Terbaru
kyai badruddin anwar

SIAPAKAH GURU KITA?

By on 9 April, 2012 0 6 Views

Orang yang mengajar di lembaga pendidikan formal disebut Bapak/Ibu Guru. Pengajar di Universitas, institut, atau sekolah tinggi dijuluki Dosen. Sementara, para santri terbiasa menyebut siapa saja yang pernah mengajar mereka dengan sebutan Ustadz/Ustadzah. Perbedaan julukan itu ternyata tidak sekedar perbedaan nama, melainkan juga berimplikasi terhadap perlakuan dan penghormatan anak didik kepada pendidiknya.

Coba perhatikan! Adakah siswa sekolah yang bersikap kurang ajar terhadap gurunya? Berapa banyak mahasiswa yang berdemonstrasi menolak dan menentang rektor dan para dosennya? Berbeda dengan tradisi pesantren yang santun, santri merajut relasi yang harmonis dengan para asatidz dan masyayikhnya. Mengapa?

Sebelum menganalisa jawaban “why” tersebut, perlu dipertegas dulu siapa yang disebut guru. Terlepas dari perbedaan julukan di atas, lazimnya kita mengenal dua istilah untuk orang yang memberikan ilmu pengetahuan terhadap kita. Pertama pengajar, seseorang yang telah mentransfer ilmu pengetahuan, memberikan informasi, dan mengajari kita apa yang belum kita ketahui. Pengajar hanya berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugasnya tersebut. Ia tidak memperdulikan bagaimana perilaku dan sopan santun anak didiknya. Kedua disebut pendidik, seorang yang tidak hanya berhenti ketika ia sudah berhasi mencetak ilmuwan belaka, namun juga berusaha memoles soft-skill anak didiknya. Melihat fakta dunia pendidikan di Indonesia, Sangat jarang orang yang pantas disebut sebagai pendidik atau dengan istilah lain (tanpa bermaksud mubalaghah) ternyata hanya pesantren yang memiliki stok terbanyak guru pendidik.

Islam tidak mengenal diskriminasi dalam memberikan penghormatan terhadap pengajar atau pendidik. Setiap orang yang telah memberikan kontribusi pengetahuan adalah orang yang harus dihormati oleh siapa saja yang merasakan kontribusi tersebut. Sebuah maqalah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abu Thalib ra. Menegaskan betapa agung derajat seorang guru. Ali ra. berkata: Saya budak bagi siapa saja yang telah mengajariku walaupun Cuma satu huruf.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: