Serba-Serbi Tahun Baru Hijriyah, dari Berpuasa Hingga Menulis Jimat

Serba-Serbi Tahun Baru Hijriyah, dari Berpuasa Hingga Menulis Jimat

Bulan Dzulhijjah telah usai, jamaah haji di seluruh dunia telah kembali ke tanah airnya. Artinya, hari ini merupakan tahun baru Hijriyah yang ditandai dengan datangnya 1 Muharram 1441H. Seperti halnya tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyah juga ditandai sebagai hari libur nasional.

Hari ini, Ahad 1 September 2019, kegiatan belajar mengajar di sekolah bagi santri Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” diliburkan. Namun, kegiatan mengaji bagi mahasiswa STIKK, Ma’had Aly dan Assatidz tetap masuk seperti biasa. Begitu pula pengajian diniyah para santri di malam tahun baru.

Dan untuk mengisi momen ini, para santri punya beberapa amalan dan kegiatan yang rutin dilakukan setiap 1 Muharram.

Membaca Do’a Akhir dan Awal Tahun

Secara bersama-sama, seluruh santri membaca do’a akhir tahun setelah menunaikan salat Ashar berjamaah. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Almagfurllah KH Muhammad Badruddin Anwar setiap akhir dan awal tahun Hijriyah.

Dan setelah pelaksanaan salat Magrib, dengan dipimpin ustaz atau kepala kamar, para santri membaca do’a awal tahun di asrama masing-masing. “Ini merupakan amalan yang selalu dibaca Kiai Badruddin setiap tahun baru hijriyah”, jelas Ust. Ilham, yang baru menjadi kepala kamar.

Puasa Muharram

Meskipun tidak diwajibkan, beberapa santri berpuasa di awal tahun ini. Beliau pengasuh, Dr. KH Fathul Bari, M.Ag, mengatakan bahwa berpuasa di awal bulan Muharram merupakan amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sejak awal kenabiannya, sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih.

“Puasa ini merupakan salah satu puasa yang terbaik setelah puasa Ramadhan”, jelas beliau.

Menulis Jimat Basmalah

Yang unik dari setiap datangnya tahun baru Hijriyah adalah kebiasaan beberapa santri untuk membuat jimat. Di atas selembar kertas, mereka menuliskan lafadz Basmalah sebanyak 125 kali, ada juga yang lebih banyak. Setelah itu, kertas tersebut dilipat dan dibungkus dengan solasi hitam.

Banyak syarat dan pantangan dalam menulis jimat yang hanya bisa dibuat pada 1 Muharram ini. Lafadz Basmalah yang ditulis harus benar dan tidak boleh ada satu pun kesalahan. Juga posisi menulis yang tidak boleh banyak bergerak.

Mereka menyakini jimat itu, dengan izin Allah, punya kekuatan khusus bagi pemiliknya. Praktek ini dilakukan terun temurun oleh santri-santri terdahulu hingga sekarang. “Ini adalah amalan yang berbeda dan menjadi salah satu ciri khas santri”, ujar Ust. Ilham pula.

Tentang hal ini, KH Fathul Bari memberikan tanggapan positif. “Tidak papa menulis Al-Qur’an itu dengan mengharap berkah, itu bisa menjadi rahmat. Banyak ulama terdahulu yang melakukannya juga”, ujar beliau.

Dan pada tahun ini, dibuat kegiatan khusus untuk menuliskan lafaz basmalah tersebut. Dijadwalkan pukul 08.00 waktu Istiwa’, para santri secara bersama-sama meracik ‘jimat’ ini di masjid An-Nur II. Cukup membawa pensil, KH. Fathul telah menyediakan kertas untuk setiap santri. Di akhir menuliskannya, para santri membaca do’a yang telah dituliskan di papan tulis.

Do’a dan Harapan Mereka di Tahun Ini

Memasuki tahun baru berarti membuka lembar baru dan menutup lembar lama. Yang lalu biarlah menjadi pelajaran dan yang akan datang adalah masa depan yang harus dipersiapkan. Memasuki tahun 1441H, seluruh santri memanjatkan do’a dan harapan mereka di tahun ini. Tentu saja seluruh santri berharap tahun ini bisa menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

“Semoga santri-santri di Billah Satu ini bisa lebih baik dan lebih betah di pondok, karena mereka semua masih kelas satu SMP,” harap Ust. Abiyyu yang pernah menjadi kepala kamar di Billah 1. “Semoga juga para pengurus dan ustaz bisa terus semangat dan sabar dalam mendidik para santri yang semakin tahun semakin banyak”, tambahnya.

“Mumpung ini masih awal tahun, kita harus membuka lembar baru ini dengan kebaikan”, ujar A Miftakhul Jannah, santri asal Tegal, Jawa Tengah. Begitu pula harapan santri-santri baru yang baru genap satu tahun di pesantren. “Semoga kita bisa membangun prinsip yang baik supaya lebih semangat lagi untuk nyantri di sini”, ujar Zidan santri kelas 2 SMA baru.

Dan sebagai penutup, sebuah harapan juga disampaikan KH. Fathul Bari. “Hijriyah itu diambil dari hijr atau hijrah yang berarti tidak hanya berpindah tempat, melainkan juga dengan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah SWT”.

(Rocky, Frendi, MFIH, Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: