“Allah itu mewajibkan kita untuk berusaha, bukan sukses. Maka berorientasilah pada proses bukan pada hasil,” Ucap pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Agus Miftah Maulana Habiburrahman yang masyhur disapa Gus Miftah dan sosok dengan gelar uniknya: Presiden Para Pendosa.
Bermanfaat dan konsisten
Dalam kujungan beliau ke Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata), banyak pelajaran hidup yang beliau sampaikan kepada para santri. Terutama pada dari awal penceritaan perjalanan awal beliau dalam mencari ilmu.
Ketika awal masa-masa belajarnya itu, beliau selalu diberi pesan oleh ayah beliau yang berisikan kutipan dari salah satu penggalan Nazam Alfiyah Ibnu Malik:
.كَلامُنَا لَفْظٌ مُفِيدٌ كَاسْتَقِم
Mendengar nasihat ayahnya, beliau pun mengiyakan nasihatnya—walaupun saat itu beliau sama sekali tidak memahami maksud dari nazam tersebut.
“Di pesantren itu kita belajar dulu baru diuji, kalau di masyarakat kita diuji dulu baru belajar,” terang beliau saat mengingat kisah tersebut dam menceritakannya kepada pera santri dan jemaah.
Lambat laun, setelah beliau belajar ilmu Nahwu, barulah beliau tahu maksud dari penggalan nadzom yang disampaikan oleh ayah beliau dulu. “Sebagai manusia kita harus mufid yang artinya bermanfaat dan harus istaqim, dari lafadz Istaqama, yang artinya konsisten.” Beliau menyampaikan hal tersebut karena dewasa ini banyak orang pintar, orang alim yang belum menyampaikan ilmu mereka.
Bersebarangan dengan latar belakang keseharian Gus Miftah, berdakwah kepada berbagai tipe orang yang tak jarang menerima pandangan jelek, seperti lonte, anak-anak jalanan, dan preman. Dari sinilah, maksud dari nasihat ayahnya dapat beliau mengerti dan berusaha menerapkannya. “Kalo bukan Miftah siapa lagi. Kiai itu banyak, tapi yang ngurusi lonte sedikit,” yang disambut gelak tawa hadirin.
Beliau yakin sebenarnya banyak kiai yang lebih alim dari beliau, namun mereka kurang paham cara menyampaikan ilmu mereka kepada target sasaran dakwah. Beliau menyampaikan, komunikasi adalah hal yang penting dalam berdakwah, karena masyarakat kita beraneka macam watak dan sifatnya.
“Kulo yakin banyak kiai yang lebih alim dari saya, tapi nggak ada yang mau dakwah di diskotik dan lokalisasi, atau mereka mau dakwah di sana tapi nggak mau keluar,” lanjut beliau yang membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal.
Dalam tausiyahnya tersebut, beliau juga menekankan, konsep kekonsistenan itu dapat lebig dipelajari di Nazam Alfiyah selanjutnya:
للرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرٍّ نَا صَلَحْ كَاعْرِفْ بِنَا فإنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ
Maksudnya, dalam keadaan apapun, di posisi manapun, entah di atas, di bawah, kita harus tetap pada pendirian kita. Kita tidak boleh goyah hanya karena kita berada di bawah, juga tidak boleh besar kepala karena kita berada di posisi tertinggi.
“Dadi uwong iku kyok dhomir naa, teguh keyakinan, rofa’ nashob jer tetep na. Artine, posisi di atas tetap konsisten, di bawah juga tetap konsisten.” Seru beliau dalam tausiyahnya.
Wajib Usaha, bukan Wajib Sukses
Di sela-sela sambutannya tersebut, beliau menyelipkan sebuah pesan dalam berikhtiar dalam kehidupan: Dalam melakukan apapun yang wajib bagi kita adalah berusaha, kita tidak perlu memikirkan hasil dari apa yang kita lakukan. Mengapa demikian? Karena yang Allah wajibkan pada kita adalah berusaha, dan masalah hasil adalah urusan Allah.
Dalam menjalankan peran kehidupan, kewajiban dalam usaha juga berbeda-beda dan ada porsinya masing-masing. Sebagai santri kewajiban kita adalah belajar, bukan pintar. Sebagai kiai atau guru kewajiban kita adalah memberi pelajaran kepada para santri, bukan memintarkan santri.
Sedangkan sebagai orang tua kita diwajibkan untuk memberikan biaya pembelajaran kepada anak, bukan menggembleng mereka, memaksa mereka untuk pintar. Seperti yang disampaikan oleh Gus Miftah, “Kewajibane santri iku belajar, kewajibane kiai iku mulang, kewajibane wong tuwo iku mbandani.”
Belakangan ini, banyak orang yang terus mengungkit-ungkit hak yang merasa ,ereka harus dapatkan dari sesuatu yang sudah mereka kerjakan. Dan menganggapnya itu sebuah kewajiban.
Ambil contoh saja, tak jarang di zaman ini orang tua, sosok yang berkewajiban menafkahi pembelajaran si anak, merasa rugi dan kerap membodoh-bodohkan si anak karena kegagalan mereka mendapat hasil yang memuaskan seusai belajar. Hasil belajar dari proses pembelajaran yang dinafkahi orangtuanya.
Agar hal yang demikian tidak terjadi, perlu adanya kesadaran dari dua belah pihak. Kita sebagai orang tua tidak perlu menuntut hak kita kepada anak. Namun di posisi anak, kita juga harus sadar bahwa kita juga memiluiki kewajiban untuk memuliakan orang tua, dan mereka berhak untuk itu. “Wong tuwo rausah njalok anak, anak kudu pengertian,” tegas Gus Miftah.
(Abror S/Mediatech)
One Comment
[…] sebagai manusia dibekali akal oleh Allah untuk ikhtiar (berusaha) mengatasi semua masalah yang kita hadapi namun sambil tetap meminta kepada Allah […]