Terbaru

SERBA SERBI SHOLAT KUSUF

By on 4 Maret, 2016 0 60 Views

odohONE DAY ONE HADITH

Rasul saw bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ

Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir)[HR Bukhari]

Catatan Alvers

 

Berdasarkan edaran dari Lajnah Falakiyah PWNU Jatim bahwa menurut perhitungan hisab akan terjadi gerhana matahari pada hari rabu 9 maret 2016, di malang gerhana tersebut diperkirakan terjadi mulai pukul 6.19 wib – 8.34 wib dengan lebar maksimal gerhana 84%.

 

Gerhana tidak hanya terjadi pada masa kini, gerhana telah terjadi sejak dahulu kala namun cara menyikapinyalah yang berbeda. Ada yang meyakirni bahwa saat gerhana terjadi, sang buto ijo memakan bulan atau matahari dan akan menyebarkan berbagai keburukan. Maka saat itu, tumbuh-tumbuhan dan tubuh kita harus ‘dibangunkan’ agar tidak dimakan buto ijo, karena dengan adanya suara kentongan atau pun lesung membuat buto ijo / batara kala membatalkan untuk niatnya memakan bulan.Ada juga mitos dewi ratih. Yang diyakini sebagai dewi kecantikan. Menurut mitologi pada saat gerhana, dewi Ratih yang berlari di kahyangan tertangkap oleh Kala Rau. Ia dikejar karena dialah yang memberi tahu dewa Wisnu bahwa Kala Rau hendak minum dari TirtaAmertha (Air kehidupan abadi) dan ada juga mitos-mitos yang lainnya.

 

Islam datang meluruskan pemahaman terhadap fenomena gerhana. Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari pada hari kematian putera beliau; Ibrahim. Lalu Rasulullah saw meluruskan pemahaman bahwa Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang akan tetapi itu adalah tanda kebesaran Allah. Rasulpun menganjurkan untuk berdoa kepada Allah dan menunaikan salat gerhana hingga matahari nampak kembali.
Menurut keterangan kitab Fathul Muin dan I’anatut Thalibin, Sholat gerhana bisa dilakukan dengan tiga cara :

  1. Cara Minimalis (Aqall) : Dilakukan sebanyak dua rekaat seperti sholat sunnah.
  2. Cara Sempurna (Adnal Kamal) : Dilakukan dengan menambah berdiri, bacaan fatihah (dan setelah fatihah boleh membaca surat pendek atau tidak membacanya) dan ruku’ dalam setiap rekaatnya
  3. Cara Paling Sempurna (Akmal) :

seperti cara kedua, namun ditambah hal-hal berikut :

saat berdiri ke-1 setelah fatihah membaca QS Al-baqarah (280 Ayat) atau semisalnya ,

saat ruku’ membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah

 

saat berdiri ke-2 setelah fatihah membaca sekitra 200 Ayat

saat ruku’ membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah

saat sujud ke 1 membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah

saat sujud ke 2 membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah

 

saat berdiri ke-3 setelah fatihah membaca sekira 150 Ayat

saat ruku’ membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah

 

saat berdiri ke-4 setelah fatihah membaca sekira 100 Ayat

saat ruku’ membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah

saat sujud ke 3 membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah

saat sujud ke 4 membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah

 

Sholat gerhana ini dilakukan tanpa adzan dan iqamah sebelumnya . Sebagaimana Rasul saw sebelum memulai sholat gerhana beliau menyuruh seseorang untuk mengumandangkan “As-Sholatu Jami’ah” lalu Rasu saw memulai sholat. [Lihat HR Bukhari]

 

Setelah selesai shalat barulah dilaksanakan dua khutbah sebagaimana keterangan kitab Fathul Mu’in.

 

BILAL

Setelah selesai sholat maka Bilal berdiri di depan mimbar menghadap jama’ah  kemudian mengucapkan :

 

يَامَعَاشِرَالْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا… حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

 

Setelah Khatib naik ke mimbar, Bilal mengucapkan doa sebagai berikut :

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،وَاْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قَوِّاْلاِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ اِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHOTIB memulai berkhutbah dengan ketentuan sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anah [I/501] bahwa khutbah ini sama persis rukunnya seperti khutbah jumat namun yang membedakan dalam khutbah gerhana tidak disyaratkan khotib harus berdiri, duduk diantara 2 khutbah dan menutup aurat. Dapaun materi yang sunnah untuk disampaikan adalah taubat dan motivasi melakukan kebaikan seperti istighfar, sedekah dll.

 

BACAAN BILAL

ketika Khatib duduk diantara dua khutbah.

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

KHOTIB melanjutkan khutbah ke 2 sampai SELESAI…

ALHAMDULILLAAH

 

Wallahu A’lam. Semoga dengan adanya gerhana ini kita semua tambah iman dan takut kepada Allah swt.

NB.

Di masjid pondok annur2 akan dilaksanakan Sholat gerhana matahari pada hari rabu 9 maret 2016 7.00 wib – selesai

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: