Syekh Fadhil Al-Jailani: Keistimewaan Pencari Ilmu

Syekh Fadhil Al-Jailani: Keistimewaan Pencari Ilmu

“Semua nabi dimotivasi untuk mencari ilmu,” tutur Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. menerjemah nasihat dari Syekh Prof. Dr. Fadhil Al-Jailani, Senin (26/8) pagi itu. Di tengah perlombaan Osmana 4, Ahad (25/8) malam, Syekh Fadhil tiba di Pondok pesantren An-Nur II Al-Murtadlo. Syekh asal Turki itu akan menghadiri puncak acara harlah ke-40 Senin malam.

Syekh Fadhil mengatakan, semua nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, diajari ilmu oleh Allah. Hal ini dibuktikan dengan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yakni iqro’ (bacalah). Dari wahyu ini Allah memberi isyarat bagi setiap manusia untuk senantiasa mencari ilmu.

Inilah yang menjadi alasan mengapa sebelum diangkat menjadi rasul Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril. Kemudian hatinya dibersihkan dengan air Zam-zam. Tak lain, “Agar hati Rasulullah dapat dengan mudah menerima wahyu dari Allah,” lanjut cucu Syekh ke-25 Syekh Abdul Qodir Al-jailani ini dengan memakai bahasa Arab.

Lalu, muncul pertanyaan: bagaimana cara kita membersihkan hati? Pertanyaan ini keluar dari seorang santri kelas 6 Diniyah bernama Ibrahim. Syekh Fadhil pun menjawabnya sekaligus memberikan wirid. Yakni dengan membaca selawat kepada nabi sebanyak 313. Juga dengan banyak membaca lailahallallah. “Karena setiap entakannya dapat mengusir setan,” imbuh beliau.

Syekh Fadhil mengingatkan firman Allah yang mengatakan bahwa orang berilmu tidak sama dengan yang tidak memiliki ilmu. Ini merupakan suatu pujian bagi orang berilmu. Bahkan, tak hanya di Alquran saja orang berilmu dipuji. Di tiga kitab selain Alquran dan di semua suhuf pun memuji orang berilmu.

Sama dengan Nabi Bani Israil

Satu ketika Nabi Muhammad mengatakan kalau ulama dari umatnya sama dengan nabi bani Israil. Lantas, merasa sebagai nabi yang diutus untuk bani Israil, Nabi Musa memprotes.

Kemudian, Nabi Muhammad memanggil umatnya yang sangat alim. Ialah Imam Al-Ghozali, sang pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin. Begitu datang menghadap nabi Musa, Imam Alghazali ditanya, “Siapa namamu?” “Nama saya, Muhammad bin Muhammad….” Imam Al-Ghazali menyebutkan nama lengkapnya sampai yang teratas.

Melihat jawaban panjang itu, Nabi Musa menanyakan alasannya. “Kalau jawaban saya panjang, berarti sama dengan Anda saat ditanya Allah. Saat itu Anda ditanya ‘apa yang ada di tanganmu?’ Anda menjawab dengan panjang mendeskripsikannya.”

Nabi Musa mengelak, “Itu beda, saya kan sedang berkomunikasi dengan Allah.” Imam Al-Ghazali pun menjawab dengan jawaban yang tak kalah cerdas, “Saya kan sekarang berbicara dengan kalimullah (orang yang berbicara dengan Allah). Sama saja.”

Mendengar jawaban itu, Nabi Musa geleng-geleng kepala. Beliau pun membenarkan perkataan Nabi Muhammad yang menyamakannya Imam Al-Ghazali.

Di akhir tausiah, beliau memberikan tiga wasiat Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang diturunkan kepada anak-anaknya. Isi wasiat itu adalah, “Pertama, ilmu. Kedua, ilmu. Dan yang ketiga, ilmu.” Beliau pun menutup tausiah dengan mengatakan, “Indonesia adalah negara kedua saya” dengan bahasa Indonesia berlogat arab.

(Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: