“Tahlil dapat 30 hari, Kiai iku ngekei duek 30 ewu nang Kiai Dam (Tahlil dapat 30 hari, Kiai memberikan uang 30 ribu ke Kiai Dam).” Begitulah cerita yang disampaikan Ustaz Mukhlis. Pada hari ke 30 tahlil untuk Kiai Anwar atau lebih tepatnya tanggal 19 Februari 2017, tiba-tiba Kiai Bad memanggil Kiai Dam ke ndalem timur. Beliau memberikan Kiai Dam uang 30 ribu dalam bentuk pecahan tiga uang kertas 10 ribu. “Pak Dam, niki paringaken tiang mantun niki dugi setunggal, seng kaleh terserah samean (Pak Dam, ini berikan ke orang yang setelah ini datang, dua sisanya terserah mau kamu kasih ke siapa).”
Dalam dawuh tersebut Kiai Bad memerintahkan Kiai Dam untuk memberikan satu 10 ribu itu kepada orang yang akan datang kala itu. Setelah sekian lama Kiai Dam menunggu hingga waktu tahlil tiba, belum ada yang datang juga. Kiai Dam pun pamit pada Kiai Bad untuk melaksanakan tahlil. Benar saja, setelah Kiai Dam keluar dari ndalem barat, ada seorang wali santri perempuan yang entah dengan tujuan apa datang ke sana. Kiai Dam pun memberikan uang 10 ribu itu, sesuai dengan perintah beliau.
Kedua uang sisanya bingung ingin ia berikan ke siapa, lantas ia memberikannya ke dua orang ustaz yang kala itu ikut memimpin tahlil bersama dengannya. Kedua ustaz itu ialah Ustaz Mukhlis, dan Ustaz Imam Hanafi. “Lis, iki tekok yai, mboh wes pokok e tekok yai, simpenen (Lis ini dari Kiai, tidak tahu pokoknya dari Kiai, simpanlah).” Begitulah yang Kiai Dam sampaikan saat memberikan uang tersebut ke Ustaz Mukhlis, sesuai dengan yang Ustaz Mukhlis sampaikan saat bercerita. Namun sepengetahuan Ustaz Imam Hanafi uang 10 ribu itu tetap pada Kiai Dam, tidak diberikan ke siapa-siapa (tidak diberikan ke wali santri), “Iki sampean simpen. berarti sing diparingi kulo, Pak Mukhlis, kaleh Almagfurlah Kiai Dam (Ini kamu simpan. Berarti yang dikasih itu saya, Pak Mukhlis, sama Almagfurlah Kiai Dam).”
Ustaz Mukhlis dan Ustaz Imam Hanafi masih menyimpan uang pecahan 10 ribu tersebut sampai saat ini. Uang tersebut merupakan uang 10 ribu cetakan tahun 2013. Mereka berdua juga menuliskan tanggal Kiai Bad memberikan uang tersebut. Entah atas dasar apa Kiai Bad memberi Kiai Dam uang tersebut. Bahkan Kiai Dam pun tidak tahu, mengapa diberi uang tersebut, “Mari iku menene Kiai Dam, ‘Lha iyo kok pas 30 ewu yo?’ (Besoknya Kiai Dam berkata, ‘Lah iya, kok pas 30 ribu ya?’)” Ujar Ustaz Mukhlis saat bercerita menirukan ucapan Kiai Dam.
Uang 10 Ribu: Hikmah dan Kenangan
Uang 30 ribu yang Kiai Bad berikan bukan hanya pemberian belaka. Ustaz Imam Hanafi menganggap Kiai Bad ingin mengingatkan, bahwa dunia merupakan hal yang sedikit jika dibandingkan dengan akhirat. “Mungkin maksudnya beliau Mbah Kiai Bad, ‘Dunyo iku mung titik dibandingkan akhirat(Dunia itu hanya sedikit dibandingkan akhirat)’. Uang 10.000 dunia, tahlilan 40 hari akhirat.” Ujarnya lewat pesan. Ia juga menafsiri uang tersebut dengan tafsiran lain, “Atau urep dek dunyo iku diluk, sedangkan Urip dek akhirat iku suwe (Hidup di dunia itu sebentar, sedangkan hidup di akhirat itu lama)’.”
Menurut Ustaz Mukhlis sendiri, uang tersebut adalah kenang-kenangan terakhirnya dari Kiai Bad. Selain uang 10 ribu itu, ia juga menyimpan beberapa kenang-kenangan lain, salah satunya uang satu Riyal yang diberikan oleh Bu Nyai Badi saat umrah terakhir bersama Kiai Bad.
(Farkhan Wildana S./Mediatech An-Nur II)
