Tak Pernah Mengaji, Jadi Mubaligh

Kiai Kentir. Tak Pernah Mengaji, Jadi Mubaligh

 

“Gundulmu kono!”

Julukannya saja Kiai Kentir. Malah-malah di daerah Lumajang dan sekitarnya, ia disebut Kiai Samber Nyowo lantaran kesaktiannya. Disebut Samber Nyowo, Kiai itu punya cerita. Dulu, ketika beliau berdakwah di daerah Lumajang, sound sistem untuk beliau gunakan ceramah mati.

 

Diduga kejadian itu lantaran ulah para dukun santet yang ingin jail dan membatalkan dakwah itu. Karena beliau seorang kiai, dikirimlah surat Al-Fatihah kepada para kiai sepuhnya. Lalu diambilnya sepatu beliau yang sebelah dan digunakannya sebagai mikrofon. Sound sistem pun menyala dengan mic sepatu itu.

Adapun beliau juga dijuluki Kiai Kentir lantaran gaya ceramahnya yang blak-blakan dan sangat merakyat. Kata “Gundulmu kono!” beberapa kali disebutkannya dan membuat para jama’ah pengajian rutin “Ahad Legi” yang hadir pada Ahad, 1 April 2018 ini tertawa ramai.

 

Kiai Kentir murid Kiai Badruddin

Beliau adalah Kiai Masyhur asal Putat Kidul, Gondanglegi, Malang. Seorang alumni Pondok Pesantren Wisata An-Nur II ini, dulunya pernah nyantri ke Kiai Badruddin sejak tahun 1982 hingga 1986. 4 tahun nyantri, Kiai Masyhur mengaku tidak pernah mengaji. “Dulu saya tidak pernah ngaji, tapi sudah disuruh boyong (keluar)” ujarnya mengenang perkata’an Kiai Badruddin.

 

Baru dua tahun mondok, Masyhur yang masih jadi santri itu diutus oleh Kiai Badruddin untuk menjadi muazin sholat 5 waktu. “Tidak ada yang berani adzan di masjid kecuali saya” tuturnya.

 

Ada cerita unik antara si Kiai Kentir itu dengan Kiai Badruddin. Memang semasa mondoknya Masyhur waktu itu tidak pernah mengaji. Tetapi, tidak serta merta pula ketika boyong ia menjadi kiai yang terkenal hingga Solo itu.

 

Masa mondoknya, Masyhur adalah santri yang setia memijat Kiai Badruddin setiap malam. “Din!”, begitulah Kiai Badruddin memanggilnya, “Ojo mandek sakdurung e aku turu! (jangan berhenti sebelum aku tidur!)” ujar Kiai Masyhur menirukan gaya gurunya itu. Beliau pun terus memijat Kiai sampai lama.

 

Masyhur pun merasa Kiai Badruddin sudah tidur. Lalu beliau berhenti dan mengunci kamar kiai kemudian melempar kunci kamar itu dari bawah pintu. Seperti yang diperintahkan Kiai Badruddin kepadanya.

 

Karena terlalu keras ketika melempar kunci, Masyhur menganggap Kiai Terbangun. “Loh Din! Kok wes mandek? (Loh Din! Kok sudah berhenti?)”, Kiai Badruddin berkata dari dalam kamar. Masyhur pun kembali memijat kiai. Dan kejadian itu pun berulang-ulang ia alami. Tetapi, meskipun capai, katanya, Kiai Masyhur tetap ikhlas memijat Kiai Bad. Dan karena ta’dzim itulah Kiai Masyhur menjadi seorang mubalig ternama.

 

Sebuah Pesan Kepada Kiai Samber Nyowo

 

Kon mbesok lak dadi kiai nyambuto gawe! (Suatu saat nanti kalau kamu menjadi kiai, bekerjalah!)” ujar Kiai Masyhur menirukan gaya bicara Kiai badruddin. Kiai Masyhur yang saat itu masih berstatus santri, tidak tahu apa maksud pesan Kiai Badruddin itu. Berhari-hari beliau merenungkannya.

 

Dan kini, ketika beliau sudah menjadi kiai, seperti apa yang dikatakan Kiai Badruddin, Kiai Masyhur mengerti. Maksudnya adalah supaya rasa ikhlas sebagai seorang mubaligh itu timbul. Jadi dengan bekerja, dakwah menjadi sarana untuk mengamalkan ilmu dengan ikhlas, tidak semata-mata mengharap imbalan.

 

Pesan itu pun beliau implementasikan dengan berwira usaha sebagai belantik. Yaitu seorang jagal sapi di pasar Gondanglegi. Dan tokonya itu akrab disebut jagal Kiai Masyhur. Demikianlah alumni An-nur II itu menjadi seorang kiai terkenal.

 

Bukan karena kepandaiannya di masa mondok, melainkan berkat barokah dari gurunya yang didapatkannya karena rasa ikhlas dan ta’dzim kepada sang kiai. Tidak mungkin tanpa barokah dari beliau pengasuh, Masyhur menjadi kiai yang masyhur pula. “O gundulmu kono!”, kalau kata beliau.

Pewarta : Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: