URGEN: Rapid Test Adalah Skrinning, Bukan Diagnosis Pasti

URGEN: Rapid Test Adalah Skrinning, Bukan Diagnosis Pasti

“Hasil Rapid Test menyatakan reaktif bukan berarti positif terserang COVID-19,” demikian tegas dr. Ricoh Citra D, Dokter Umum Klinik BPJS An-Nur II Al-Murtadlo, saat diwawancarai Tim Media Tech An-nur II, Jumat (26/06).
“Agaknya, sambung dokter muda 28 tahun itu, setelah cek darah dinyatakan reaktif, pasien masih perlu menjalani pemeriksaan lanjut berupa SWAB. Yakni mengambil spesimen lendir di tenggorokan untuk kemudian dicek,” tuturnya.


Yang perlu diketahui dengan sungguh terkait proses terinfeksi COVID-19, bahwa setiap tubuh manusia terdapat dua Anti Body yang melawan macam virus. Saat virus masuk dan menyerang bagian tubuh, antibodi Immunoglobulin M (igM) menjadi penangkal agar virus tidak meluas ke bagian tubuh yang lain. Antibodi ini bekerja setidaknya selama 7 hari. Baru kemudian genap seminggu Immunoglobulin G (igG) ikut bereaksi jika memang virus belum juga kalah. “Oleh karenanya, isolasi selama 2 minggu dicanangkan untuk mencegah penyebaran virus dan mengetahui kadar kekebalan tubuh,” kata dokter umum yang merangkap Pimpinan Klinik BPJS An-Nur II itu sejak 18 bulan lalu.
Beberapa gejala seseorang terindikasi COVID-19. Diantaranya; demam dengan suhu badan lebih 37,5°, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas dan mual-mual. Kata dr. Ricoh Citra D, “Di awal seseorang terinfeksi COVID-19 gejala yang sering dialami adalah batuk-batuk (dan) atau pilek. Sebab COVID-19, virus yang menyerang saluran pernapasan itu, berlawan dengan igM. Namun setelah kurang lebih 7 hari, virus mulai memasuki rongga paru-paru juga gelembung-gelembung kecil (Alveoli).”

dr. Ricoh Citra D, Dokter Umum Klinik BPJS An-Nur II Al-Murtadlo


Banyak usaha untuk menghindari COVID-19—atau meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, bertepatan dengan kembalinya santri Ponpes Wisata An-Nur II Al-Murtadlo mulai awal Juli mendatang, dr. Ricoh—yang kerap kali berinteraksi dengan para santri—menyampaikan; santri yang hendak kembali kiranya harus menaati protokol kesehatan sesuai prosedur dari pondok. Juga tidak melupakan cuci tangan, memakai masker, jaga jarak, menggunakan barang pribadi (tidak bertukar pakaian, misal) dan jika ada yang sakit segera dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat.

Baca juga  Jadwal Kegiatan Santri


Selain itu, rekomendasi dari dr. Ricoh agar para santri mewajibkan diri isolasi mandiri sejak tanggal masuk hingga minimal dua minggu ke depan. Menilik data terakhir, Maret lalu, sejumlah 495 santri sempat terjangkit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan, semisal pilek atau batuk), 44 santri mengalami demam dan 16 santri menderita asma. “Dan seusainya, hendaknya dilakukan Rapid Test—dengan mengambil sampel—guna melihat kondisi tubuh dan mengantisipasi penyebaran virus (semoga saja tidak) jika kemudian ditemukan seorang terindikasi gejala COVID-19,” pesan dr. Ricoh Citra sebelum Tim Media Tech pamit undur diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: