<strong>Tahun yang Pahit untuk Nabi</strong>

Nabi Muhammad SAW, manusia termulia, satu-satunya manusia yang bertemu dengan Allah. Namun sebelum mendapatkan kenikmatan tersebut, beliau mendapat cobaan yang berat.

Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah. Meski begitu tidak membuat beliau terlepas dari musibah. Malahan cobaan yang menimpa beliau sangat berat, seperti mendapat perundungan dari kaum kafir. Bukan hanya perundungan biasa, tapi melibatkan fisik, mental, dan bahkan pernah melalui sihir.

Tidak berhenti di sana. Lantaran Nabi mendapat gangguan dari kaum kafir, beliau sering kehilangan orang-orang yang beliau sayangi. Ada satu tahun yang begitu menyakitkan dalam hidup beliau. `Amul Huzni namanya.

`Amul Huzni adalah tahun duka cita Nabi karena kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Dua orang itu ialah Khadijah binti Khuwailid, istri beliau dan Abu Thalib, paman yang merawat beliau.

Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi umatnya, Nabi SAW yang notabenenya kekasih Allah SWT tetap mendapatkan penderitaan. Hidup beliau, meski menyandang gelar manusia termulia, tidaklah seindah drama di televisi. Seharusnya kita sebagai umatnya meniru kesabaran beliau.

Kala itu adalah tahun 619 M atau tahun kesepuluh kenabian. Tiga tahun sebelumnya, tahun ketujuh kenabian, kaum muslimin mendapat penderitaan yang menyakitkan akibat ulah kaum kafir.

Tahun 616 hingga 619, Penuh Penderitaan

Ternyata semakin merebaknya Islam, membuat kaum kafir mengambil langkah ekstrem. Mereka membuat kesepakatan tertulis yang mereka tuangkan di piagam dan menggantungnya di Ka’bah.

Isinya sangat memberatkan kaum muslim. Mereka memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib secara total, baik transaksi jual beli maupun pernikahan dalam bentuk apapun. Pikir mereka, cara ini lebih efektif daripada kekerasan dan penyiksaan agar kaum muslim jera.

Dampaknya, kaum muslim benar-benar mengalami kesulitan. Mereka susah mencari makanan, susah mengatasi ekonomi, dan mereka juga tidak bisa bergaul dengan orang lain kecuali di bulan-bulan mulia saat permusuhan mereda.

Selama tiga tahun para muslimin berada dalam simulasi neraka. Mereka harus memakan dedaunan, atau menggoreng barang-barang milik mereka yang terbuat dari kulit.

Berada dalam keadaan mengerikan itu, kaum muslim tetap tegar dan bersabar. Dengan keterbasan yang mereka miliki, ikatan persaudaraan antar muslim meningkat dan hal ini membuat kabilah lain takjub.

Beberapa pembesar kabilah seperti Hisyam bin Amr, Zuhair bin Umayyah (suku Makhzum), Muth’im bin Adi’ (Bani Nafwal), Abu al-Bakhtari (suku Asad), dan Zam’ah bin al-Aswad (suku Asad), membujuk kaum kafir Quraisy untuk mencabut pemboikotan.

Tentu tidak semudah itu. Bujukan mereka mendapat penolakan dari Abu Jahal. Hanya saja, ketika Muth’im memasuki Ka’bah, ia menemui rayap-rayap memakan piagam pemboikotan kecuali bagian “Dengan nama-Mu Ya Allah”. Abu Jahal pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Allah memberi tahu Rasul bahwa rayap-rayap telah memakan piagam tersebut. Beliau mengatakan perihal ini kepada Abu Thalib. Abu Thalib segera menuju kaum Quraisy untuk menuntut pencabutan pemboikotan. Singkat cerita mereka menyetujuinya dan melepas pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.

Martin Lings dalam Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, menyebutkan bahwa tidak lama setelah pencabutan pemboikotan, Sayyidah Khadijah, istri yang senantiasa mendukung Rasulullah wafat. Cinta pertama beliau pergi mendahuluinya.

Ibnu Ishaq mengatakan: “Setelah Khadijah bin Khuwailid wafat, paman beliau, Abu Thalib juga menyusulnya.” Jadilah tahun itu tahun duka cita untuk Nabi SAW.

Allah SWT di tahun setelahnya pun mengadakan rihlah khusus untuk Nabi. Sebuah perjalanan yang mulia. Peristiwa penting yang menjadi landasan perintah salat lima waktu. Jalan-jalan ini juga untuk menghibur Nabi yang telah kehilangan dua orang yang paling beliau sayangi.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)


Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II