Tes DNA Bukan Jawaban
“Berani nggak tes DNA?” Begitulah KH. Imaduddin Utsman menantang Bani Alawi dan memulai polemik nasab. Beliau menantang Bani Alawi untuk membuktikan sambungnya nasab mereka ke Rasulullah dengan cara tes DNA. Beliau berasumsi bahwa metode ini adalah pilihan yang paling tepat untuk membuktikan kesinambungan nasab mereka. Namun, apakah cara ini memang merupakan metode yang tepat?
“Short answer is no (Jawaban singkatnya, tidak),” jawaban Sayid Fikri Syahab terhadap pertanyaan itu dalam sebuah konten video di kanal YouTube Nabawi TV. Dalam video itu, beliau menjelaskan bahwa metode tes DNA tidak bisa membuktikan kesinambungan nasab seseorang dengan generasi yang berjauhan, karena terdapat beberapa faktor.
Salah satu faktornya adalah banyaknya perubahan gen selama kurang lebih 14 abad. Data yang muncul pun beragam dan pola setiap gen tidak sama. Akurasi ketepatan metode ini pun menjadi sangat kecil, sehingga data yang muncul tidak bisa menjadi prioritas.
Para ilmuwan mengatakan bahwa tes DNA memiliki nilai ketepatan yang sedikit. Profesor David Balding dan Mark Thomas selaku ilmuwan genetika mengatakan, bahwa seseorang tidak bisa melihat garis keturunannya dengan melihat DNA, kecuali dengan ia melihat silsilah tertulisnya.
Selain itu, di Saudi Arabia terdapat dua ketetapan mengenai tes DNA. Pertama, secara syariat tidak boleh menggunakan tes DNA untuk mengingkari nasab seseorang, serta tidak boleh menggunakannya sebagai dalih untuk melaknat. Kedua, tidak boleh menggunakan tes DNA untuk memastikan nasab yang sudah pasti masyhur.
Dari situ, artinya tes DNA bukanlah tool (alat) yang tepat untuk menangani kasus ini. Hal ini ibarat seseorang ingin mengetahui tinggi pohon kelapa dengan menggunakan neraca: tidak akan bisa.
Kebenaran Nasab Bani Alawi
Dalam menangani masalah ini, mayoritas ulama menyepakati sebuah metode yang bernama Syuhrah wal Istifadhah yang berarti ketenaran dan persebaran. Nasab Bani Alawi sangat masyhur dan juga tersebar di berbagai wilayah. Berarti, Bani Alawi sudah memenuhi Syuhrah wal Istifadhah, sehingga mereka bisa menyandang gelar sayid.
Sebenarnya gelar sayid hanya untuk seseorang yang nasabnya benar-benar terverifikasi sambung dengan Rasulullah. Selain itu, di antara para sayid, terdapat beberapa yang mendapat gelar Naqabatul Asyraf (pemimpin para sayid). Pemberian gelar ini membutuhkan pertimbangan yang sangat besar. Sedangkan sayid dari Bani Alawi sering mendapat gelar itu, yang berarti bahwa nasab Bani Alawi benar-benar terpercaya.
Dari beberapa faktor di atas, nasab Bani Alawi tentu sambung dengan Rasulullah. Pendapat KH. Imaddudin yang mengatakan jika tes DNA bisa menjadi bukti adalah kesalahan besar.
(Moch Athoillahil Qodri/Mediatech)
