Temu Kangen: Anak Butuh Bimbingan, Berikut Tata Caranya

Kajian Bughyatul Ikhwan fi Riyadhatil Shibyan Pondok Pesantren An-Nur II

Kajian Kitab Bugyatul Ikhwan fi Riyadhatil Shibyan

Oleh: Kiai Ahmad Zainuddin, M.M.

annur2.net – Mendidik dan membimbing anak dari kecil itu suatu keharusan bagi orang tua. Hal itu akan menjadi perkara penting untuk perjalanan hidup si anak. Karena anak adalah amanah bagi para orang tua.

Anak kecil itu seperti halnya lilin atau plastisin yang bersih dan mudah dibentuk. Maka orang tua harus membentuk karakter baik pada diri anak mulai usia dini, sebab pada masa itu lebih dapat menerima daripada saat dewasa.

ٱلتَّعْلِيمُ فِي ٱلصِّغَرِ كَٱلنَّقْشِ عَلَى ٱلْحَجَرِ

Artinya: “Belajar (didikan) di waktu kecil itu seperti mengukir di atas batu (sangat kuat dan membekas).”

Memiliki anak salih dan berbakti kepada kedua orang tua merupakan nikmat paling mulia yang Allah Swt., berikan di antara semua kenikmatan yang ada. Harta yang sangat melimpah pun tidak dapat menandingi kenikmatan punya anak salih.

مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ وَلَدٌ صَالِحٌ

Artinya: “Di antara nikmat Allah yang paling agung bagi seorang hamba adalah anak yang saleh.”

Keuntungan mendidik anak sejak kecil adalah menambah kebaikan dan keberuntungan si anak ketika ia sudah dewasa.

Jaga Sandang, Papan, dan Pangan si Anak

Mulailah membimbing anak dari makanan dan minumannya. Berikan yang menyehatkan dan halal. Kemudian ajarkan tata cara makan dan minum yang benar; mengawali dengan membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, dan lain sebagainya.

Bagi para orang tua jangan selalu memberi makanan yang mewah dan enak. Tetapi berikan yang sederhana untuk mendidiknya menjalani hidup sederhana. Supaya nantinya lebih sabar dalam menghadapi kesulitan.

Ini juga sudah berlaku di berbagai lembaga pendidikan pondok pesantren. Santri tidak setiap hari mendapat makanan mewah dan enak. Melainkan ada jadwalnya supaya terbiasa hidup sederhana.

Seperti anak Ustaz Solmed, sebelum dia mondok, makanan yang dia makan harus grade A tidak mau selainnya. Tetapi itu berubah setelah mondok. Makanan apapun dia tetap mau.

Selain makanan dan minuman, orang tua juga harus berhati-hati dalam memberi pakaian kepada anaknya. Berikan yang sederhana tidak bermewah-mewah. Jangan berikan pakaian yang mencolok kepada anak laki-laki karena itu untuk anak perempuan.

Intinya orang tua harus mencegah anaknya dari kehidupan yang selalu enak. Tetapi juga perlu mengajarkan hidup yang sederhana tidak dimanjakan seperti tidur di kasur yang tebal nan empuk.

Berikan Pergaulan yang Terbaik

Pendidikan dari usia dini memang dibutuhkan. Tetapi jangan berlebihan terutama pada anak yang masih seusia TK atau MI. Berikan mereka waktu jeda untuk bermain agar hati mereka tidak mati.

Selain itu, lingkungan pergaulan anak sangat butuh pengawasan yang ketat dari orang tua. Pergaulan itu dapat mengubah watak dan perilaku si anak.

Maka berikan pergaulan teman-teman yang baik dan salih jauhkan mereka dari orang-orang yang jahat dan fasik.

Seorang anak juga butuh mendapat apresiasi dan hadiah atas kebaikan dan prestasinya. Supaya dia senang dan optimis untuk selalu berbuat baik dan menggapai berbagai prestasi.

Tetapi saat ia melakukan kesalahan orang tua juga harus memberikan hukuman terhadap anaknya. Dengan cara menegurnya di tempat privat dan tidak banyak bicara melainkan langsung ke inti nasihat. Tata cara ini agar mental si anak tidak turun dan lebih dapat memahami kesalahan yang sudah ia perbuat.

Pendidikan Lebih Penting daripada Harta 

Hal yang terpenting harus para orang tua tanamkan pada diri si anak. Menanamkan kecintaan kepada ilmu daripada harta kekayaan.

Ilmu sesuatu yang bermanfaat selama hidup hingga mati dan tidak akan pernah habis. Sedangkan harta kekayaan itu akan habis dan ditinggalkan ketika sudah mati.

Seseorang akan mulia dengan ilmunya meski dia orang miskin atau orang yang dijauhi masyarakat seandainya tidak memiliki ilmu. Masyarakat dari berbagai kalangan bahkan pejabat akan menemuinya sebagai rujukan permasalahan.

“Kemuliaan ada pada ilmu dan amal.” Jelas Kiai Zainuddin.

Jangan Membanggakan Nasab

Dalam mendidik anak, orang tua juga harus menanamkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada nasab atau keturunan, melainkan pada iman dan ketakwaan. Banyak orang terjatuh dalam kesombongan karena merasa berasal dari keluarga terpandang.

Allah Swt., berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjadi dasar bahwa anak tidak boleh dibiasakan membanggakan dengan keturunan, karena hal itu dapat merusak akhlaknya. Orang tua harus mengarahkan anak agar bangga dengan amal saleh, bukan asal-usul keluarga.

Dunia Sementara, Akhirat Tujuan Utama

Anak juga perlu ditanamkan sejak dini bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama dan tempat yang kekal.

Dengan pemahaman ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak silau oleh kemewahan dunia, serta lebih fokus pada amal ibadah dan kebaikan.

Pada akhirnya, mendidik anak adalah kewajiban besar bagi orang tua, terutama seorang ayah sebagai pemimpin dalam keluarga. Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Allah Swt., berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan duniawi anak, tetapi juga wajib membimbing mereka menuju keselamatan akhirat.

Maka dari itu, seorang ayah khususnya, harus bersungguh-sungguh dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan. Karena kelak, bukan hanya anak yang ditanya, tetapi juga orang tua tentang bagaimana mereka menjalankan amanah tersebut.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU