Syair Jaat Lida’: Seruan Rasulullah Memanggil Pohon Akasia
annur2.net – Bulan Syawal ini, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” mengundang para alumni untuk menghadiri acara Temu Kangen dan Halal Bihalal Santri Alumni Tahun 1979-2024. Tak hanya sekedar bertemu dan bermaaf-maafan tapi dalam acara itu, beliau selaku pengasuh pondok putra Kiai Ahmad Zainuddin, M.M., mengajak para alumni mengaji bersama.
Kajian pada pertemuan itu adalah mengulas syair Jaat Lida’ dari kitab Al-’Umdah fi Syarhil Burdah. Syair tersebut merupakan wiridan yang eksis di kalangan para santri utamanya para santri An-Nur II. Pasti seusai salat fardu di pesantren para santri akan membacanya sebanyak tujuh kali.
Para panitia penerima tamu akan memberi kitab tersebut pada setiap alumni yang datang secara cuma-cuma. Beliau tetap memaknai lafaz per lafaz dengan bahasa Jawa saat mengisi kajian meskipun dalam kitab itu sudah terdapat terjemahannya.
Syair tersebut menerangkan salah satu mukjizat Rasulullah berupa pepohonan yang menghampirinya tatkala ia memanggilnya. Pepohonan tersebut berjalan dengan akar-akarnya yang keluar dari tanah. Bunyi lengkap baitnya:
جَـــآءَتْ لِدَعْوَتِهِ الْأَشْجَارُ سَـاجِدَةً ۞ تَمْشِيْ إِلَيْهِ عَلَى سَاقٍ بِلَا قَدَمِ
“Pepohonan datang memenuhi panggilannya (Nabi Muhammad saw.) dengan bersujud, bergerak mendekat meski hanya bertumpu pada bada batang tanpa kaki.”
Sebagaimana keterangan dalam kitab tersebut, pepohonan itu tidak benar-benar sujud secara fisik. Diksi itu merupakan perwujudan dari ketundukan serta kepatuhan pohon terhadap seruan Baginda Rasulullah saw.
Mushonnif kitab juga mengurai beberapa kata dari bait tersebut dan menerangkannya. Seperti kata asyjar yang merupakan kata jamak dari syajarah yang berarti pohon. Juga pendefinisian dari kata saaqun berarti betis merupakan bagian tubuh antara mata kaki dan lutut.
Bukti Nyata Pohon Berjalan Menghampiri Seruan Rasulullah
Dalam sebuah hadis sahih menceritakan langsung kejadian sebuah pohon yang berjalan mendatangi Nabi. Pernah suatu ketika Rasulullah menyeru pepohonan. Pohon-pohon itu datang dengan penuh ketundukan dan bersaksi atas kerasulannya. Saat beliau menitah kembali maka pepohonan itu bergerak ketempat semulanya.
Bahkan suatu ketika Nabi menemui seorang Arab Badui lalu bertanya kemana akan pergi. Jawabnya ingin pergi ke keluarganya.
Rasulullah lalu bertanya lagi, “Maukah engkau kutunjukkan pada kebaikan?” Orang tersebut menimpalinya dengan sebuah pertanyaan, “Apa itu?” Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa petunjuk kebaikan itu adalah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya.
Arab badui itu tidak langsung percaya pada pernyataan Nabi tersebut. Ia malah bertanya lagi, “Siapa yang menjadi saksi atas yang engkau katakan itu?” Oleh karena itu, Rasulullah menyuruhnya agar memanggil sebuah pohon Akasia yang tak jauh jaraknya.
Atas izin Allah, pohon tadi berjalan menuju ke hadapannya. Rasulullah lalu meminta persaksian kerasulannya pada pohon itu di depan orang Badui. Pohon tadi melakukannya sebagaimana perintah Rasulullah kemudian kembali ke tempat semula hingga akar-akarnya tertanam.
Ketundukan Hewan atas Seruan Rasulullah
Entah hewan atau tumbuhan pasti akan memenuhi panggilan Baginda Nabi. Sujud tumbuhan berbeda dari makna sebenarnya, sedangkan hewan sebaliknya. Dalam kitab tersebut menjelaskan hewan yang memang benar-benar sujud secara fisik adalah unta dan kambing.
Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah memasuki sebuah kebun. Lalu terdapat unta yang menghampirinya kemudian bersujud kepadanya.
Pernyataan serupa juga berasal dari tiga sahabat: Jabir, Ya’al bin Murrah dan Abdullah bin Ja’far. Mereka bersaksi bahwa unta yang menghampiri Nabi di sebuah kebun tersebut akan menyerang siapapun yang berani masuk ke dalam kebun. Namun saat Rasulullah masuk ke kebun dan memanggilnya, unta itu datang lalu merendahkan kepalanya sembari duduk tenang mendengar khutbah Rasulullah.
Sedangkan Anas dalam riwayatnya mengisahkan segerombolan kambing yang bersujud di hadapan Nabi. Suatu ketika Rasulullah bersama Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat Ansar datang ke sebuah kebun milik sahabat Ansar lainnya. Tepat saat Nabi masuk, seketika segerombolan kambing yang ada di dalam memungkurkan wajah guna sujud kepada beliau.
Mengetahui hal itu Abu Bakar berkata, “Kami lebih pantas bersujud kepadamu daripada mereka wahai Rasulullah.”
(Ahmad Basunjuaya I.K.F./Mediatech An-Nur II)
