Tradisi Unik Iduladha dari Berbagai Daerah

Tradisi Unik Iduladha dari Berbagai Daerah

Bermacam-macam tradisi di berbagai daerah mewarnai Iduladha di Indonesia. Setiap tradisi di berbagai daerah memiliki ciri khas dan filosofi masing-masing. Berikut adalah beberapa dari tradisi tersebut:

1. Accera Kalompoang

Pertama adalah tradisi Accera Kalompoang, Gowa, Sulawesi Selatan. Tradisi ketika Iduladha ini adalah acara pencucian pusaka-pusaka peninggalan Kerajaan Gowa. Pelaksanaan tradisi ini berada di rumah adat Balla Lompoa atau Istana Raja Gowa. Pelaksanaannya biasanya membutuhkan waktu kurang lebih selama dua hari.

Pertama kali munculnya tradisi ini adalah pada masa pemerintahan Sultan Alaudin pada tahun 1051 Hijriah atau 20 September 1605 Masehi.

Awalnya, tradisi ini hanyalah untuk mencuci pusaka peninggalan Kerajaan Gowa. Namun, saat pemerintahan Sultan Hasanuddin, ia menyisipkan sebuah unsur islami, yakni penyembelihan hewan kurban setelah salat Iduladha.

Tradisi ini telah resmi menjadi adat daerah Gowa, dan mendapat sertifikat resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 10 Oktober 2018.

2. Apitan

Kedua, adalah tradisi Apitan, Semarang. Tradisi ini adalah sebagai wujud syukur masyarakat atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Dalam tradisi ini, masyarakat mengumpulkan hasil panen dan membentuknya menjadi tumpeng raksasa. Tradisi ini bermula dengan kesenian daerah seperti wayang kulit dan ketoprak. Inti acara adalah arak-arakan atau berebut hasil panen yang sudah mereka kumpulkan.

Tradisi Apitan adalah modifikasi dari tradisi Hindu oleh wali sanga pada 500 tahun lalu. Tujuan wali sanga menciptakan adat ini agar masyarakat tergiur berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Adat tersebut juga memiliki makna filosofis yakni manusia tercipta dari tanah yang merupakan bagian dari bumi dan tempat pangan manusia yang hidup di atasnya. Nantinya manusia akan mati kembali menyatu dengan tanah.

3. Grebeg Besar

Tradisi ketiga ketika Iduladha adalah Grebeg Besar, Surakarta. Grebeg Besar ialah acara mengarak dua gunungan makanan yang tersusun di keraton. Dua gunungan tersebut bernama Jaler dan Estri. 

Gunungan Jaler tersusun dari hasil bumi sebagai simbol kesuburan. Sedangkan, Gunungan Estri tersusun dari macam-macam makanan kering yang matang sebagai simbol kelimpahan makanan.

Dua gunungan tersebut memiliki makna filosofis. Gunungan Jaler melambangkan laki-laki. Sedangkan gunungan Estri melambangkan perempuan. Gunungan yang menjadi simbol kemakmuran tersebut menunjukkan bahwa di dunia ini terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Selain itu, gunungan Jaler melambangkan kesuburan, sifat baik, dan menggambarkan tentang dunia dan seisinya. Berbeda dengan Gunungan Jaler, Gunungan Estri melambangkan sifat buruk dan perusak. Dari situ, raja menyatukan keduanya sehingga akan menjadi satu kekuatan yang besar untuk  keraton.

(Moch. Athoillahil Qodri/Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II