Apakah ada yang tahu layang-layang? Jika sudah tahu, mari membahas sedikit tentangnya. Namun, kalau belum tahu, lebih baik tanya-tanya dulu ke teman atau orang lain. Bisa juga dengan mencari sendiri di internet. Soalnya bakal sia-sia menelaah sesuatu yang belum kita mengerti.
Oke. Jadi, ada apa dengan layang-layang?
Tulisan buruk rupa ini bukan membahas definisi layang-layang. Akan tetapi lebih kepada maknanya yang terbang di atas. Apakah dia itu bebas terbang di atas atau masih terikat oleh sesuatu.
Layang-layang merupakan lembaran tipis yang terbang karena terangkat oleh hembusan angin, tapi dia masih berada di bawah kendali tali dan benang. Dia yang terbang itu seolah menandakan kebebasan.
Dia yang berada di atas awan bisa menikmati pemandangan di bawah itu ternyata terikat dengan benang. . Lepas, tapi masih terikat.
Dia masih harus mematuhi arahan dari pemegang benang. Ketika pemegang benang menariknya dia akan tertarik. Menarik ke kanan, ikut ke kanan. Begitu juga ke kiri.
Hal itu sama dengan santri. Segi persamaannya adalah santri itu lepas tapi terikat. Contohnya saja saat liburan. Liburan, santri bebas mau kemana pun boleh melakukan apapun. Hanya saja, santri akan selalu terikat dengan istilah “santri” di mana pun dan kapanpun.
Sama dengan layang-layang, santri masih terikat dengan benang takdir Tuhan. Sebenarnya, garis takdir mengikat seluruh makhluk. Oleh karenanya, santri juga terikat dengan takdir Tuhan. Sehingga, santri tidak bisa merasa bebas di mana pun ia berada.
Sebuah simpul yang mengikat santri adalah pengekang. Santri tidak bisa bebas, santri tidak seperti hewan tanpa akal atau yang lebih buruk lagi. Sebab hewan saja masih mengerti mana perbuatan baik dan bukan.
Pengekang tersebut akan mengarahkan santri ke arah yang baik. Menggiring santri menuju ke arah yang baik. Semisal santri memiliki niatan untuk berzina, gelar santri miliknya itulah yang akan menghentikannya dan membuatnya menoleh ke arah yang baik.
Arahan yang baik inilah sesuatu yang megontrol pergerakan. Namun mereka menganggap arahan baik tersebut sebagai hal yang bersifat kekunoan dan klasik. Padahal arahan tersebut berasal dari Allah. Tuhan yang menciptakan segalanya dan mengetahui segalanya. Sehingga, Allah lah yang mengerti penempatan terbaik untuk semua hamba-Nya. Penempatan mana yang baik dan mana yang buruk.
Artinya, terkadang manusia salah mengartikan pengetahuan Allah yang tiada batasnya. Manusia dengan kebodohannya dan keterbatasannya tidak bisa menggapai pengetahuan tanpa batas milik Allah SWT.
Maka dari itu, pondok pesantren membuat segala aturan dan larangan bukanlah hal yang membatasi atau memenjarai. Pengekang tersebut adalah arahan menuju ke yang lebih baik.
(Firman/Lingkar Pesantren)