santri dan alumni kelas Al-Badr, kelas akselerasi untuk wisudawan Al-Miftah yang bersedia. “Santri dan alumni kelas Al-Badr prestasinya sudah banyak. Baru-baru ini menang MQK Fathul Wahab.”
Kiai Munib Thoyib dari Turen berkesempatan menyampaikan sambutan sebagai perwakilan wali santri. Beliau menyampaikan rasa senangnya lantaran anaknya bisa membaca kitab walau belum satu tahun mondok. “Anak kita berangkat tidak sampai satu tahun sudah bisa baca kitab.”
Setelahnya, Kiai Fathul juga memberikan sambutan. Beliau menjelaskan bahwa wali santri yang anaknya wisuda sudah menunaikan satu tugas besar. “Dengan wisudanya putra njenengan berarti njenengan sudah menunaikan satu tugas mulia yakni menjauhkan keluarga dari api neraka.” Lebih lanjut beliau menjelaskan makna menjauhkan keuarga dari api neraka. “Ibnu Abbas menafsiri ‘menjauhkan keuarga dari api neraka’ dengan menjadikannya orang yang paham agama.”
Demonstrasi Wisudawan
Acara berlanjut menuju demonstrasi wisudawan. Dua santri SMP dan satu santri SMA naik ke atas panggung untuk tanya jawab seputar materi yang telah mereka hatamkan. Sesi tanya jawab berlangsung seru, para santri bisa menjawab dengan cepat pertanyaan yang terlontar dari penguji.
Setelah sesi tanya jawab rampung acara beranjut pada pembacaan Santri of The Year. Ghani Sakha M. mendapat peringkat tiga, Ahmad Fajril Ilahi peringkat dua, dan Faldan Okta Andira peringkat satu. Masing-masing santri mendapat selempang hitam dengan bordir emas bertuliskan nama mereka.
Ketiga santri turun, MC lalu melanjutkan acara menuju mauizah hasanah. Rais Syuriah PCNU Kab. Malang, KH. Zainul Arifin berkesempatan untuk menyampaikannya. Dalam mauizahnya beliau menyampaikan sulitnya mencetak anak yang saleh salihah di masa sekarang. “Sekarang menjadikan anak saleh dan salihah itu sulit. Dulu kalau orang tuanya alim anaknya pasti alim. Sekarang beda, bapaknya tokoh besar di masyarakat, anaknya masalah besar bagi masyarakat.”
Acara kemudian berakhir dengan pembacaan doa oleh Kiai Syamsul Arifin. Para wali santri berhamburan menemui putranya untuk sekedar memberikan pelukan hangat atau kecupan singkat.
(Muhammad Abror S/Mediatech)
