Haul keenam Kiai Bad, pengasuh pertama Pondok Pesantren An-Nur II terwarnai dengan mauizah hasanah dari Syekh Prof. Dr. Fadil Al-Jailani Al-Hasani. Beliau menyampaikan dengan bahasa Arab, tapi di samping beliau duduklah Ustaz Ali yang menerjemahkan perkataan beliau. Berada di Raudlah (makam Pengasuh Pertama) hari Sabtu (24/12/2022).
Kesempatan mauizah hasanah kali ini, beliau menyampaikan masalah adab atau etika sebagai orang Islam. Bagaimana berperilaku baik kepada Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kebaikan, juga kepada mursyid, orang-orang yang telah membimbing kita.
Pertama, masalah berakhlak kepada Nabi. Sudah banyak, dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bagaimana perilaku terhadap Nabi, sekaligus mencontohkannya. Dalam hadis-hadis pun menerangkan. Lebih-lebih ialah potret perilaku para sahabat yang menjadi contoh dalam beradab kepada Sang Nabi.
Allah SWT karena begitu cintanya kepada Rasulnya, jika menyebut namanya tidak garingan. Allah SWT menyertakan pujian juga setelah nama beliau. Inilah contoh dari Allah SWT untuk umat Nabi, bagaimana seharusnya ketika menyebut nama beliau. Selain itu, dalam ayat-ayat yang memiliki makna perintah, seperti ayat pertama Surah Al-Ikhlas, Allah tidak pernah menyebut nama Nabi.
Namun, semua tafsir menafsirkan jika lawan bicaranya adalah Nabi Muhammad SAW. Dalam tafsir-tafsir lain-ucap Syekh Fadil-langsung menyebut nama Nabi. Jadinya seperti ini, “Qul Ya Muhammad.” Akan tetapi, dalam tafsir Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, tidak menyebut nama beliau. Melainkan seperti Rasulullah atau yang lain. Syekh Abdul Qadir mengamalkan ilmunya agar tidak menyebut nama beliau secara langsung.
Bahkan Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berselawat dan salam kepada Nabi. Allah, sengaja mengkhususkan orang-orang yang beriman, tidak menggunakan redaksi muslim saja. Lantaran, orang yang berima adalah orang yang mengamalkan syariat dengan benar dan memiliki kecintaan terhadap Nabi. Berbeda dengan muslim yang masih belum tentu dalam tahap tersebut.
Perilaku untuk tidak menyebut nama Nabi secara langsung tentu saja para sahabat mengamalkannya. Para sahabat tidak pernah menyebut nama beliau. Mereka hanya menggunakan julukan saja. Entah itu saat menyapa atau saat memanggil beliau. Begitu juga dengan para ulama seperti Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
Ada seorang sahabat yang mengunjungi beliau. Ia ketika menyampaikan salam, tidaklah menyebut nama Nabi secara langsung. Juga semua riwayat hadis, semisal hadis yang diriwayatkan oleh Ali. Maka hadis tersebut akan seperti ini, “Ali berkata, bahwa Rasulullah bersabda.” Bukan menggunakan nama beliau.
Banyak orang yang berada di atas mimbar tidak sopan saat menyebut-nyebut Nabi. Yaitu lantaran mereka mengucapkan nama Nabi. Hal ini, menurut Syekh Fadil adalah hal yang salah. Padahal seorang rajanya wali, Syekh Abdul Qodir dalam selawat karangannya tidak menggunakan nama Nabi kecuali selawat yang memang riwayat dari suatu hadis.
Beginilah penampilan akhlak-akhlak para sahabat kepada Sang Utusan. Sebagaimana, para sahabat menghormat Nabi perlu juga untuk santri dan orang-orang menghormati ulama. Sebab seorang ulama merupakan pewaris nabi, perlu untuk menghormati mereka juga.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)