Tolak Ukur Ilmu Manfaat

Ilmu Manfaat, Tolak Ukur Ilmu Manfaat, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Dalam pengajian pengajian Ahad legi (17/10), KH. Fadhol Ahmad Damhuji menerangkan cara menggapai ilmu manfaat. Pengajian kitab Bidayah Al-Hidayah yang disaksikan ribuan santri itu digelar di pelataran masjid An-Nur II Al-Murtadlo.

“Ilmu yang pelajari di pondok pesantren merupakan ilmu-ilmu prinsip,” tutur Kiai Damhuji. Artinya, ilmu tersebut menjadi dasar dari berbagai ilmu lainnya. Ada ilmu akidah yang berhubungan dengan keimanan; ilmu fikih yang berhubungan dengan penghambaan; ada ilmu akhlak tentang bagaimana bersosialisasi dengan pencipta dan ciptaan. Ilmu-ilmu lain yang juga dipelajari merupakan ilmu pelengkap dari ketiganya.

Jika begitu, mungkin akan terpikir, apa gunanya belajar pengetahuan umum seperti matematika, sejarah, fisika dan yang lain, padahal hal tersebut tidak ditanyakan di alam kubur. Kita tidak akan bisa menjawab, karena pertanyaannya yang salah. Jika seperti itu, maka yang harus kita pelajari hanyalah jawaban dari pertanyaan من ربك؟ من نبيك؟ ما دينك؟ dan من اخوانك؟. Lantas untuk apa kita belajar ilmu akidah dan yang lain jika hanya ditanya tentang itu? sudah jelas bahwa jika kita ingin bisa menjawab pertanyaan tersebut kita harus paham ilmu akidah.

Kita belajar akidah agar kita beriman kepada Allah dan rasul-Nya, agar iman kita tertata dan tidak salah. Sebagai contoh saat kita pergi berziarah ke makam para wali, jika kita tidak paham akidah, jelas bahwa kita meminta kepada selain Allah. Namun, jika paham tentang ilmu akidah kita akan sadar, para wali adalah perantara kita meminta kepada Allah, karena mereka adalah orang yang dekat dengan-Nya.

Ada hadis yang mengatakan, bahwa ilmu yang semakin bertambah namun tak dibarengi dengan ketakwaan, maka pemiliknya akan semakin jauh dari Allah. Hadis ini merupakan satu dari sekian banyak hadis tentang kemanfaatan sebuah ilmu. Kiai Damhuji menyebutkan ciri-ciri Ilmu manfaat.

Pertama, menjadikan kita semakin takut kepada Allah. Takut di sini bukan yang kita ingin menjauhi hal tersebut, melainkan rasa takut yang menjadikan kita ingin lebih dekat dengan-Nya.

Kedua, menjadikan kita sadar akan kekurangan yang kita miliki, apa kelebihan yang dimiliki orang lain.

Ketiga, menambah pengetahuan kita tentang penghambaan kepada Allah. Seberapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada kita, dan seberapa tekun kita dalam menghamba.

Keempat, menjauhkan kita dari cinta dunia. Dengan adanya ilmu manfaat kita akan tahu, semua hal yang berbau duniawi hanya bersifat sementara. Harta, tahta, wanita merupakan cobaan bagi setiap insan di dunia. Mereka yang haus pangkat akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Begitupun mereka yang gila harta, mereka tidak tahu jika harta semakin dikejar, ia akan semakin menjauh. Dan mereka yang sudah memiliki harta dan tahta akan dihadapkan dengan godaan berupa wanita.

Kelima, menumbuhkan rasa cinta terhadap akhirat. Hal ini mendorong kita agar selalu melakukan hal-hal baik yang akan kita petik buahnya kelak di akhirat.Keenam, membuka mata hati. Dengan tebukanya mata hati ita, kita akan mengetahui bahwa dalam menghamba bannyak sekali kekurangan yang masih kita lakukan.

#AHADLEGI

(Muhammad Abror S/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: