Sulthanul Awliya’

Lentera Hati

 

Sulthanul Awliya,

Sulthanul Awliya, adalah gelar tersebut (pemimpin para wali) dialamatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Sungguh gelar yang luar biasa bukan karena bergelimang harta dan ‘kursi basah’, tapi karena sifat-sifat kebaikan dan kepribadian serta keteladanan yang diberikannya kepada kita.

 

Telah menjadi tradisi kita untuk membaca manaqib-nya setiap bulan atau pada momen tertentu dengan harapan Mudah-mudahan kita semua bisa mengikuti jejak ibadahnya, akhlaqnya, perilakunya, dakwahnya, keperibadiannya, dan juga semua tingkah laku Beliau yang Mendatangkan keberuntungan dunia akhirat.

 

Habib Umar bin Hafidz Hadramaut pernah berkata: “Orang yang sering mendengar perjalanan hidup seorang Waliyullah, maka ia akan mendapat rahmat Allah dan barokah darinya, dan orang yang serin bergaul dengan orang Sholih bagaimana tidak mugkin menjadi orang Sholih, Orang yang sering bergaul dengan orang yang tidak Sholih bagaimana mungkin dia akan menjadi orang Sholih”.

 

Berikut ini, kami mengutip isi manaqib beliau “an-nurul-burhani” :

 

Keistimewaan & Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan di desa Jilan, kota terpencil di luar kota Tobaristan, pada tanggal 01 Ramadlan tahun 470 Hijriyah berketepatan dengan tahun 1077 Masehi. Sayyidatuna Fatimah (Ibunda Syaikh Abdul Qadir) pernah bercerita; “Semenjak aku melahirkan anakku itu (Abdul Qodir), ia tidak mau menetek (menyusu) pada siangnya bulan Romadhon.

 

Suatu kali, lantaran hari berawan, orang-orang bingung tidak bisa melihat matahari guna menentukan telah masuknya berbuka puasa, lalu mereka mendatangiku dan bertanya tentang Abdul Qadir, karena mereka tahu bahwa anakku itu tidak pernah menetek (menyusu) di siang nya bulan Romadhon. Aku katakan kepada mereka, bahwa Abdul Qadir sekarang sudah mau menyusu, Maka mereka pun tahu bahwa sudah masuknya waktu berbuka puasa”.

 

Keistiqomahan Beliau

Sewaktu riyadloh (Tirakat), Beliau ter tidur di emperan istana Raja Madani di malam yang sangat dingin, tiba-tiba Beliau mimpi keluar mani, seketika bangunlah Beliau lalu pergi ke sungai untuk mandi. Kemudian tertidur lagi dan bermimpi seperti yang pertama.

 

Bangunlah Beliau dan pergi ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, kejadian itu sampai empat puluh kali semalam itu juga. Kemudian Beliau naik diatas pagar tembok emperan agar tidak tertidur lagi demi menjaga kelanggengan suci dari hadats. Kebiasaan Beliau bila berhadats terus berwudlu’ lalu sholat sunnah dua roka’at, sehingga senantiasa suci dan tidak pernah menanggung hadats.

 

Tiada henti-hentinya Syaikh Abdul Qadir dalam kesungguhannya menjaga wudhu’, bahkan hal yang demikian itu menjadi kebiasaan sampai ketingkat wusul kepada Allah SWT. Nampak jelas pancaran Nur kewalian nya sehingga nampak pula di wajahnya cemerlang sifat keluhuran, menghindari segala apa yang harus dihindari, bahkan pernah berpura-pura bisu, gila.

 

Sampai berkali-kali dibawa ke kota Marostan untuk diobati, yang demikian itu, malah membuat tersohor kewaliannya melebihi Ulama’ yang lain. Dibidang ilmu dan amalannya, zuhud dan ma’rifat nya, ketokohan dan fatwa-fatwanya dapat diterima siapa saja yang mendengarkannya, sehingga nama baiknya tersebar dimanca negara bagaikan peredaran matahari.

 

Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Fatah al-Harowi mengatakan: “Saya menjadi pelayannya Syaikh Abdul Qadir RA. selama empat puluh (40) tahun, Beliau selama itu, bila sholat Subuh masih menggunakan wudlu’nya sholat isya’. Kalau berhadats segera memperbarui wudlu’nya, kemudian mengerjakan sholat sunnah dua rokaat”.

 

Hasutan Setan Terhadap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

 

Syaikh Muhammad bin Abdil Fatah berkata: “Pada suatu ketika Syaikh Abdul Qadir melihat seberkas cahaya berkilauan menerangi ufuk langit, tidak lama menampakkan diri seraya memanggil-manggil: Wahai Abdul Qodir……… aku adalah tuhanmu, sungguh aku perbolehkan untukmu semua yang diharamkan.”

 

Maka Beliau menjawab: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Menyingkirlah Wahai Mahluk yang dilaknati”.Seketika itu juga cahaya tersebut berubah menjadi gelap dan sosok itu menjadi asap lalu berteriak: Wahai Abdul Qodir ………, Selamatlah engkau dari ulah sesatku, sebab ilmumu tentang hukum Tuhanmu dan karena pemahaman-mu tentang kedudukanmu,

 

Sungguh aku sudah menyesatkan seperti kejadian ini dari tujuh puluh (70) ahli ibadah. Setelah Beliau selamat dari godaan setan, kemudian Beliau memuji kepada Allah SWT dengan mengucapkan: “Anugerah dan keselamatan hanya karena Tuhanku”.

 

Ada sebagian santri Beliau yang bertanya tentang hal itu: Bagai mana Anda bisa mengetahui sesungguh nya dia adalah setan? Beliau menjawab: Aku mengetahui nya ”Dari ucapannya: “telah aku perbolehkan untukmu apa yang diharamkan” karena setahu saya sungguh Allah SWT tidak akan me merintahkan untuk berbuat ke kejian”.

 

 

Pada poin terakhir ini, banyak dari yang mengaku wali kemudian ia me-nganggap halal apa yang diharamkan oleh Allah sehingga banyak orang menjadi awliya’us syaithon dari pada menjadi awliya’ur rohman (waliyul-loh yang sebenarnya). Maka syetan telah menipu tidak hanya ahli maksiat tapi juga ahli ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: