Terbaru

SHALAWAT SAYYIDINA

By on 9 Desember, 2016 0 90 Views

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abi Umamah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” [HR Baihaqi]

 

Catatan Alvers

 

Jum’at adalah derivasi (turunan) dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan. Hari Jum’at dinamakan demikian karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas yakni masjid untuk menunaikan kewajiban shalat jumat. Sebagaimana diperintahkan dalam QS Al-Jum’ah:9.

 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:

فيوم الجمعة يوم عبادة، وهو في الأيام كشهر رمضان في الشهور، وساعة الإجابة فيه كليلة القدر في رمضان

“Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan.” [Zadul Ma’ad]

 

Hari jum’at bergelar sayyidul Ayyam, penghulu hari-hari dimana kita dianjurkan memperbanyak membaca shalawat kepada sayyidul Anbiya’ wal mursalin. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيَاحٍ وَلَا جِبَالٍ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا وَهُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Sesungguhnya hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling agung di sisi Allah, hari jum’at itu lebih mulia dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, Allah menciptakan Adam dan menurunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Allah mewafatkan Adam, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, Dan tidaklah ada dari Malaikat muqarrabun (yang didekatkan), langit, bumi, angin, gunung, dan laut, kecuali mereka takut terhadap hari jum’at.” [HR Ibnu Majah]

 

Lima peristiwa tersebut menjadikan hari jumat menjadi hari istimewa, mengapa demikian? Syeikh Muhammad bin Abdul Hadi As-sanadi mengatakan bahwa lima perkara tadi menjadi fadilah karena Allah menurunkan Adam  ke bumi itu tujuannya adalah memiliki keturunan berupa para nabi (dan sebagai khalifah), Allah mewafatkan Adam itu untuk mendapatkan balasan kemuliaan, terjadinya kiamat itu sebagai balasan baik kaum shalihin. [Hasyiyah As-sanadi Ala Sunan Ibn Majah]

 

Adapun waktu mustajabah yang dimaksud yaitu saat khatib duduk setelah khutbah pertama hingga berakhirnya shalat dan setelah shalat ashar hingga magrib, hal ini sesuai dengan hadits-hadits lainnya [Fathul Bari].

 

Marilah alvers perbanyak membaca shalawat di hari sayyidil ayyam ini melebihi hari lainnya. Membaca shalwat tidak harus dengan redaksi yang telah diajarkan Nabi SAW, akan tetapi boleh juga membaca shalawat yang diajarkan sahabat bahkan para ulama. Diantaranya adalah shalawat dengan redaksi sayyidina.

 

Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama adalah bersopan santun (kepada Beliau).” [Hasyisyah al-Bajuri]

 

Menyematkan gelar sayyidina kepada Nabi SAW adalah hal yang tepat karena Nabi sendiri bersabda:

أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

“Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” [HR Muslim]

 

Sudah selazimnya orang yang santun lagi berakhlakul karimah ia tidak gila hormat dan tidak meminta orang lain menyebut gelarnya namun bagi orang lain yang berakhlak hendaknya ia memanggilnya dengan menyertakan gelarnya terlebih kepada orang yang semestinya kita muliakan seperti bapak, guru dll.  Itulah Akhlak Nabi SAW dan ummatnya yang mencerminkan uswah ahsanah dan akhlakul karimah.

 

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, bahwa seorang laki-laki dan seorang tua mendatangi Rasulullah SAW. Beliaupun bertanya  :”Siapa ini (orang tua)?” dia menjawab, ”Ayahku.” Beliau kemudian bersabda:

فلا تمش أمامه ، ولا تجلس قبله ، ولا تدعه باسمه ، ولا تستسب له

”Janganlah engkau berjalan di depannya dan jangan pula duduk sebelum ia duduk terlebih dahulu. jangan pula memanggilnya dengan namanya (saja) (Njambal; jawa) dan jangan pula melakukan perbuatan yang membuatnya mencelamu.” [HR Baihaqi]

 

Nah Alvers, Jika kepada orang tua saja kita dilarang memanggil dengan namanya saja lantas bagaimana tatakrama kita ketika memanggil Nabi SAW?.

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bertatakrama kepada Nabi dan memperbanyak shalawat kepada Beliau dengan hati, lisan dan perbuatan.

 

Salam Satu Hadith,

DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

PP Annur2.net Malang Indonesia

 

ONE DAY ONE HADITH

Kajian Hadits Sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat)

 

Dapatkan BUKU ONE DAY#1#2 harga Promo , Layanan Pesan Antar Hub: 081216742626

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: