Syuhada Nanggala 402

nanggala, Syuhada Nanggala 402, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Pada tahun 2021, bangsa Indonesia didera oleh beberapa bencana. Contoh pada bulan Januari yang terjadi bencana jatuhnya peasawat Sriwijaya Air SJ-182 yang menewaskan 55 orang. Februari terjadi banjir di Kalimantan. Maret terjadi kebakaran pertamina Indramayu. Dan yang terakhir adalah bencana yang menimpa daerah kita sendiri yaitu gempa bumi yang berskala 6,7 skala richer dan berefek sampai 15 kabupaten di Jawa Timur

Dan bencana yang sama terjadi di bulan April. Tenggelamnya kapal selam yang dibuat tahun 1977, KRI Nanggala 402 yang terjadi di Pulau Bali saat melakukan latihan di perairan utara Pulau Bali. Dan kapal selam ini di temukan 800 meter di bawah laut yang seharunya kedalaman maksimal hanya 300 meter. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto secara langsung mengumumkan bahwa semua awak KRI Nanggala-402 yang berjumlah 53 orang dipastikan gugur. Dan dikabarkan bahwa 35 prajurit terbaik Negara Indonesia dinyatakan tewas.

Pondok Pesantren Annur 2 ‘Al-Murtadlo’ turut berbela sungkawa atas terjadinya tragedi Tenggelamnya KRI Nanggala-402. Kejadian itu merupakan insiden fatal terbaru yang terkait dengan kapal selam di seluruh dunia. Banyak negara yang turut berbela sungkawa pula. Dan para awak muslim yang ikut latihan tersebut bisa dikatakan sebagai syuhada, orang yang mati syahid.

Mati Syahid

Apa itu syahid? Yaitu orang yang disaksikan karena ruh mereka menyaksikan surga, sedangkan orang mati selain syahid ruhnya menyaksikan surga di hari kiamat nanti.

Rasul bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, siapa yang bisa disebut dengan mati syahid?” Dan sahabat pun menjawab pertanyaan Nabi, “Orang yang mati syahid itu orang yang mati Fisabilillah atau mati di jalan Allah, yaitu ketika mati dalam keadaan perang.”

Nabi pun menaggapi jawab sahabatnya, “Jika yang disebut mati syahid hanya satu saja yaitu orang jihad Fisabilillah atau mati di jalan Allah, maka umatku sangat sedikit.”

Hadis yang meriwayatkan tujuh macam mati syahid kecuali berperang. Namun jika yang dimaksud syahid di sini adalah syahid akhirat, maka ada tujuh golongan yang disebutkan lengkap dalam hadis berikut,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِى يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘Azza wa Jalla (perang) itu ada tujuh orang. Yaitu (1) korban wabah adalah syahid, (2) mati tenggelam ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan adalah syahid, (3) yang punya luka pada lambung lalu mati maka matinya adalah syahid, (4) mati karena penyakit perut adalah syahid, (5) korban kebakaran adalah syahid, (6) yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan (7) seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud 3111).

Dan semua orang yang mati syahid itu semua dosanya akan diampuni oleh Allah SWT kecuali utang. Jika ada seseorang mati dalam berutang, maka wajib untuk melunasi utang tersebut.

Nabi menjelaskan di dalam hadis qudsi, “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin di sisi-Ku di waktu aku menawarkan kekasihnya dari ahli surga, kemudian ia ikhlas dan rida. Maka orang itu akan mendapatikan surga. Dalam surah Luqman ayat 34 disebutkan,

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Kisah Orang Lari dari kematian

Kematian tidak dapat dihalau dengan apapun. Malaikat Izrail datang pada siapa saja yang sudah ditentukan untuk mati. Tidak ada yang bisa kabur darinya. Bahkan orang yang begitu dekat dengan Allah SWT sekalipun.

Ada kisah penuh hikmat tentang kematian, yaitu ketika Nabi Sulaiman AS membantu seorang lelaki kabur dari Malaikat Izrail. Satu hari, Malaikat Izrail datang ke Nabi Sulaiman AS. Malaikat Izrail tiba-tiba menatap seorang laki-laki di samping Nabi Sulaiman.

Tetapi, Izrail kemudian pergi. Laki-laki yang ditunjuk Izrail bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Nabi Allah, siapa dia?”

“Dia adalah malaikat maut.” Nabi Sulaiman berkata.

“Wahai Nabi! Tadi aku melihat dia selalu melirik kepadaku. Aku menjadi sangat takut. Jangan-jangan dia hendak mencabut nyawaku. Selamatkan aku dari cengkeramannya,” kata pria itu.

“Bagaimana caranya aku menyelamatkanmu?” tanya Nabi Sulaiman.

“Anda mempunyai keistimewaaan dapat memerintahkan angin, suruh saja angin untuk membawaku ke negeri India. Mungkin saja dengan begitu dia akan kehilangan jejakku. Dan tidak akan bisa menemukanku,” kata pria itu.

Nabi Sulaiman lalu memerintahkan angin untuk membawa pria tersebut ke tujuan dalam waktu sekejap saja. Angin pun segera melaksanakan perintah Nabi Sulaiman.

Sayangnya, setiba si pria di tujuan, Malaikat Izrail mencabut nyawanya. Kemudian, Malaikat Izrail kembali menemui Nabi Sulaiman.

Melihat hal itu, Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Izrail, “Mengapa engkau tadi melirik kepada laki-laki itu dengan tatapan yang tajam?”

“Aku merasa sangat heran. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di India. Namun keberadaannya saat itu sangat jauh dari negeri itu. Hingga akhirnya tiba-tiba ada angin yang membawanya sampai ke negeri itu. Lalu kucabut nyawanya di negeri itu pula, sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT,” kata Malaikat Izrail.

Kematian Tak Pandang Waktu

Kisah ini menunjukkan kematian datang kapan saja kepada seseorang yang sudah ditetapkan. Meskipun berusaha menghindar, seorang manusia tetap akan mati. Allah berfirman dalam surah Al-Jumu’ah ayat 8,

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’”

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Dr. KH. Fathul Bari S.S., M.Ag. (26/04/2021)

(M. Naufal/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: