Kajian Shahih Bukhari: Doa adalah Perbuatan yang Allah Cintai
Pengajian Ahad Legi | 8 Juni 2025
Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.
annur2.net – Doa ialah salah satu perintah Allah kepada hamba-Nya. Itu bagian penting dalam agama Islam. Setiap peribadatan di Islam pasti mengandung doa. Begitu juga salat adalah ibadah wajib orang muslim yang memiliki makna doa dalam bahasa Arab.
Setiap bacaan di dalam salat mengandung doa. Allah memerintahkan doa dalam firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
Artinya: “Dan Allah berfirman: ‘Berdoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya akan kukabulkan.’” (QS. Al-Mu’min: 60)
Allah lebih senang kepada hamba yang sering meminta kepada-Nya. Jangan samakan ketika meminta ke sesama manusia. Sering meminta ke sesama manusia membuat mereka terganggu dan membenci kita. Berbeda jika sering berdoa dan meminta hanya kepada Allah, Ia lebih menyukai hamba yang seperti ini.
Seorang hamba yang tidak pernah meminta kepada tuhannya menandakan jika dia sombong, tidak butuh pertolongan Allah. Ini lebih menjadikan Allah membencinya bahkan murka kepadanya.
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”
Dari potongan hadis Nabi Muhammad saw., riwayat Imam Tirmidzi menerangkan, doa hamba yang Allah kabulkan doa yang penuh dengan keyakinan.
Setiap doa harus beserta dengan keyakinan akan Allah Swt., kabulkan. Jangan memikirkan bagaimana doa bisa terkabul. Itu hanya akan menjadikan keraguan dalam diri sendiri. Doa merupakan puncak dari usaha dan pikiran seorang hamba.
Cukup dengan hati yang penuh keyakinan, karena cara untuk mengabulkan hanya Alla yang mengetahui. Itu merupakan tugas Allah, maka seorang hamba tidak perlu ambil pusing memikirkan cara-Nya mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
“Wong iku stress gara-gara mikirno tugase gusti Allah.” Terang Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M. Ag. Doa sama dengan iman. Jika seseorang itu tidak menggunakan hati, melainkan akal pikiran, itu hanya menjadikan keraguan terus-menerus.
Keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq Contoh Teladan Keimanan
Abu Bakar Ash-Shiddiq terkenal dengan keimanan yang sangat kokoh. Kunci utama dalam mengokohkan iman merupakan hati. Beliau tidak pernah menggunakan logika untuk mengimani Allah dan utusan-Nya.
Segala yang berasal dari Allah dan Nabi Muhammad saw., akan Abu Bakar imani, meski sesuatu yang sulit untuk dinalar menggunakan akal sehat.
Salah satu contoh ketika Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Sebelum berita ini menyebar ke para sahabat, kaum kafir sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Mereka tertawa terbahak-bahak menganggap itu hanya cerita khayalan Nabi.
Mereka merencanakan untuk menyebarkan ini agar para penganut Nabi Muhammad ragu dan murtad dari agama Islam. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Mereka melancarkan rencananya. Tetapi hasil yang mereka dapat tidak sesuai dengan rencana. Abu Bakar lebih mempercayai cerita itu jika memang benar kabar tersebut berasal dari Nabi Muhammad saw. Dari kejadian itu beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq.
نَعَمْ، اِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فَيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ فِي خَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ وَرَوْحَةٍ
Artinya: “Iya aku membenarkannya, bahkan kabar yang lebih dari pada itu (Mi’raj), aku akan membenarkannya perihal wahyu yang ia terima dari langit di pagi ataupun sore hari.”
Respon Abu Bakar yang demikian untuk membungkam para kaum kafir dan menunjukkan keteguhan keimanannya. Abu Bakar tidak menimbang wahyu dengan akal, tetapi mengimani dengan keyakinan hati. Begitu pula ketika seorang hamba berdoa. Keyakinan kunci utama dari pintu mustajabnya doa.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)