Haflah Akhirussanah 2022/2023: Sebuah Apresiasi Wisuda Santri

Haflah Akhirussanah 2022/2023: Sebuah Apresiasi Wisuda Santri

Berakhirnya masa diniah, para santri kelas 3 dan 6 diniah ulya Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menyelenggarakan Haflah Akhirussanah 2022/2023. Acara ini terlaksana pada hari Sabtu, 20 Mei 2023 di Aula Ya Matin.

Menuju lokasi acara, para santri mengenakan baju takwa berwarna putih, sarung biru An-Nur, dan songkok hitam. Sampai di aula, mereka mengisi absen nama yang tersedia di panitia sebelum memasuki ruangan. Di pintu masuk, panitia memberikan sekotak berisi jajanan dan air mineral kepada mereka satu per satu.

Memasuki ruangan, di lantai telah tersedia karpet merah yang tertera nama setiap santri sebagai tempat duduk para santri. Mereka pun menuju karpet sesuai nama mereka. Sedikit demi sedikit para santri memenuhi ruangan. Di sisi lain, tim banjari menyenandungkan selawat-selawat, menyambut para wisudawan.

Nikmat Haflah Tidak untuk Semua Orang

Acara selanjutnya yakni sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari Ustaz Zainul Arifin selaku Kepala Madrasah. Di awal sambutan, beliau menjelaskan bahwa haflah ini merupakan apresiasi bagi para santri di akhir masa pembelajaran diniah. “Di mana acara ini adalah apresiasi kepada kita semuanya karena telah melewati jenjang selama 6 tahun dan 3 tahun bersama,” ucap beliau.

Namun beliau menerangkan bahwa semestinya tidak semua santri layak menikmati haflah ini. Ustaz Zainul mengatakan kepada para santri, “Nikmatnya acara haflah ini bisa kalian rasakan kalau sebelumnya kalian bersungguh-sungguh.” Dalam artian, mereka bersusah-susah dahulu selama mondok tiga atau enam tahun itu. Barulah mereka dapat merasakan nikmatnya acara haflah yang sebenarnya.

Beliau juga mengibaratkan acara haflah ini dengan buka puasa. “Sama seperti buka puasa. Nikmatnya buka puasa itu ada jika kalian sebelumnya berpuasa dengan sungguh-sungguh.” Ketika waktu berbuka tiba, nikmatnya pun sangat terasa saat makan.

Bahkan Ustaz Zainul mengibaratkan haflah dengan pernikahan. Beliau mengucapkan, “Sama halnya nikmatnya pernikahan bisa terasa bagi orang-orang yang tidak pernah berpacaran.” Saat menikah, pasti hatinya dag-dig-dug sebab tidak pernah berhubungan dengan perempuan.

Akhir yang Husnulkhatimah

Setelah itu, sambutan kedua dari Kepala Kurikulum Diniah Ustaz Misbahuddin Asror. Dalam hal ini, beliau memberikan pesan-pesan untuk para santri yang melewati masa krusial, akhir dari madrasah diniah.

Pesan pertama beliau, “Kami sangat meminta kepada kalian untuk husnulkhatimah.” Beliau berharap di sisa waktu para santri sebelum lulus, mereka tidak melakukan pelanggaran. Mestinya menjadi lebih giat agar mendapat akhir yang baik. Beliau juga berpesan agar para santri menjaga kitab-kitab yang telah mereka pelajari. Kalau bisa, mereka juga mempelajari ulang kitab-kitab tersebut.

Terakhir, Ustaz Asror menyampaikan kesannya terhadap acara haflah kali ini. “Untuk saat ini, 2022/2023, kami merasakan banyak berbeda. Jadi acara ini berjalan baik dan khidmat. Semuanya berbaju putih dan sarung biru. Kompak. Kami berharap kekompakan ini menjadi pilar hingga selanjutnya.”

Usai penyampaian sambutan, menuju acara selanjutnya yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars An-Nur. Dalam sesi ini, para hadirin berdiri di tempat masing-masing. Santri bernama Naja Pasha berada di atas panggung menjadi dirigen. Saat instrumen berbunyi, semuanya bernyanyi dengan khidmat.

Setelah itu, menuju acara inti yaitu penyematan para wisudawan. Para wisudawan maju satu per satu. Saat penyematan, dari keluarga ndalem mengalungkan samir berlogo Madrasah Diniah An-Nur II. Dewan ustaz memberikan map rapor kepada para wisudawan secara bergantian.

Usai penyematan seluruh wisudawan, Rahmad Afriansyah, salah satu wisudawan, naik ke atas panggung dan membacakan ikrar wisuda. Para wisudawan pun mengikutinya.

Pesan Pengasuh untuk Wisudawan

Tak lama, acara berpindah ke orasi ilmiah dari Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Di awal penjelasan, beliau menceritakan cerita seorang bapak yang menyesal tidak memberikan pengajaran ilmu agama kepada anaknya meskipun sering mendapat penghargaan. Singkatnya dia menyesal karena meski peringkat duniawi anaknya bagus, tetapi keagamaannya kurang.

Setelah menceritakan kisah tersebut, Kiai Fathul Bari menyampaikan, “Kalau urusan dunia itu lebih mudah karena waktunya tidak lama.” Dunia itu tidak bertahan lama sehingga mestinya mudah mengurusinya.

Lalu Kiai Fathul Bari memberikan beberapa pesan, “Yang (melanjutkan) di pondok pesantren teruslah mendoakan guru-gurumu agar mendapatkan berkah dan rezekinya lancar. Jangan melanggar meski sekecil jarum. Harus husnulkhatimah.”

Selain itu, beliau mengingatkan agar tidak meninggalkan tanggungan di pondok pesantren, seperti utang, SPP, kantin, dan sebagainya. Beliau juga mengimbau untuk selalu menjaga kesantriannya. “Apalagi saat wisuda, jangan menjelekkan nama baik sekolah dan pondok pesantren,” pesan Kiai Fathul Bari.

Setelah penyampaian orasi, sesi berganti ke pemberian penghargaan piala dan sertifikat bagi wisudawan berprestasi. Selanjutnya, demonstrasi pembacaan nazam Al-Fiyah sebanyak 50 bait oleh 17 santri. Setelah itu, acara berakhir dengan penutup dan doa dari Kiai Samsul Arifin.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU