[polor_menu]
[polor_menu]

Solusi untuk Keseharian Suami-Istri

Suami-Istri dan Solusi Kesehariannya

Alkisah, ada seorang suami yang begitu rindu dengan kampung halamannya. Penyebabnya, sudah dua tahun dia tidak mudik gara-gara pandemi. Ketika peraturan pemerintah telah mencabut larangan mudik, dengan segera dia membeli tiket kereta yang telah ia incar sejak lama. Tak terbayang dalam pikirannya rasa senang Abah-Emak di kampung halamannya.

Sayangnya, dia lupa satu hal. Dia belum meminta izin kepada istrinya. Dengan segera, sang istri marah begitu tahu apa yang telah suaminya lakukan.

“Masak Mas tidak hitung-hitung dulu uangnya. Tiket sekarang mahal, Mas. Belum kebutuhan kita yang lain,” kata istri setengah membentak.

“Sudah, Dik. Sudah Mas hitung-hitung, insyaallah sudah cukup buat kebutuhan kita semua sampai lebaran nanti,” kata suaminya menenangkan.

“Cukup dari mana? Dari kemarin saja, isi kulkas sudah mulai menipis. Belum juga beli baju buat lebaran. Adik juga perlu biaya untuk ujian akhirnya setelah lebaran nanti. Uang THR untuk keluarga Mas di sana juga belum ada. Belum kalau misalanya ada kejadian yang enggak-enggak. Itu yang Mas bilang cukup?” sergah sang istri.

Suaminya terhenyak. Ia betul-betul sadar sekarang. Masih banyak keperluan yang belum ia hitung. Dengan lemas dia pun menjawab, “Iya sudah. Maafkan Mas. Nanti Mas cari pemasukan tambahan.”

“Memangnya bakal cukup? Lagipula, masak Mas gak sadar sih, masalah utamanya itu bukan di situ. Mas tahu gak masalahnya di mana?” kejar istrinya. Suaminya hanya bisa menggeleng.

“Mas belum bicara dulu sama aku. Padahal aku ini istrimu. Sudahlah, Mas harus cancel tiket itu. Titik.” Istrinya pun meninggalkan sang suami yang kebingungan.

Kiranya itu cukup menjadi gambaran keseharian suami istri menjelang lebaran seperti sekarang. Masalah yang kerap terjadi, terutama dalam rumah tangga baru.

Padahal, jika mau mengoreksi lebih lanjut, masalah seperti itu cukup simpel solusinya; komunikasi. Komunikasi atau bicara dari hati ke hati kiranya sudah menjadi resep dalam rumah tangga. Resep ini pula yang kiranya telah menjadi rahasia umum bagi para suami-istri di luar.

Komunikasi tidak menentu kepada permasalahan yang serius. Masalah seperti siapa yang bangun dan nantinya akan membangunkan yang lain, siapa yang harus membersihkan rumah, siapa yang mengantarkan anak ke sekolah, dan masalah-masalah sepele lainnya. Sebab, sering kali terjadi masalah besar seperti di atas lahir dari kurangnya komunikasi.

Apalagi ketika mengingat bahwa suami dan istri itu lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda. Bisa jadi apa yang suami tahu bahwa itu benar terkadang terasa salah di mata sang istri. Begitu juga sebaliknya. Bisa jadi sang istri menganggap perbuatan itu benar padahal itu salah di mata suami.

Kembali lagi, komukasi dulu dengan pasangan. Tidak perlu tentang amsalah yang rumit. Dengan begitu pemahaman kedua belah pihak bisa saling meningkat. Akhirnya, bisa saling memahami meski tidak perlu bebrbicara sebelumnya.

(Nabil Abdullah Alghifari/Lingkar Pesantren)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex