annur2.net – Nabi Muhammad saw., selalu mengingatkan para umatnya terutama pada zaman sahabat untuk saling menghargai dan menghormati. Sekaligus tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu ketenangan sesama.
Dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari mengatakan:
وَقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ مَنْ أَكَلَ الثُّومَ أَوِ الْبَصَلَ مِنَ الْجُوعِ أَوْ غَيْرِهِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا
Artinya: “Barangsiapa yang memakan bawang merah, atau bawang putih atau selinnya maka jangan mendekat ke masjid.”
Ada salah satu riwayat lagi yang memperjelas lokasi Nabi Muhammad menyebarkan hadis yang mirip dengan sebelumnya. Pada riwayat tersebut Nabi berkata hal itu berada di perang Khaibar 7 Hijriah.
Peperangan ini terjadi saat kota Madinah mengalami krisis pasokan pangan. Di mana-mana mengalami kelaparan dan stok kurma mulai menipis.
Pada masa yang krisis itu nabi melakukan ajakan perang kepada para sahabat di Khaibar. Wilayah Khaibar terkenal dengan tanah subur hingga disana juga terdapat tanaman bawang.
Meski dalam keadaan kelaparan, para sahabat tetap bergabung berangkat berperang. Saat sudah datang di wilayah Khaibar orang-orang Muslim langsung memakan bawang-bawang yang ada.
Mereka memakan bawang yang masih mentah hingga menghasilkan bau mulut yang sangat menyengat. Itulah awal mula Nabi Muhammad ﷺ melarang orang yang memakan bawang mendekat ke masjid. Tidak hanya bawang tapi juga makanan yang berbau menyengat.
Menjaga Rasa Nyaman, Menumbuhkan Rasa Rukun
Terdapat alasan bagi Nabi Muhammad melarang orang yang makan bawang untuk medekat ke masjid. Salah satunya agar tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah di masjid.
Ini juga sejalan dengan sunnah mandi wajib bagi orang yang akan berihram. Orang yang akan haji atau umrah mereka dianjurkan untuk mandi dan memakai parfum sebelum berihram.
Agar ketika Tawaf di Masjidil Haram tidak mengganggu yan lain. Lantaran saat itu orang-orang akan berdesakan. Begitu pula dengan hukum kesunnahan mandi sebelum salat Jumat.
Hindari Prasangka Buruk ke Orang Lain
Suatu ketika ada sahabat yang meminta amalan masuk surga terhadap Nabi Muhammad saw. Kemudian nabi menjawabnya “Jadikanlah dirimu menjadi baik”. Patokan kebaikan adalah tetangga.
Maka orang yang baik atau jelek itu berdasar penilaian dari tetangganya. Nabi juga menyukai umat yang memuliakan tetangganya.
Selain tetangga kita harus menjaga sikap kepada orang lain. Sebab wujud malaikat bisa menjelma seperti wujud manusia tanpa adanya tanda khusus.
Nabi Muhammad sering bertemu dengan malikat jibril dalam wujud manusia. Hanya dua kali beliau melihat wujud asli malaikat Jibril. Hingga pernah malaikat Jibril itu menyerupai wuju sahabat nabi, Dihyah Al-Kalbi.
Maka jangan sesekali menjelekkan seseorang. Siapa tahu orang tadi itu adalah malaikat yang sedang menyamar seperti halnya wujud manusia. Sehingga bisa saja keburukan tadi terjadi diri kalian.
Nabi pernah bersabda:
من أكل البصل والثوم والكراث، فلا يقربن مسجدنا؛ فإن الملائكة تتأذَّى مما يتأذَّى منه بنو آدم
Artinya: “Barang siapa memakan bawang merah, bawang putih, atau daun bawang, maka janganlah ia mendekati masjid kami; karena sesungguhnya malaikat terganggu oleh apa yang mengganggu anak Adam.”
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
