Wisuda Al-Miftah: Jangan Salah Mendidik Anak

Wisuda Al-Miftah: Jangan Salah Mendidik Anak

                Senin, 13 Maret 2023, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” mewisuda 179 wisudawan dari kelas diniah 1 Wustho dan 1 Ulya baru dalam program Al-Miftah Lil Ulum, Mudah Belajar Membaca Kitab. Acara ini berlangsung di Aula Yaqowi. Dari wisudawan itu juga terdapat tiga santri terbaik yang terpilih.

Bapak Muhammad Mauliddin, wali wisudawan terbaik pertama, Faldan Okta Andira, asal Jabung, Malang mengaku sangat bersyukur atas hasil dari anaknya. “Alhamdulillah, tidak saya sangka bisa sampai seperti ini. Terima kasih kepada ustaz-ustaz yang mendidik anak saya di sini,” ungkapnya.

                Awalnya ia memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren An-Nur II dengan tujuan yang mulia. “Supaya mendapat ilmu yang manfaat, patuh kepada orangtuanya dan punya akhlak yang baik,” ungkap Bapak Mauliddin.

                Orangtua Faldan juga memiliki beberapa harapan untuk putranya di masa depan. Bapak Mauliddin mengungkapkan, “Semoga karena di sini bertambah baik, tambah berkembang, bisa mengangkat derajat orangtuanya.” Ibu Faldan juga menambahkan, “Bisa mengangkat nama pondok, bisa menjadi orang yang berguna di masyarakat.”

Seyogianya dalam Mendidik Anak

KH. Zainul Arifin menyampaikan tausyiah

                Dalam acara wisuda ini, Rais Suriah PCNU (Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama) Malang KH. Zainul Arifin berkesempatan mengisi sesi mauizah hasanah kepada para wisudawan dan wali wisudawan. Beliau membuka tausiah dengan ungkapan, “Kita semua tentu memiliki harapan mempunyai anak yang saleh dan salihah. Cuma untuk mewujudkannya zaman sekarang sulit.”

                Kemudian beliau menyampaikan bahwa dalam Al-Quran, anak dibagi menjadi tiga. Dua darinya adalah qurrata a’yun (penyejuk hati) dan ‘aduwwul lakum (musuh bagi kalian). Pola pikir yang kedua ini berbeda dengan orang tuanya. “Oleh karena itu, supaya harapan kita terkabul punya putra-putri yang saleh-salihah itu harus melalui tahapan-tahapan,” tanggapan beliau.

                Tahapan yang pertama, anak-anak mesti diberikan tarbiah atau pendidikan. Jadi ketika masih masa anak-anak, orangtua memasukkan mereka ke dalam pondok pesantren dan sekolah. Namun biasanya ada orangtua yang hanya memasukkan anaknya ke sekolah tanpa pondok, maka anak akan sulit untuk menjadi saleh-salihah. KH. Zainul Arifin mengungkapkan, “Lha ini sulit untuk menjadi orang saleh-salihah.”

                Yang kedua yakni al-irsyad atau bimbingan dan penyuluhan. Ketiga yaitu uswah hasanah. Ungkapan beliau, anak mau masuk pondok pesantren itu sudah benar. “Maka beruntung sekali anak-anak kalian mau masuk ke Pondok An-Nur II ini, semoga berkah,” lanjut beliau.

                Setiap orangtua pasti menginginkan seorang anak tipe pertama, qurrata a’yun. Dalam Al-Quran, konsep anak itu ulul albab. Maksudnya metode dalam mendidik anak menurut Al-Quran seperti yang ada di pesantren. “Kalau pesantren sudah mencakupnya, karena menurut Al-Quran, yang pertama anak itu dididik spiritual yang bagus, kemudian intelektual yang bagus,” jelas KH. Zainul Arifin.

                Secara spiritual, pesantren mendidik anak dengan kaji juga sekolah, serta zikir. Jika ruhiyah atau spiritual dan intelektualnya sudah bagus, menuju tahap selanjutnya yaitu nafsiyah atau mental. “Jadi ilmunya lengkap, zikirnya lengkap, mentalnya bagus,” ujar beliau.

                Adanya tata cara tersebut karena jika anak mendapat didikan spiritual saja, nanti akan ketinggalan perkembangan zaman. Begitu pula kalau hanya mendapat pendidikan intelektual saja, memang pintar tapi mudah mengakali orang lain. Bahkan banyak orang lulusan sarjana tertangkap KPK.

KH. Zainul menjelaskan, “Kenapa bisa seperti itu? Karena intelektual yang tidak dibarengi dengan spiritual. …. Akhirnya hanya pintar saja.” Namun jika hanya belajar mental saja, akan menyebabkan masalah. Ke mana-mana akan bertemu musuh.

                Tak hanya itu, beliau menerangkan bahwa pendidikan sesuai dalam Al-Quran di pesantren untuk mempersiapkan diri sebelum terjun ke masyarakat, terutama perihal mental. Tujuannya anak tersebut saat sudah berjuang di tengah masyarakat bisa menghadapi masalah apapun, begitu juga dalam rumah tangga.

                Saat ada masalah walaupun kecil, dia bisa menyelesaikannya. Bila tidak kuat dalam permasalahan rumah tangga, bisa-bisa bubar. “Makanya dilatih mentalnya supaya tahan uji,” jelas KH. Zainul Arifin.

                Selain itu, orangtua tidak hanya cukup memberikan uang kepada anaknya. Bukan berarti uang tidak penting, tapi belum cukup. “Uang itu penting, …, tapi belum cukup. Harus didoakan,” ujar beliau. Setiap malam, orangtuanya mesti mendoakan anaknya dengan minimal membacakan surah Al-Fatihah 44 kali setiap malam semoga kerasan dan mendapat ilmu yang manfaat.

                Maka jika orangtua telah memasukkan anaknya ke pondok dan hanya memberikan uang tanpa mendoakannya tapi belum seusai harapan, jangan salahkan pondoknya. “Jika kalian hanya memberikannya uang tanpa mendoakannya, ya jangan menyalahkan kiainya dulu sebab terkadang yang salah adalah orang tuanya tidak pernah mendoakan anaknya,” jelas KH. Zainul. Tidak cukup itu, orang tua juga mesti dermawan, terutama dermawan kepada kiai dan ustaz anaknya sebab mereka telah mendidik sang anak setiap hari.

                Di akhir tausiyah, KH. Zainul Arifin berpesan, “Jika ingin memiliki anak yang qurrata a’yun atau saleh-salihah, jangan sampai salah dalam mendidik, caranya dimasukkan pesantren, seperti di An-Nur II.” Alasannya sebab di pondok pesantren sudah terdidik tarbiahnya, ada sekolah umum, kajian kitab juga ada, dan mengajarkan ilmu-ilmu apapun. “Sehingga anak nanti berkembang sesuai dengan skill­-nya masing-masing,” sambung beliau.

                Beliau juga berpesan kepada para santri, “Jadi anak-anak, belajarlah dengan sungguh-sungguh, yang tawadu kepada gurunya. Jangan menjadi anak yang tidak sopan kepada para gurunya.” Sebab adab itu lebih baik daripada ilmu. Pada akhirnya jika ilmu dan adab seimbang, anak itu akan menjadi seseorang yang ulul albab.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU