Senangnya Mondok di An-Nur II
“Wah! Mau mondok,” kesan Nauval ketika ia berada di depan Gerbang Biru An-Nur II. Bukan rasa sedih atau keraguan yang ada di dalam hatinya, ia malah merasakan bahwa dirinya sebentar lagi akan merasakan pengalaman baru. Perasaan ini membuatnya senang.
Pagi sekitar jam delapan, Nauval mulai bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat belajarnya. Menggunakan sepeda motor, paman, bibi, dan saudara iparnya ikut andil mengantarkannya ke pondok.
Hari Rabu 05 Juli, Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) mengadakan PSB (Penerimaan Santri Baru) yang berlangsung selama dua hari. Hari pertama untuk jenjang SMA, dan besoknya jenjang SMP. Pada hari itu, para wali santri baru akan menyerahkan buah hatinya ke pondok. Tidak terkecuali untuk Nauval, si santri baru.
Sebab ia sekarang sudah lulus SMP, otomatis ia datang di hari pertama (05/07). Ketika ia sudah berada di pondok, dirinya mendapati masih sedikit santri baru yang datang. Ia bahkan mendapat urutan pertama dalam mengambil kartu kamar dan perlengkapan lain.
Mas Ibnu, panitia PSB juga mengkui hal tersebut. “Pagi sepi, sore tambah ramai,” uangkapnya. Mas Ibnu mengatakan bahwa semakin matahari bergerak ke bawah, intensitas kedatangan santri baru kian bertambah.
Selepas ia mengambil perlengkapan di kantor, ia menuju makam pengasuh pertama, Al-Maghfurlah KH. Badruddin. Kemudian ia akan menuju pendopo untuk sowan ke Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., selaku pengasuh umum pondok. Lalu pergi ke kamar yang akan ia tempati.
Inisiatif Mondok
Santri baru yang berasal dari Desa Bakalan itu mengungkapkan jika keinginan untuk belajar di pondok adalah dari dirinya sendiri. Bahkan sebenarnya semenjak SMP ia sudah memiliki hasrat tersebut. Hanya saja, ada beberapa kendala di rumahnya yang memaksanya untuk membatalkan niatnya.
Namun, kedatangan masalah itu tidak menyurutkan niatnya itu. Di dalam hatinya, ia masih menggenggam komitmen untuk belajar di pondok. Jadi, tatakala masalah sudah beres, ia akan pergi ke pesantren. Ia pun bersyukur, SMA ini, ia bisa menjadi santri di Pondok An-Nur II.
Tekadnya untuk memilih menuntut ilmu di pondok berasal dari lingkungan keluarganya. Ia memiliki banyak saudara dan saudari yang telah menempuh pendidikan di pesantren.
Saudara-saudaranya itu sering menceritkan keseruan hidup di pondok. Ketika ia mendengar pengalaman-pengalaman menyenangkan dari saudaranya itu, ia pun tergerak untuk menimba di pesantren.
Dari awal ia sendiri memiliki kesan baik ke Pondok An-Nur II ini. Semenjak ia melihat gerbang utama, ia berkata, “Bagus!” Tatkala sudah masuk, ia melihat pondok ini memiliki taman, dan ia suka itu. “Suka taman-tamannya,” katanya.
Juga ia sendiri tidak memiliki keraguan dan berat hati untuk mondok. Meski keluarganya pergi melepasnya, ia tetap tidak merasa sedih. Jadi, ia sekarang merasa bahagia masuk ke Pesantren Wisata ini.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)