Tak lama setalah santri kembali ke pondok, pesantren An-Nur II menerima kedatangan tamu lagi dari Madura. Mereka dari Pondok Pesantren As-Salafiyah. Terdiri dari pengurus MTS dan MA, meluangkan waktunya untuk studi banding di sini. Ternyata salah seorang dari mereka adalah teman kuliah Kiai Fathul Bari S. S. ,M. Ag.
Meraka jauh-jauh kesini karena melihat umur pondok An-Nur II yang masih muda tapi bisa terkenal. Dari ketertarikan itu, membuat ingin mengetahui bagaimana manajemen pendidikan An-Nur II. Beberapa tujuan telah mereka buat. Selain silaturahmi mereka juga menggali akan implementasi intregasi kurikulum nasional dengan ajaran islam, pengelolaan ekstrakulikuler dan peggunaan elektronik bagi santri.
Pagi hari tanggal 25 Desember 2024, mereka datang langsung digiring menuju makam pendiri pondok pesantren. Selepas tahlilan dan doa baru lah acara dimulai di kantor yayasan An-Nur II. Kemudian sambutan demi sambutan oleh kedua yayasan. Tak lupa juga keduanya saling memberi cendera mata. Selain studi banding mereka juga berkeliling pondok selepas acara.
Bagaimana Manajemen Pendidikan An-Nur II?
Dalam sambutan, selain canda pemecah suasana, Kiai Fathul juga bercerita susah payah Kiai Badruddin Anwar, saat mendirikan pondok. Pondok An-Nur II bermula dari bangunan kecil dengan dinding gedeg yang terdiri dari dua kamar untuk kiai dan santri sekaligus kandang di dekatnya. “Pondok ini tidak didirikan dengan peresmian tapi pondok ini didirikan dengan tangisan,” ulang beliau ucapan Kiai Badruddin.
Setelah foto bersama, acara berikutnya adalah pembawaan materi oleh Ustaz Anam. Penjelasan beliau berkait dengan tujuan mereka kesini. Beliau menerangkan langkah yang An-Nur II lakukan untuk pendidikannya. Sering kali para pengurus melakukan rapat intensif. Alasannya karena setiap orang memiliki pendapat sehingga segala problematik bisa teratasi.
Para penguruspun juga sering melakukan konsultasi. Menerut beliau hal ini sanga penting untuk dilakukan. Dengan melakukannya dapat memunculkan ide baru dalam memecahkan masalah. “Karena keterbatasan ilmu, kami perlu konsultasi pada ahli bidang itu,” ujar beliau. Dalam An-Nur II sudah menerapkan hal itu hingga di lingkup yang kecil, “Seperti sorogan,” terangnya.
Untuk menunjang sistem pendidikan, mencetuskan beberapa inovasi. Beliau mengatakan “Guru yang berkualitas akan memunculkan murid yang berkualitas.” Sehingga untuk mencetak guru yang seperti itu, dalam pondok pesantren mendirikan pendidikan tinggi, ada Ma’had Aly dan STIKK Mua’adalah. Selain itu An-Nur II juga melakukan studi banding untuk berkembangnya inovasi dan kebijakan yang sudah ada.
Relasi juga tidak kalah penting. Banyaknya relasi dalam keterangannya dapat melancarkan finansial. Sebab finansial yang mulus semakin mudah pondok pesantren menunjang fasilitas untuk santri agar menjadi solihin dan solihat.
“Idealis dulu realita kemudian,” ungkapnya. Dalam penyusunan dan pelaksanaan progam harus memiliki prinsip yang kuat dulu. Strategi setiap progam juga harus jelas. Target yang ada setinggi mungkin tapi tetap melakukan evaluasi setiap visi.
Tidak semua santri bisa mengakses elektronik. Santri yang ikut andil suatu organisasi agar menunjang progam di dalamnya atau yang masuk ke kelas idaman entah di SMP atau SMA, memiliki hak pemanfaatan media elektonik. Tapi tetap penggunaan harus sesuai dengan kebutuhan serta adanya penjagaan ketat pada hal tersebut. “Terbuka tapi ada batasan bahkan sangat dibatasi,” jelas beliau akan elektronik bagi santri.
Penjelasan terakhir berkaitan dengan bagaimana intergrasi ilmu umun dan agama. Untuk hal itu ustaz Anam telah menerangkannya secara singkat dan padat. Terdapat MI hingga SMA di An-Nur II, semuanya menggunakan kurikulum merdeka. Meski para guru mengajarkan ilmu umum, tapi tetap menyelipkan unsur islamic pada materi yang mereka ajar. Seperti saat pelajaran biologi, guru harus bisa memasukan unsur keagaan di sana, semisal bersyukur telah memiliki badan yang sehat atau lainnya. “Sebagi guru harus menyisipkan ilmu agama,” terangnya.
(Mediatec An-Nur II/Ahmad Basunjaya I. K. F)