Terbaru

STMJ (SHOLAT TERUS MAKSIAT JALAN)

By on 20 November, 2016 0 61 Views

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ فُلَانًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ قَالَ إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُولُ

Seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW dan berkata, ‘Sesungguhnya si Fulan itu shalat di malam hari, tetapi di waktu pagi dia mencuri.’ Nabi SAW bersabda: ‘Sesungguhnya shalatnya itu akan menahan dirinya dari apa yang engkau katakan”. [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Fenomena STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan) acap kali kita temui dalam realita di masyarakat. Seseorang yang rajin shalat hingga jidatnya hitam namun ia suka berkata-kata kotor, menggunjing bahkan melakukan kemaksiatan yang lain yang tak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang rajin shalat. Lantas timbullah pertanyaan di benak masyarakat akan hal ini. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Sungguh dua hal yang sangat kontras! Bukankah Allah SWT berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. [QS Al-‘Ankabut: 45]

 

Fenomena STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan) ini tidak hanya terjadi sekarang, bahkan di zaman Nabipun telah terjadi sebagaimana hadits utama di atas.  “Sesungguhnya si Fulan itu shalat di malam hari, tetapi di waktu pagi dia mencuri.” Lantas, dimanakah letak kesalahannya? Bukankah Firman Allah SWt adalah benar adanya?.

 

Alvers, memang demikianlah teori dan prakteknya. Jauh panggang dari api. Menanggapi permasalahan ini, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas RA berkata:

في الصلاة منتهى ومزدجر عن معاصي الله، فمن لم تأمره صلاته بالمعروف، ولم تنهه عن المنكر، لم يزدد بصلاته من الله إلا بعدًا.

“Di dalam shalat terdapat sesuatu yang dapat menahan dan mencegah seseorang dari perbuatan maksiat. Barang siapa yang shalatnya tidak menyuruhnya untuk melakukan perbuatan ma’ruf (yang baik) dan tidak melarangnya dari perbuatan mungkar, maka dia hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah dengan shalat tersebut. [Tafsir Al-Baghawi]

 

Al-Qatadah dan Al-Hasan RA berkata:

من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر فصلاته وبال عليه

“Barang siapa yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka shalatnya tersebut menjadi perusak dirinya.” [Tafsir Al-Baghawi]

 

Namun demikian orang yang terkena Fenomena STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan) ini tidak boleh berputus asa untuk melakukan sholat. Janganlah berhenti sholat karena ia belum bisa meninggalkan maksiat. Justru dengan sholatnya insyaAllah sebagaimana hadits utama di atas, suatu saat yang dikehendaki Allah ia akan berhenti dari perbuatan maksiatnya. Bukankah Nabi bersabda : ‘Sesungguhnya shalatnya itu akan menahan dirinya dari apa yang engkau katakan”

 

Di sisi lain ia harus introspeksi, apakah shalatnya telah dilakukannya dengan baik dan benar, ataukah sholatnya hanya gerakan badan dan bibir saja sehingga tak ubahnya ia tidak dihukumi sebagai orang yang shalat?. Abul Aliyah Ar-Riyahi Al-Bashri (w.93 H), seorang mufassir ternama yang dahulu menemui zaman Nabi namun baru masuk islam pada masa Abu bakar RA. mengatakan:

إن الصلاة فيها ثلاث خصال فكل صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة: الإخلاص والخشية وذكر الله. فالإخلاص يأمره بالمعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر القرآن يأمره وينهاه.

“Sesungguhnya di dalam shalat terdapat tiga hal. Setiap shalat yang tidak terdapat satu hal saja dari ketiga hal ini maka dia bukanlah shalat, yaitu: keikhlasan, rasa takut dan mengingat Allah. Keikhlasan akan menyuruhnya untuk berbuat kema’ruufan, ketakutannya kepada Allah akan melarangnya dari perbuatan mungkar dan dzikir-nya dengan membaca Al-Qur’an akan menyuruh dan melarangnya.” [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Tiga kata kunci; keikhlasan, rasa takut dan mengingat Allah inilah yang dapat mempengaruhi keberadaan shalat seseorang sebagai pencegah dari kemaksiatan. Seyognyanya orang yang terkena Fenomena STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan) memeriksa tiga perkara tersebut dalam shalatnya.

