Seni Menasehati

menasehati, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Menasehati dengan Estetika

One Day One Hadith

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daari RA, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

الدين النصيحة قلنا لمن؟ قال: لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم

“Agama itu nasehat. Kami bertanya: kepada Siapa? Beliau bersabda: (Nasehat supaya mentaati) Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan nasehat bagi seluruh kaum muslim.” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa kata nasihat merupakan sebuah kata singkat yang penuh dengan segala hal yang baik. Kalimat, “Agama itu nasihat” maksudnya bagian terbesar (penting) dalam agama itu berisi nasehat, sebagaimana memahami sabda Rasulullah, “Haji itu arafah,” maksudnya bagian terbesar (penting) dalam amalan haji adalah wukuf di arafah.

Dalam versi lain, nasehat berarti murni atau ikhlas. Seperti kata “Taubatan nashuha” yang berarti taubat yang ikhlas atau sebenar-benarnya. Nasehat juga berarti menjahit dengan minshahah (jarum) maka dari itu seseorang yang menasehati seakan-akan ia menjahit agama saudaranya yang robek dengan jarum berupa nasehat. Karena laksana jarum, maka nasehat terkadang terkesan menyakiti namun pada hakikatnya ia bisa menambal baju yang sobek.

Supaya sebuah nasehat itu efektif maka haruslah memenuhi etikanya di antaranya adalah ikhlas, tidak memaksa dan memilih waktu yang tepat. Ibnu Mas’ud RA berkata: “Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” [Al –Adab Asy-Syar’iyyah].

 Selanjutnya adalah menasehati secara rahasia. Imam Syafii berkata:

 من وعظ أخاه سراً فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وشانه

“Barang siapa menasehati seseorang secara rahasia maka ia betul-betul telah menasehatinya serta memperbaiki perilakunya dan barang siapa yang menasehati seseorang di muka umum maka sebenarnya ia telah menjelek-jelekkannya dan membuka aibnya.” [Aunul Ma’bud]

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah metode dalam memberi nasehat. Terdapat sebuah kisah menarik dalam kitab Hamisy Faidhul Qadir berkenaan dengan metode dalam memberi nasehat. Suatu ketika Sayidina Hasan dan Husein, melihat seorang kakek yang sedang berwudu dengan cara yang salah. Salah seorang berkata: “Mari kita nasehati kakek itu.” Keduanya berkata: “wahai kakek, kami akan berwudu di depanmu dan nilailah siapa yang baik cara berwudunya dan siapa yang tidak!” Setelah keduanya selesai memperagakan wudu mereka, maka sang kakek berkata:

بل أنا والله الذي لا يحسن الوضوء، وأنتما علمتماني كيف أحسن الوضوء

“Demi Allah, Akulah yang tidak baik cara berwudunya, adapun kalian berdua maka telah berwudu dengan baik.”

Ini adalah metode menasehati yang karena keindahannya maka saya istilahkan sebagai seni menasehati. Inilah yang dicontohkan cucu Rasulullah SAW yang penuh dengan kemuliaan akhlak dan tata krama dalam mengingatkan orang lain khususnya yang lebih tua.

Wallahu A’lam.Semoga kita dikaruniai Allah SWT berupa seni menasehati tersebut sehingga peluang keberhasilan dalam setiap nasehat yang kita sampaikan akan lebih besar.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK
%d blogger menyukai ini: