‘Unwanul Hikam: Kendalikan Nafsu, Minimalkan Perkumpulan, Menuju Kebaikan

Kajian ‘Unwanul Hikam Ahad Legi

Oleh: Kiai Zainuddin, Lc., M.M.

١٩ – من مد طرفا لفرط الْجَهْل نَحْو هدى … أغضى على الْحق يَوْمًا وَهُوَ خزيان

“Orang yang membiarkan dirinya terjerumus ke dalam kebodohan yang mendalam, maka ia terbutakan dari kebenaran pada suatu hari, dan itu memalukan.”

***

Kebodohan bukan sekadar tidak mengetahui suatu hal. Tidak mengetahui mana yang benar dan salah justru lebih parah lagi. Selain itu hawa nafsu juga membuat ego manusia meningkat. Banyak orang menjadi mementingkan diri sendiri bahkan menyombongkan dirinya dengan mengatakan, “Itu karenaku!” Kebodohan dan hawa nafsu menyebabkan orang-orang seperti itu tidak menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Mestinya manusia yang memiliki sifat rendah dan hina di hadapan Allah harus bisa mengendalikan diri. Hindarkan jiwa dari keegoisan dan menahan hawa nafsu agar tidak mengarahkan pribadi menjadi lebih buruk.

Takutnya egois dan nafsu membuat kita melakukan hal-hal buruk. Alih-alih perkara makruh, perbuatan haram pun mudah dilakukan karena nafsu. Keinginan untuk mencapai segalanya dengan cara apapun, meskipun keharaman yang menjerumuskan diri kepada dosa.

Padahal kelak kita akan melihat semua amal kita, bahkan dilihat oleh semua umat manusia di akhirat. Timbangan amal mana yang lebih berat, amal baik atau buruk?

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“(7) Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Setiap amal baik sekecil apapun tetap memberikan pahala bagi kita. Begitu pula keburukan walaupun tidak terlihat akan memberikan dosa. Jika egois dan nafsu menguasai diri kita, benar dan salah tidak bisa kita bedakan. Seolah semuanya benar, padahal ada salah. Dosapun terkumpul secara tidak sadar.

Amal Baik dan Buruk Menjadi Tanggung Jawab Masing-masing

Sebuah hadis mengatakan,

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah Al-Aslami ra., Rasulullah saw., bersabda, “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia manfaatkan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi No. 2417)

Jika ternyata amal buruk lebih berat di mizan pada hari kiamat, bukankah itu memalukan? Neraka sedang menunggu kedatangan kita menjadi bahan bakarnya. Malaikat menyiapkan alatnya untuk memberikan balasan yang setimpal dari dosa yang kita perbuat di dunia. Seluruh umat manusia pun melihatnya.

Maka dari itu, pengendalian ego dan nafsu sangat penting. Kapan lagi kalau bukan sekarang? Selama masih di dunia, kita maksimalkan waktu untuk berbuat baik dan melatih diri sendiri menjadi lebih kuat. Waktu di dunia ini sangat berharga, sebagaimana ungkapan the time is money (waktu adalah uang). Jangan sampai menyesal saat di akhirat karena kurang timbangan amal baik hanya karena mengikuti ego dan nafsu.

Sering Bergerombol Membuat Diri Semakin Buruk?

٢٠ – من عَاشر النَّاس لَاقَى مِنْهُم نصبا … لِأَن سوسهم بغى وعدوان

“Barang siapa yang sering bergaul dengan gerombolan orang, akan mendapat perlakuan buruk dari mereka, karena tabiat mereka jelek dan bermusuhan.”

Berkumpul dengan orang lain adalah hal yang baik. Namun semakin sering orang berkumpul, kadang hanya mendapatkan kelelahan. Bukannya bersenang-senang untuk refreshing, malah cemoohan menusuk hati kita. Bukan hanya fisik yang lelah untuk pergi-pulang, mental pun sama.

Kalau berpikir dengan adanya media sosial bisa membantu mengurangi perkumpulan, tidak sepenuhnya benar. Media sosial memiliki kelebihan yaitu untuk mendekatkan yang jauh. Kita bisa berkomunikasi dengan orang yang berada di seberang pulau hanya melalui gadget. Namun setiap ada kelebihan, tetap ada kekurangan.

Media sosial justru bisa menjauhkan yang dekat. Teman masa kecil yang sering berkumpul dengan kita dulu, sekarang mungkin sudah tidak lagi. Hanya melalui grup. Satu grup ada banyak orang. Seolah orang-orang tersebut berkumpul dalam satu tempat bernama server. Memang bukan hal yang buruk, tapi berpotensi.

Cemoohan dan ejekan tetap bisa muncul walau hanya berbentuk teks pesan. Lebih parah lagi berbentuk video atau gambar hingga menjadi meme. Mungkin lucu tapi merugikan bagi salah satu pihak. Hal ini membuat hubungan semakin renggang. Permusuhan pun muncul dengan berbagai keburukan.

Pada akhirnya kita harus membagi waktu. Antara berkumpul dan menyendiri harus seimbang. Terlalu banyak berkumpul tidak baik. Mungkin ungkapan, “Semakin sedikit yang kau tahu semakin baik,” bisa kita wujudkan dengan jarang bertemu orang lain. Sebab informasi dengan berbagai versi baik-buruknya kita dapatkan dari orang lain. Tetapi itu juga tidak baik. Yang terbaik adalah keseimbangan.

Sebagaimana ungkapan berbahasa Arab,

خير الأمور أوسطها

“Sebaik-baik perkara adalah pertengahannya.”

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II