 

Tiga kata kunci; keikhlasan, rasa takut dan mengingat Allah ini jika dihayati maka juga akan menjadi penentu seseorang jauh dari kemaksiatan dalam kehidupannya. Ibnu Qudamah dalam at-Tawwabin menceritakan bahwa terdapat seorang laki-laki ahli maksiat menghadap Ibrahim bin Adham Al-Balkhi(100 H –165 H) untuk mengadukan masalahnya. Ia bekata : “Sungguh, aku telah terjerumus dalam kemaksiatan. Tolong berikan aku nasehat yang dapat menyelamatkan hatiku dari kemaksiatan dan menjauhkan aku darinya.”

 

Ibrahim bin Adham berkata kepadanya: “Jika engkau mampu melakukan lima hal berikut, maka engkau tidak dilarang melakukan maksiat.” Ibrahim bin Adham berkata:

أما الأولى فإذا أردت أن تعصي الله عز وجل فلا تأكل رزقه

“Pertama, ketika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah SWT, maka janganlah engkau makan sedikit pun dari rezeki-Nya.”

 

Lelaki tersebut kemudian berkata: “Lalu dari mana aku makan? Bukankah semua rezeki berasal dari sisi Allah SWT?” Ibrahim berkata, “Lalu pantaskah engkau makan rezeki-Nya dan engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang kedua, wahai Ibrahim!”

وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئاً من بلاده

“Kedua, jika engkau hendak berbuat maksiat, maka janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.”

Lelaki tersebut berkata: “waduh, ini lebih berat dari yang pertama, Bukankah setiap bagian bumi ini dari ujung timur sampai ujung barat adalah milik Allah SWT. Maka dimana aku akan tinggal?” Ibrahim berkata kepadanya: “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau makan dari rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya namun engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang ketiga, wahai Ibrahim!”

إذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وفي بلاده فانظر موضعاً لا يراك فيه مبارزاً له فاعصه فيه

“Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat padahal engkau makan dari rezeki-Allah dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat di  mana Allah SWT tidak dapat melihatmu, lalu berbuatlah maksiat di tempat itu!”

 

Lelaki tadi berkata, “Bagaimana ini, Bukankah Allah mengetahui hal-hal rahasia (dan yang lebih tersembunyi). Ibrahim berkata: “Jika demikian, pantaskah engkau makan dari rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya namun engkau berbuat maksiat di tempat yang dilihat oleh-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang keempat, wahai Ibrahim!”

إذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له: أخرني حتى أتوب توبة نصوحاً وأعمل لله عملاً صالحاً

“Keempat, jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah padanya, ‘Tundalah kematianku hingga aku bertaubat dengan taubatan nashuha dan aku beramal shalih karena Allah!’ Lelaki tersebut berkata: “Dia pastilah tidak menuruti permintaanku!. Ibrahim bin Adham menjelaskan:  “Jika engkau tidak bisa menolaknya, maka bagaimana engkau akan selamat?”

 

Dia berkata : “Iya. Lalu apa yang kelima wahai Ibrahim?”

إذا جاءتك الزبانية يوم القيامة ليأخذونك إلى النار فلا تذهب معهم

“Kelima, apabila malaikat Zabaniyah (malaikat adzab) mendatangimu untuk menyeretmu ke neraka, maka janganlah engkau ikut mereka.

 

Lelaki itu menjawab: “Tentulah mereka tidak akan membiarkan aku”. Ibrahim berkata :  “Lantas, bagaimana engkau berharap akan selamat?”

Lalu dia berkata :  “Cukup, Cukup, Ibrahim. Aku memohon ampun kepada Allah SWT dan bertaubat kepada-Nya”. Akhirnya lelaki tersebut istiqamah beribadah sampai meninggal dunia.” [at-Tawwabin] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita istiqamah menjalankan shalat dan menjauhi semua maksiat.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: