23 September, 2018
  • 23 September, 2018

Shalat Khusuf

By on 1 Februari, 2018 0 89 Views

Serentak, pelaksanaan shalat khusuf (gerhana bulan) ditunaikan di antero Pondok Pesantren Wisata  An-nur II Al-Murtadlo usai shalat isya’ berjamaah.   “Agar santri tidak hanya mengkaji bab shalat khusuf, namun selayaknya dibimbing untuk mengamalkan.” Tutur pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M. Ag, Rabu (31/01) saat mengisi taklim kitab tafsir jalalain pasca subuh.  

Gerhana bulan masih tergolong hal langka, yang hanya terjadi setiap empat tahun sekali. Diantara jenis gerhana bulan, yakni Blue Moon (Bulan Biru), Super Moon (Bulan Besar) serta Blood Moon (Bulan Darah). Sedangkan Pada malam pertama Februari ini, ketiga jenis gerhana itu berpadu. Inilah gerhana istimewa atau istilahnya super blue blood moon yang terkhir kali muncul pada 31 Maret 1866, sekitar 152 tahun silam. Seluruh wilayah di Indonesia dapat melihat secara gamblang bila cuaca cerah.

  Namun, malam itu cuaca di Malang dan sekitarnya ditutupi awan, sehingga, para santri tidak dapat menikmati fenomena alam langka itu.   Dalam shalat gerhana yang pertama ini, atas intruksi pengasuh, para santri menerapkan tata cara shalat khusuf Medium, yakni seperti halnya shalat sunnah dua rakaat, hanya saja menambah satu bacaan fatihah, ruku’ kali dan i’tidal. Sesuai sunnah nabi, setidaknya terdapat tiga ragam shalat khusuf, mulai yang Ringan, Medium hingga kompleks.

  Shalat khusuf ini ditunaikan pada setiap asrama. Masing-masing kepala kamar menjadi imam shalat, bilal dan khotib, sebab setelah shalat khusuf untuk jama’ah laki-laki sangat disunnahkan berkhutbah seperti hari jum’at, namun untuk jama’ah perempuan cukup dengan memberikan nasihat para hadirin untuk lebih bertakwa dan rajin bersedekah usai melaksanakan shalat khusuf.   “Selain patuh terhadap fatwa pengasuh, sebenarnya mengaplikasian shalat khusuf ini tidak lain agar dapat mengingat betul apa yang sudah kita pelajari.” Imbuh Ustadz Imam Shobari, Kepala Kamar kelas 2 SMTA di puncak khutbahnya.  

Menurut kitab Hasiyah Al-Baijuri buah tangan Syeikh Ibrahim, sebenarnya hikmah dilaksanakannya shalat gerhana adalah agar para penyembah matahari dan bulan sadar bahwa tuhan mereka amat lemah dan hina, seandainya matahari dan bulan lebih berdaya dari Allah SWT, pasti tidak akan terjadi kegelapan di bumi (ketika terjadi gerhana).   Dikisahkan pada kitab tersebut, orang-orang Yahudi Jahiliyah, ketika terjadi gerhana bulan, mereka memanah ke arah bulan yang tidak bersinar karena bayangan bumi. Mereka juga mengira bahwa kejadian itu adalah sihir bulan. “ini adalah sihir bulan! Ini sihir bulan!”. Mengetahui hal itu, Rasulullah melarang umatnya untuk tidak mengikuti perbuatan mereka dan Nabi SAW lebih menganjurkan untuk melaksanakan sholat khusuf.  

Pewarta               : Ilham R, Haq Penyunting         : Fajar Izzul

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: