Sumber Pertolongan

pertolongan, Sumber Pertolongan, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Pemahaman sering mengalami perbedaan dalam kehidupan. Banyak penafsiran dari sudut pandang yang berbeda-beda. Seperti pada bacaan surah Al-Fatihah yang sering kita baca setiap harinya. Yakni pada lafaz:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Lafaz tersebut sendiri dalam konteks penerjemahan bermakna tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus. Dalam pemahaman arti tersebut dapat dipahamkan bahwa kita digiring agar ditetapkan pada jalan yang lurus dan benar. Serta kita di sini diyakinkan bahwa pemberi jalan yang lurus tersebut adalah Allah SWT.

Dalam sebuah hadist dikatakan, bahwa jika ingin meminta maka mintalah kepada Allah. Dalam Al-Qur’an pun dikatakan, “Mintalah kepada-Ku, niscaya akan kukabulkan.” (Q.S. Al-Mu’min: 60). Jadi, meminta kepada selain-Nya adalah larangan yang berat, bahkan bisa berakibat syirik.

Dengan begitu, bukan berarti berdoa dan selainnya itu tidak boleh. Yang dimaksud di sini adalah tidak meminta kepada sesuatu yang ujungnya menyekutukan Allah. Seperti kisah yang dijelaskan pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Dikisahkan dalam hadis ini suatu kisah ketika nanti hari kiamat tiba. Kala itu, matahari akan didekatkan dengan bumi. Sehingga keringat akan sangat berkecucuran. Bahkan pada pengambarannya, matahari tersebut dekatnya hanya sejengkal dengan bumi. Pada saat itulah para manusia kalang kabut, bingung. Mereka kebingungan harus bagaimana.

Pada akhirnya para umat manusia pun meminta pertolongan kepada Nabi Adam AS. Akan tetapi beliau tidak menyanggupi untuk menolong. Kemudian para umat manusia pun meminta pertolongan kepada Nabi Musa AS. Dan jawaban yang diperoleh tetap sama: Tidak bisa. Kemudian mereka pun memutuskan untuk meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang nabi akhir zaman, yang menjadi pemungkas para nabi dan rasul.

Dan mereka para umat manusia pun mendapati jawaban yang berbeda. Nabi Muhammad pun menolongnya dengan memberi syafaat kepada mereka. Sebab, hanyalah Nabi Muhammad saja yang diberi izin oleh Allah untuk memberi syafaat kepada umatnya.

Allah Pusat Pertolongan

Dari kisah hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa segala pertolongan itu berpusat pada Allah. Syafaat juga datangnya dari Allah. Bukan murni muncul dari Nabi Muhammad itu sendiri.

Sama halnya pada pemaparan salah satu ayat surah An-Nisa’ yang diceritakan bahwasannya manusia oleh Allah diperintahkan untuk memberi kepada anak yatim. Artinya, bukan berarti manusia itu sendiri yang berkuasa untuk memberi. Namun, itu adalah penggerakan hati dari Allah. Jadi, Allah itu memberikan sesuatu melalui perantara. Siapa perantaranya? Adalah manusia itu sendiri.

Pemahaman dari sumber pertolongan itu luas. Tapi pada intinya pusatnya satu pada Allah. Seperti kejadian Nabi Isa AS. Beliau dapat menciptakan burung. Hanya dengan mengatakan, “aku menciptakan”. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Nabi Isa mengatakan aku menciptakan sesuatu seperti burung dari tanah liat. Lalu ditiup, kemudian hidup dan terbang. Itu semua dengan izin Allah.

Begitupun malaikat maut. Dia juga hanya menjadi perantara ketika mencabut nyawa manusia. Jadi, ketika kita ziarah kubur, naik ke makam wali atau yang lain dengan tujuan berdoa, itu tidak menyalahi aturan. Artinya bukanlah bid’ah. Karena doa tersebuat adalah tawasul atau wasilah kepada Allah. Kita meminta wasilah kepada orang-orang yang lebih dekat kepada Allah dibandingkan kita. Jadi, tawassul pula tidak bisa dikatakan syirik, menyekutukan Allah. Apanya yang menyekutukan? Pada akhirnya tawasul itu juga salah satu cara perantara kita meminta pertolongan.

Jadi, kesimpulan dari pemahaman lafad Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in ini adalah meminta petunjuk atau menetapkan diri untuk meminta kepada Allah. Walaupun itu melalui perantara. Seperti banyak kisah dari para nabi dan wali. Baik yang dijelaskan melaui hadis ataupun Al-Qur’an. Itu semua merupakan bentuk perantara untuk meminta pertolongan kepada Allah. “Teksnya sama. Pemahamannya berbeda.” itulah kehidupan. Banyak sisi untuk mengambil pelajaran. Banyak pula terjadi perselisihan. Maka berhati-hatilah dalam memahami sesuatu. Jangan mengambil keputusan secara mentah-mentah. Harus dicerna dan diolah hingga menjadi satu pemahaman yang benar.

(Hanif Azzam/Lingkar  Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: